Tag Archives: #rumahku

dekap Biru Pagi

aku membaui jalan menuju Rumah. godaan semburat Jingga yang berasal dari Matahari kala terbit sedikit tertampik kerinduan tanpa titik-titik. aku mengakrabi ramah gelombang Selat. tak ada hela Angin yang tertahan dua lengan bersedekap. aku menemukan jalan pulang menuju Rumah. dalam segenap Biru rupa-rupa wajah, aku mampu melihat Batari Ibu malah menitahkan masa tunda. ah! kenapa?

Jingga bersegera memanggil para Awan bersaudara. meninggalkan ujungan Jawa biar Raung sekeluarga bersih Biru saja di sana. sementara Gerbang Bali alih makin warna-warni tak kenal sahaja. tak bisa dihindari mata juga rasa perih sudah. Rumah Ujung Cakrawala. segala kembali harus ditunda.Poseidon yang menghiba tak kena di hati inangnya. aku harus bagaimana?

dekap Biru Pagi menguat dengan alasan. biar perih kenal waktu tanda. biar perih tak menelan menggulungku semena-mena. biar cuma senyumlah saja yang tertangkap Rumahku di Ujung Cakrawala berbelok ke sudut sana. biar tumpukan rindu-rindu tak menggelinding percuma terbawa Angin Laut yang nyata. dan segala naluri Batari Ibu yang telah siap menyambut berlimpah kenikmatan aroma dicukupkan seadanya saja.

aku membaui jalan menuju Rumah. aku tak mau memberi kesempatan pada kecewa. selambai dua lambai dan nyanyian kuhaturkan bergema. kita semua kembali saling menantikan masa-masa bersama dengan bersama adanya. seperti biasa. seperti sebelumnya.

dekap Biru Pagi (foto oleh Gelar TK)
dekap Biru Pagi (foto oleh Gelar TK)
Advertisements

Rumah Ujung Cakrawala

Rumahku di sana. Ujung Cakrawala itu. ikuti teruuusss saja. sampai nanti kau bertemu Batari Ibu dan Poseidon di Dapur Rumah. mereka pasti sedang menyiapkan rupa-rupa masakan kesukaan demi menyambutku yang pulang ~.~ ya. aku. yang pulang. dengan begitu banyak limpahan kesukaan *_* ya. karena aku.. p-u-l-a-n-g ~3~

Rumah Ujung Cakrawala (foto oleh Kuke)
Rumah Ujung Cakrawala (foto oleh Kuke)

ada Senja tak Jingga

Ibuku bercerita tentang Senja yang tak Jingga. sambil menanak Nasi cukup seBakul. sambil menggoreng Ikan cukup sePiring Kaleng kecil. sambil mengulek Sambal biar kami berempat lahap makan berlanjut tidur nyenyak. sambil memainkan musik pengiring berupa derak-derak Amben Anyaman yang kini sedang jadi bagian Dapurnya. Malam nanti, itulah Kasur kami.

Ayahku masih di Bibir Teluk. terus memanen Abu dari dasar dan atas Laut. terus bernyanyi biar Angin tak galak seketika. Adikku yang turut di Perahu Kayu tertawa-tawa menyulut Penerangan sembari berjudi akan teraihnya Biru. maka larilah aku ke Dermaga ketika lambaiannya sampai di kedua mataku. sambil lepaslah kedua Sandal Jepit yang beda warna satu sama lain. sambil lepaslah Doraemon yang membungkus tubuhku. Ibuku teriak pasal aku yang serampangan. debur Air sudah jadi jawabannya.

aku memang tak mau menanti di Dermaga. takut rasanya bila benar cerita Ibu bahwa Senja tak Jingga itu ada. itulah kenapa. biarkan saja untuk sementara itulah asalnya kenapa sudah kurenangi saja Kedamaian Teluk sampai batas Perahu Ayah. pun bila tetap harus kudapati kenyataan ada Senja tak Jingga, telah kucumbui mesra Laut yang kuyakini selalu dicintai kehangatan penghantar tertutupnya sepasang Kelopak Mata Matahari hingga tiba Pagi berikutnya.

Ibuku bercerita tentang Senja yang tak Jingga. Ayahku meninggalkan Bibir Teluk dengan Perahu Kayu penuh Abu dan sisa Biru. Adikku bantu menghangatkan tubuhku yang berenang cukup jauh. kami membiarkan lihatan kami dilibas kenyataan seperti cerita Ibu. ada Senja tak Jingga.

ada Senja tak Jingga. Teluk Kiluan. 2010 (foto oleh Kuke)
ada Senja tak Jingga. Teluk Kiluan. 2010 (foto oleh Kuke)

Jiwa tak pada Tubuh

apa jadinya ketika Jiwa tak pada tempat semestinya? akankah Angin tetaplah bernama Angin? akankah Laut masih bertajuk Laut? lalu Tubuh bahagia mempersunting degupan Jantung yang padu? Waktu lebih suka terenggut sekian kepentingan sehingga pertanyaan terlupakan sebagai pertanyaan. tak ada kehilangan tercatat di Senja. tak ada kehilangan dicari pada Pagi. maka apa jadinya ketika jiwa tak pada tempat semestinya? Tubuh harus terus berakhir tanpa ada jeda luka pantas ditutup desiran renjana buncah?

