Tag Archives: #Sulukan

padamu aku..

padamu aku datang, menepikan geletar resah dan semacam gigil yang dengan mudah dikenali telah dilahirkan oleh secuil kuatir. betapa aku terlalu pongah untuk berani. betapa aku terlalu yakin menduduki Singgasana Pohon yang masih belum berhenti berjuang bertahan dalam dingin. aku yang kecil apakah telah lupa bahwa aku kecil?

padamu aku datang, membawakan pesan yang telah terjanji akan sampai dalam detikan kirim. betapa aku mengiba pada sedetak Pagi dan meminta dikuatkan Angin. betapa aku berulang terus merayu malu-malu yang tengah menyergap Matahari. betapa aku tak boleh lagi mangkir, menghantarkan kerinduan tujuh purnama Amongraga yang telah dinanti cemas Tambang Raras si Penghidup Hati. aku yang kecil akankah mampu menembus kerapatan Lorong Lintas Dimensi?

padamu aku datang, bersikeras mengabaikan ragam rupa tatapan para Tua-tua Pepohonan juga ketakpedulian Kabut yang tak pernah mau dititah demi selembar Biru Langit penanda geliat gairah. betapa aku terlalu pongah untuk berani. betapa aku terlalu yakin mempercayakan tubuhku pada Singgasana Pohon yang bahkan nyaris tak percaya diri. aku yang kecil bisakah menghangatkanmu demi mengentaskan janji?

padamu aku datang dengan sepenuh-penuh diri. padamu aku datang dengan semegah-megah hati. padamu yang mungkin belum sempat bersiap untuk lebih mempercantik diri.

(foto oleh  Sjuaibun Iljas)
(foto oleh Sjuaibun Iljas)

– – – – – – –
di satu sisi Badan Puncak Patuha, menghadap ke arah Kawah Putih, di duapuluh satu yang jauh lewat dari pertengahan Juli. dipotret Pak Sjuaibun Iljas ketika tengah memenuhi janji melantunkan sepupuh Suluk yang merupakan sebagian kecil dari Serat Centhini untuk Pak Kobayashi (Fendi Siregar). hasil rekam gerak dan suaranya oleh Mas Bongky juga dapat dinikmati di bawah ini.

kerinduan Among Raga

pernah mendengar tentang Serat Centhini? pernah membaca karya abad XIX dari tiga orang Abdi Dalem Kasunanan Surakarta (Kyai Yasadipura I, Kyai Ranggasutrasno dan Raden Ngabehi Sastradipura) tersebut dalam bahasa asli atau sekadar terjemahan?

aku sudah pernah mendengar, sudah pula membaca, dan entah kenapa tertuntun begitu saja untuk kemudian menembangkan sebagian isinya. bukan, bukan atas kemauan sendiri, melainkan berdasarkan permintaan khusus dari seorang Pak Guru yang pernah mengungkap sisi lain Serat Centhini lalu menuangkannya dalam karya foto.

tentu aku belum sampai pada kemampuan bisa mengkomposisikan Tembang Suluk Pesisir demi memenuhi permintaan tersebut (jangan-jangan mesti belajar memainkan Gender juga ya? hemm). jadi, aku dibantu penuh oleh Pak Bram. mulai dari memilihkan lirik mana yang sekiranya bagus dan bermakna bila dinyanyikan, sampai menata notasi yang pas.

Komposisi ke-1 entah kenapa tidak kurasa bersesuaian ketika dicontohtembangkan oleh Pak Bram. menurutku terlalu pria, kurang tepat jika dicampuri tingkah suaraku. aku sudah sekali mencoba. akhirnya ya sudah, aku berangkat survey dengan Tim 3G ke Teluk Ciletuh meninggalkan pe-er buat guruku.

