Tag Archives: #Subang

berjalan-jalanlah hingga menemukan

kali ini Tim 3G singgah ke Subang Selatan, mengunjungi Curug-curug (Air Terjun) yang ternyata sungguh aduhai. di tengah perjalanan — tepatnya di dekat Curug Cilemper — ada sekelompok Kupu-kupu Unik yang baru pertama kali ini kami lihat.

apa keunikan Kupu-kupu tersebut? mereka menyemprotkan cairan dari bagian belakang tubuhnya ketika tengah mendarat di tanah basah. rentang waktu antara satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya berada di kisaran 1.8 – 1.9 detik. semua sibuk menduga-duga cairan apa sebenarnya yang sedang disemprotkan. maklum, belum ada satu pun dari kami yang tahu.

jadi, Kupu-kupu jenis apakah ini? cairan apa yang disemprotkan dari dalam tubuhnya itu? penasaran sekali 🙂

Hadiah Perdana 35!

kemarin (7 Juli 2013) butuh waktu sekitar dua hingga dua setengah jam berjalan kaki untuk mencapai Curug (Air Terjun) yang dinamai Cileat itu. rute kombinasi mendaki dan menurun, jalan tanah dan berbatu, setapak kering dan basah, melalui tiga Air Terjun pula sebelumnya, temuan (calon) Kopi Luwak di sisian jalan, berkenalan dengan Pohon Uyun; sesungguhnya ini benar-benar perjalanan yang menyenangkan.

butuh waktu tak sampai tiga puluh menit untuk mengelilingi Curug Cileat tersebut. menyusuri setapak, mlipir ke kanan, mendaki sembari berpegangan pada Bebatuan dan menyapa langsung para Rumput dan Lumut dengan telapak tangan, berjibaku dengan Hujan Badai dadakan, tertakjub-takjub bersandar pada dinding di balik jejatuhan Air dan meLangit dari sana; sesungguhnya tak ada pertanda apa-apa yang mengusik dalam penyusuran turun pula, sampai kemudian DEBAAAAAAM!!!

Kevin yang berjalan tak jauh didepan berbalik, Kang Yudi juga; sementara aku masih dalam posisi sama dengan saat jatuh mencium Batu Datar (alhamdulillah ya itu Batu berpermukaan datar) yang dialiri Air. aku sudah bersiap jika ternyata si Tulang Hidung yang cedera, tapi dipikir-pikir kok ya tidak mimisan. aku mengumpulkan kesadaran, tidak langsung bangun, tapi merasa asin di mulut. kuludahkan: itu Darah! aaah, ternyata, ada satu Gigi yang patah di posisi depan sebelah kiri (istilah Bu Dokter Gigi tadi: 1.1 fraktur) dan satu Gigi terasa nyeri goyah (bagian ini disebut 2.1).

tidak ada Airmata. nyut-nyutan sih sudah pasti iya. cukup lama aku berbaring telungkup sesuai posisi jatuh itu demi mengumpulkan Nyawa yang rasanya sempat melayang beberapa saat. masih juga sempat berpikir kenapa itu kaki kiri malah menapak di Batu Datar padahal bagian kanan sudah siap menginjak dasar. padahal apa susahnya menerima ya memang sudah mesti jatuh begitu kan? hehehe.

penanganan pertama adalah meminum Pereda Sakit yang memang selalu aku bawa-bawa. langsung kutelan dua butir karena sadar perjalanan pulang masih membutuhkan kesadaran dan tenaga. Kang Ari urun sumbang Pereda Sakit lainnya juga untuk jaga-jaga jika yang sudah kuminum hilang khasiat. Kang Deni mengabadikan wajah baruku dengan smart-phone-nya. aku jadi lebih diam jelas iya. yang lain pun tak banyak bertanya, malah beberapa kali mengajak bercanda meski dalam hati mungkin cemasnya tak kira-kira (pe-de-be-neuuuur, kuk, hihihi). satu hal yang kemudian aku putuskan untuk dengan cepat dilakukan adalah: cepat jalan! bukannya apa. tubuhku sudah mulai gemetar. apa mau tiba-tiba napasku lebih tak normal padahal rasa sakit sebagai dampak jatuh juga mulai menyebar? perjalanan harus diselesaikan dulu lah, baru boleh pingsan ~,~

begitu sampai di tempat Kendaraan Dinas diparkir, Pak Oman langsung memintakan izin pada penduduk setempat agar aku bisa ikut menumpang mengganti pakaianku yang basah di salah satu rumah mereka. sesudahnya, aku pun mematuhi saja untuk mengganjal perut dengan semangkuk Mi Rebus Instan plus Telur yang kuhabiskan dengan begitu anggun dan sangat berhati-hati. dalam perjalanan menuju Bandung (dengan deraan macet di beberapa titik) aku memilih mendengarkan Lagu-lagu kesukaanku dan tidur. saat itu tubuh mulai terasa demam. berlanjut pula sampai jauh larut malam.

hari ini (8 Juli 2013), aku sudah mengunjungi kembali RSKGM di Martadinata itu untuk periksa juga demi mendapatkan Obat yang tepat. dari hasil foto rontgen, diketahui bahwa saraf si Gigi yang patah rusak, harus dirawat dan dipulihkan terlebih dulu sebelum bagian yang patah itu diperbaiki. sementara si Gigi yang labil diharuskan diperlakukan lebih hati-hati agar pulih sendiri, kebetulan tak ada masalah di sana selain “rasa aneh” yang muncul sebagai dampak trauma.

ada yang bilang sudah saatnya aku berhenti pecicilan. ada yang menyayangkan, “duuuh kamu kan perempuaaaan”. ada yang begini-begitu-macam-macam. tapi, sebagaimana yang kemarin Kang Atep katakan, “itu sudah resiko.” dan aku penuh sadar mengiyakan ~_~ loh, iya kan? selalu ada resiko yang harus ditanggung untuk setiap pilihan kan? jadi, aku tak punya alasan untuk bersedih berlebihan.

masih terasa pusing, masih sangat terasa nyut-nyutan, makan pun harus pelan-pelan. dan semua itu perlahan akan mereda, membaik, aku kembali pecicilan, sepertinya *_*

Bebatuan Cileat, terima kasih untuk Hadiah 35 lebih awalnya yaaaa ~,~/

(foto oleh kuke dan Deni Sugandi)
(foto oleh kuke dan Deni Sugandi)

mengenal Uyun

Uyun, begitu masyarakat Cibago menyebut si Halus-halus Hijau yang dijemur tanpa kuatir akan diinjak siapa/apa pun yang lewat di jalanan depan rumah mereka. tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai Sapu dan konon seratnya kuat. di beberapa menit awal perjalanan menuju Curug Cileat, ada pula aku dapati tanaman tersebut senyum-senyum di pinggir curam.

aku penasaran. ketika sudah kembali merasakan hangatnya kamar, aku bersegera mengganjal si Modem Patah demi terkoneksinya aku dengan Lembaran Maya Pengetahuan. aku coba mencari tahu tentang Uyun perlahan, meski dampak jatuh di Curug Cileat sudah siap-siap membuatku lebih awal hilang kesadaran.

satu hasil pencarian. dua hasil pencarian. tiga, empat, lima, enam. ah, sepertinya aku harus menunda rasa penasaran. sepertinya hari ini memang dicukupkan dulu saja pada sebuah perkenalan dengan si Halus-halus Hijau Uyun yang menerbitkan keingintahuan.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)