apa jadinya ketika Jiwa tak pada tempat seharusnya? akankah aku tetaplah aku dan kau hidup sebagai dirimu?

nun. Krakatau. 2010 (foto oleh Kuke)
nun. Krakatau. 2010 (foto oleh Kuke)

tunggu aku pulang

kakiku bersegera. bukan terseret, bukan melangkah. lelarian lah keduanya. mengalahkan Pasir. mengalahkan Angin. mengalahkan cipak-cipak Air. mengalahkan arus berlawanan. menyambut Nyanyian Selamat Datang yang sudah macam pelengkap seremoni antara aku, Burung Laut, Lumba-lumba, dan Bintang-bintang yang bergegas mencuat dari dasar. Waktu mengutus para Detik menyaksikan Baruna yang ulurkan selembaran Jingga tepat di atas Cakrawala. ia ingin utuh bisa kulihat sebagai penanda. iya. penanda. Rumahku. di sana. di Ujung Cakrawala tepatnya. tak lupa ada titipan Pesan Rahasia yang Baruna selipkan pada Utusan Khususnya. sekedar membukakan berita bahwa Poseidon sudah memasakkan Sup Rumput Laut yang resepnya ia ambil dari Dapur Rahasia Kerajaan Laut. astagaaa.. beraninya ya? hahaha.  Penasaran? Lanjutkan..

panggilan dari laut

kau akan salah menempatkan sangka jika hanya menunjuk pada biru, pada turquoise, pada segerumbulan pohon, pada gugus dataran yang menghamba hilang, pada rengkuh halus pasir, pada raut tenang, bahkan pada gelegak darah paus dan hati murni lumba-lumba.  karena bukan itu. bukan semata semua itu. bukan suara panggilan mereka yang paling mendominasi hingga kemurnian panggilan semacam perlu diragukan. kau sudah salah. selalu adanya meresah salah. lalu tak mau menerima. lalu tak mau salah. sementara di langit gores takdir sudah tak terhapuskan. aku bukan pikiranmu. aku bukan hatimu. aku adalah hati dan pikiranku.

kau akan salah mengarahkan panah gairah ketika hanya sibuk-sibuk mengikut cari dengar, menguntit cari tahu, mengagumi dengan ragu, melahap habis tanpa kenali paham, menapaki tanpa menyentuh samudera dan pasir, meninggalkan hatimu di belakang pikiran dan semata lihatan. Laut tak akan membuka hati jika tak bertemu hati. Laut tak akan sedia dipahami ketika paham kau datang tak dengan hati. jelas di langit gores takdir sudah tak terbantahkan. Laut bukan pikiranmu. Laut bukan hatimu. Laut adalah hati dan pikirannya.

kau akan dengan mudah salah mengartikan mana kala di upaya ke-seribu kali-mu Laut tak mau memperdengarkan dirinya tanpa kecuali. tak akan pernah itu menjadi salahku. tak akan pernah itu menjadi tanggung jawabku. tak akan pernah itu menjadikan kau sebagai aku, aku sebagai kau. bahkan ketika kini aku tengah bergelimangan panggilan dari Laut yang terus mengikis dinginnya sekitaran tempat tahannya berdiriku, tak ada jaminan kau akan sama dengar. karena kau bukan aku. karena hatiku bukan hatimu. karena pertautan hatiku dan Laut adalah kami saja. hanya kami saja. tak tahu kapan akan jadi milikmu.

Pulau Kepa - Alor (oleh: Arya Sadhewa)
Pulau Kepa - Alor (oleh: Arya Sadhewa)

.

*keterangan:

foto Pulau Kepa – Alor di atas diabadikan oleh mas Arya Sadhewa di pertengahan November 2011 ini dalam rangkaian perjalanannya ke Indonesia Timur. 

Surat Rindu Buat Laut

Laut terkasih, belum ada yang bisa menggantikan debaran tiap kali kau memanggilku. Belum ada yang bisa menerbitkan gairah mengubun selayaknya terumbu-terumbu. Bahkan obsesi menemukan Nemo AKA Clown Fish sempat memekakkan telingaku yang melaju terlalu jauh kedalammu. Masih susah menjelaskan artimu bagiku. Karena yang aku tahu, aku terjerat pesonamu sampai lupa untuk terpaku lebih dari duapuluh lapan menit.

Aku mencoba menelusuri waktu, mengingat-ingat kapan semuanya bermula antara aku dan kau. Bisa jadi semua piknik keluarga ke Pantai Sialang Buah di Sumatera Utara sana yang meninggalkan kesan mendalam bagiku. Bisa jadi capitan kepiting di masa kecilku itulah yang jadi pengikat pembuluh. Bisa jadi protes masa lalu karena Laut selalu menyakiti mata dan telingaku. Bisa jadi Penasaran?? Lanjutkan..