Komposisi ke-2 baru diselesaikan dan baru diujicobakan di Sabtu (1 Juni 2013) lalu. kami tidak langsung merekam, karena kami sama sepakat ada bagian yang masih perlu diubah meski tidak seluruh bagian (sebagaimana yang terjadi pada Komposisi ke-1).

nah, rekaman berikut ini adalah hasil latihan kedua (tepatnya hari Minggu kemarin, 2 Juni 2013) untuk komposisi yang aku pilih dan sudah diperbaiki. apakah sudah tepat atau belum — tanpa mempersoalkan suara dan napas yang sedang kurang fit dan kurang panjang — menurutku sih sudah mendekati tepat. hanya saja aku masih harus lebih memahami makna lirik pilihan Pak Bram tersebut agar bisa lebih tepat membawakannya (etapi sebenarnya lucu karena ini kan dari Among Raga untuk Tambang Raras ya? berarti akan lebih sangat tepat lagi jika yang membawakan adalah pria loh -_-a).

selamat menikmati. semoga berkenan ~_~

dhuh yayi Tambang-Raras garwaningsun, puspitaningsun sawiji, wuyung kepati sajatiningsun, sapta purnama tan panggih lan sira, manguwuh-uwuh jenengira..

rinengga Sasadara kang purnama, lelamatan pindha lelayangan, citranira anglila sajroning netra, lamat-lamat kadi amanguwuh..

dhuh yayi Tambang-Raras mustikaningsun..

. . . . . . .
duh dinda Tambang-Raras isteriku, bunga hatiku seorang, rinduku tak terkatakan sebenarnya, tujuh purnama (aku) tak berjumpa dirimu, kupanggil-panggil namamu selalu..

berhiaskan bulan yang sedang purnama, samar-samar bagaikan (dirimu) membayang, bayangan dirimu (selalu) dalam pandangan mata, samar-samar bagaikan (engkau selalu) memanggil..

duh dinda Tambang-Raras permata hatiku..

Kepiluan Rahwana

Sekretariat PSTK ITB selepas Maghrib. akhirnya (sejak sekitar pertengahan Desember tahun lalu mulai berlatih) aku punya keyakinan & keberanian untuk nembang sendiri. padahal sepanjang latihan kali ini tidak sedikit pun Pak Bram menanyakan secara halus seperti biasa, “gimana? berani sendiri?“. kali ini aku yang meminta. kali ini aku yang bersedia. sementara Pak Bram tersenyum riang seperti banyak biasa, memainkan Gender Barung Laras Slendro dengan caranya.

pilihanku jatuh pada satu tembang yang bisa dinyatakan pertama kali dikenalkan di awal-awal latihan Sulukan. entah kenapa. tapi aku bisa memastikan semata bukan karena maknanya. aku menyukai padu-padan Nada di dalam tembang tersebut. ketika Pak Bram kemudian menceritakan perihal sana-sininya, aku cukup terkejut juga. sungguh pilu. bahkan Rahwana bisa seperti itu.

kingkin saya markiyu..  rinasa saya karasa.. 

harus aku akui, bukan hal mudah menjangkau semua tinggi Nada-nada pembentuk lagu ini. meski aku sudah tahu bagaimana caranya bernyanyi, meski aku sudah mulai paham bagaimana mengelola kecukupan nafas, tetap saja masih ada cela di sana-sini. namun yang terlontar dari mulut Pak Bram hanyalah sebentuk puji. belum lagi kemudiannya tanpa merasa perlu menutupi, Pak Bram mengakui beliau sampai mbrebes mili, terharu mendengarkan rekaman debut nembang ku berkali.

16 Maret 2013. Pak Bram sama bersepakat denganku untuk menandainya sebagai tanggal penting karena telah terjadi satu hal penting. terlepas akan mengarah jadi apa nanti, aku tidak ingin kehilangan rasanya menikmati setiap kali berada di tengah pusaran Nada-nada yang diudarakan Gender dan Rebab setiap kali aku berdiam belajar di ruang PSTK bersama seluruh adik-adik di sini.

mung sira pepujaningsun.. sesotya pindha pepadhang.. jroning kalbu salawasnya..

Sendhon Tlutur Gagrag Pesisir Jugag — Sendhon, Laras Slendro Pathet Nem: kepiluan Rahwana perihal rundung kedalaman sebuah cinta bertepatan duka kehilangan adik yang diam-diam disayanginya. jika kemudian kisah ini dapat tersampaikan dan bisa dinikmati nun di dalam hati, sungguh: terima kasih ~_~

..