Tag Archives: #TelukKiluan

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #7

Orang bilang, bisa melihat Pelangi adalah sebentuk keberuntungan, akan ada keinginan yang terkabulkan, hingga jangan sampai lupa mengucapkannya di lubuk hati terdalam ketika jembatan warnanya membentang.

Orang lainnya lagi bilang, bisa melihat Lumba-lumba liar pun akan menjadi keberuntungan tersendiri, hingga jangan sampai terlena oleh pesonanya dan lupa melafazkan inginmu.

Saya bilang, bisa melihat keduanya adalah sebentuk kasih sayang dari Tuhan dan penyemangat yang luar biasa spesial, agar tidak terbersit lelah ketika harus menjawab dan menghadapi tantangan hidup.

Nahhh, kalau Silvie yang bilang, “Aku dapat Tuna, Yu!!”

Aku dapat Tuna, Yu!
Aku dapat Tuna, Yu!

^__^ heuheu.. begitulah.. Penasaran?? Lanjutkan..

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #6

Pagi belum sepenuhnya terbuka. Belum ada ayam jantan yang mengeluarkan suara tenornya dengan lantang. Belum ada kesenyapan yang terusik burung-burung saling bersahutan membangunkan. Damai sekali. Rasanya enggan untuk membuka mata secara menyeluruh, meski dari sela jendela bambu telah terlihat berkas Matahari mengarak naik. Tapi mana boleh begitu malas ^__^ ada geliat yang harus ditemukan dan butuh bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap pergi menikmatinya secara utuh.

pagi menjelang di Kiluan
pagi menjelang di Kiluan

Penasaran?? Lanjutkan..

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #5

Entah mengapa ia dinamakan Pasir Putih. Sama sekali tak tampak wujud butiran pasir nan putih di sepanjang pantai ini. Benturan ombak yang keras berkejaran. Air muka perairan yang berbanding terbalik dengan kedamaian di teluk. Apa pasal ia dinamakan Pasir Putih?? Hemm, mungkin karena sisian pantai ini relatif bersih dan lapang ^__^ itu kesimpulan yang diambil mas Arya ketika si saya bertanya penuh keheranan.

Pak Yani di tepian Pasir Putih
Pak Yani di tepian Pasir Putih

Penasaran?? Lanjutkan..

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #4

Permukaan lantai bambu jelas terasa di punggung yang rebah. Debur tipis air di tepian teluk menjadi lagu tema utuh, bukan sekedar musik pembuka atau penutup. Aroma tumbuhan di sekitar rumah sederhana (yang lebih dikenal sebagai gubuk dan identik dengan ketidakmapanan) menyeruak menggelitik indera penciuman. Matahari kian meninggi, sudah mendekati makan siang. Saya memilih bangun dan berdiam menikmati Awan-awan yang mencumbui Matahari, sesekali menutupi hingga terik pun teduh.

"Ayu in the Wooden Dock,Kiluan Bay" by Dee
"Ayu in the Wooden Dock,Kiluan Bay" by Dee

Penasaran?? Lanjutkan..

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #3

Sebelum bercerita lebih jauh, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu tentang Survey Bareng. Tidak keberatan kan? ^__^

Survey Bareng merupakan kegiatan non-profit yang diorganisir oleh Explore Indonesia (EI), perizinan dan perencanaan sudah termasuk didalamnya. Setiap yang ikut survey ini hanya harus menyiapkan dana patungan, dimana terkadang secara tak terduga ada pihak yang bersedia mensponsori dan jadilah biaya patungan menjadi lebih murah.  Setiap yang ikut survey ini harus menyiapkan diri dengan baik. Ya, menyiapkan diri ^__^ karena kegiatan eksplorasi tujuan wisata yang belum komersil dan seringkali masih perawan pun relatif tersembunyi di Indonesia ini membutuhkan stamina, kemandirian dan mental yang relatif baja. Harus siap capek, harus mau susah, harus kompak berkomunikasi dan kenal satu sama lain, harus saling menjaga, harus saling membantu.

Bagaimanapun Survey Bareng bukanlah trip ~__~ sehingga tak ada perbedaan kasta di sini, semua membaur dan saling bicara saling berinteraksi. Selain itu, survey potensial menghasilkan banyak kejutan yang buat saya sangat menarik untuk dijadikan obyek foto dan diabadikan. Tingkat kepuasannya melebihi trip.

Oh iya, ada satu lagi yang spesial dari kegiatan bersama EI, baik itu survey maupun trip, yaitu Give Them Project. Penasaran?? Lanjutkan..

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #2

Lumba-lumba di laut lepas sana jauh lebih jujur ramah menyapa, belum tertular ambisi manusia. Ketulusannya bisa menular padamu ~__~ memberimu kebahagiaan tak ternilai. Itu yang si saya mau ^__^ itu yang saya cari. Itulah yang membuat saya rela bersusah payah mencapai tingkat kesehatan relatif stabil dan bersabar kala terhadang kemacetan hingga menghabiskan perjalanan Bandung-Jakarta dalam waktu 4 jam, sekaligus berkenalan dengan Pak Bambang.

* * *

^__^ hemm.. bagi Anda yang sudah membaca bagian pertama pasti sudah punya pertanyaan tentang siapakah Pak Bambang itu. Yah, sebenarnya tidak susah menebak juga sih ^__^ karena si Pak Bambang ini adalah Tukang Ojek yang mengantar saya sampai ke meeting-point dengan relatif cepat dan selamat heuheu.

Beliau sempat tergeli-geli dengan suara saya. Pikirnya saya masih belum lulus SMU *hahaayyy..* Penasaran?? Lanjutkan..

Ia Membawaku ke Teluk Kiluan #1

Saya benar terlupa kapan terakhir kalinya saya kehilangan kesabaran dan konsentrasi saat memotret obyek sana-sini ini-itu. Tapi heuheu ^__^ beberapa hari yang lalu saya sukses sempat kehilangan kedua hal tersebut ketika dihadapkan dengan obyek bergerak yang sangat tak mudah diprediksi. Bahkan ketika si saya mencoba memposisikan diri sebagai diri si obyek, benar-benar masih tak mudah mengandalkan naluri.

Obyek apa sih yang bisa membuat kamu begitu, Kuk?? Atau jangan-jangan karena kondisi kamu yang belum 100% fit dan stabil mungkin??

Waduh.. waduh.. jangan bawa-bawa kondisi tubuh dong ^__^ karena di level konsentrasi tingkat tinggi si saya malah lebih sering melupakan lelah dan sakit ~__~ hihihi..

Hem, sebelum keberangkatan berburu obyek “hebat” tersebut si saya sudah dinyatakan relatif kuat kok untuk bepergian (dalam artian “melaut”). Meski banyak syarat sana-sini ini-itu ^__^ yaaa saya tetap pergi karena istirahat panjang sudah menanti di depan mata dalam bentuk kenyataan-tak-terganggu-gugat. Saya tetap pergi dengan ransel yang sebagian kecilnya disesaki madu sachet dan sebotol sari kurma, plus obat-obatan yang tak boleh ditinggal.

Karena obyek “hebat” itu adalah el.. u.. em.. be.. aaaa.. ^__^ Penasaran?? Lanjutkan..