Tag Archives: #PerginyaHati

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #7

08.08.2010: Harunya Rayuan Pulau Kelapa, Kontemplasi Kebebasan

Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur, pulau kelapa yang amat subur
pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala..

Melambai-lambai nyiur di pantai, berbisik-bisik raja kelana..
Memuja pulau nan indah permai.. tanah airku.. Indonesia..

[Rayuan Pulau Kelapa – Ismail Marzuki]

(Rote) Sisi Cantik Lainnya
(Rote) Sisi Cantik Lainnya

Meski aku sedikit bertanya-tanya, “Anak-anak sekarang kenal lagu Rayuan Pulau Kelapa ga sih ya??“, masih tersisa sedikit optimisme bahwa generasi-generasi sebelumnya yang seumuran denganku atau yang lebih tua dariku mengenal lagu ini. Penasaran?? Lanjutkan..

Advertisements

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #6

07.08.2010: Pesona Bo’a dan Senja Pertama di Nemberala

Entahlah bagaimana cara kerja Tuhan memberikan begitu banyak lagu tema di sepanjang perjalanan berjarak 8 Km dari Nemberala menuju Bo’a, telinga dan keriaan dihatiku tak kunjung bertemu senyap ~_~ meski yaaa.. lagu-lagu yang terngiang ditelingaku dan yang dibawakan deru Angin bertabrakan laju Oto tak selaras dengan lagu-lagu yang diputar di music-player Dolarosa ^_^

dan entah kenapa Angin membawakan aku nada-nada serupa nada yang termaktub dalam Star of The Winds-nya Irfan.. hemmm.. *jadi keingetan siapa ya?? adaaa.. pastinya ada.. hemm.. kira-kira elu suka perjalanan kayak gini ga ya?? ntar kapan-kapan gw ajakin.. kalo elu mau..*

Bo’a?? Ada apa di Bo’a, Kuk??

Pantai ^_^ Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #5

07.08.2010: Rumah Raja, Anugerah dan perkenalan dengan Nemberala

Laparrrrr >,< sudahlah itu tak bisa diganggu gugat oleh siapa pun dan pihak mana pun, bahkan.. a-p-a pun! Kebutuhan mutlak yang potensial tak kenal jam-hari-dan-waktu *tiba-tiba melintas lirik Paman Doblang ya?? hemm.. begitulah aku.. heuheu..*

Tapi.. tapi.. sebentar ya.. sabar ~_~ aku ceritakan dulu ya apa yang kami temui sebelum pada akhirnya merangsak lapar begitu sampai di tujuan.

Dalam perjalanan menuju Nemberala, kami sempat singgah di Rumah Raja yang terletak persis di pinggir jalan Ba’a – Nemberala. Jika dilihat sekilas, rumah ini jauh berbeda dengan rumah-rumah Raja ala Melayu, Jawa dan Pasundan *Kalimantan, Sulawesi, bagian Indonesia Timur belum dijamah, jadi aku ga bisa bandinginnya..* apalagi jika ingin dibandingkan dengan rumah-rumah pejabat dan petinggi negara zaman sekarang ^_^ sangat jauh berbeda. Tapi di sini memang benar pernah tinggal seorang Raja ~_~ keren kan?!

singgah ke Rumah Raja
singgah ke Rumah Raja

Kalau tidak salah ingat Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #4

07.08.2010: Menyibak lapisan pertama tirai Rote

Pulau Rote (sumber: Wikipedia)
Pulau Rote (sumber: Wikipedia)

Kepulauan Rote, juga disebut Pulau Roti, adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Rote merupakan wilayah paling selatan Indonesia. Pulau ini terkenal dengan kekhasan budidaya lontar, wisata alam pantai, musik sasando, dan topi adat Ti’i Langga. Rote berstatus sebagai kabupaten dengan nama Kabupaten Rote Ndao melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002.

Kepulauan Rote terdiri atas 96 pulau, 6 di antaranya berpenghuni. Wilayah ini beriklim kering yang dipengaruhi angin muson dan musim hujan relatif pendek (3-4 bulan). Bagian utara dan selatan berupa pantai dengan dataran rendah, sementara bagian tengah merupakan lembah dan perbukitan. pulau ini dapat dikelilingi dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur, daerah ini bisa dicapai dengan angkutan laut maupun pesawat terbang. Lalu lintas barang dan jasa umumnya mengandalkan kapal feri yang setiap hari melayani rute Kupang-Baa sekitar empat jam. Rute lain, seperti Makassar dan Surabaya, dilayani oleh perahu dan kapal motor dari pelabuhan rakyat (Pelra), seperti Papela (Rote Timur), Oelaba (Rote Barat Laut), Batutua (Rote Barat Daya), dan Ndao (Pulau Ndao). Jalur udara sampai sekarang hanya seminggu sekali.

(sumber: Wikipedia)

Dengan penuh kesadaran tanpa mandi pagi *tenaaanggg.. malam sebelum tidur kan udah mandi si aku heuheu..* dan berusaha untuk tidak lupa sholat Subuh, aku bersiap sekenanya. Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #3

06.08.2010: Ekspresi Senja Lasiana & Kampung Solor yang nikmat

Tarian Senja Lasiana (model: Indra Febriansyah)
Tarian Senja Lasiana (model: Indra Febriansyah)

Tiap detik mana raga dan jiwamu tergerak liuk bersama Angin, sandingan Matahari terhantar Senja menuai alunan luas Lautan Air. Cakrawala menjadi panggungmu, bukan sekedar pasir. Ketika kau memilih pergi, itulah saatnya Hati meminta ditambatkan meski tanpa sendiri. Tanah Timur.. Tanah Timur.. susah memungkiri ruahnya renjana meminta kembali. Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #2

06.08.2010: Restoran Nelayan & Oenesu – Kupang

Selamat datang di Kupang!
Selamat datang di Kupang!

Aroma yang berbeda. Ritme jantung dan deru nafas yang berbeda. Lingkupan Udara yang berbeda. Biru Langit yang berbeda. Ketegasan liuk dan rona kulit pepohonan yang berbeda, pun dedaunan yang bergelayut manja. Intensitas terik Matahari yang berbeda. Bahasa dengan logat yang berbeda. Gesture yang berbeda. Seandainya kedua mata ini ditutup pun aku akan bisa langsung mengenali, ini sudah tanah yang berbeda.

Selamat datang di kota Kupang yang merupakan pusat pemerintahan daerah Nusa Tenggara Timur!

Hal pertama yang kami berenam (Maia, mbak Henny, Lucy, Indra, Mario, aku)  lakukan begitu sampai di El Tari adalah Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #1

Black back-pack, Red jacket
Black back-pack, Red jacket

06.08.2010: Bandung – Jakarta – Kupang

Tumpukan jelaga sepi dini hari buyar diterjang wajah tak berhidung si Kotak berjendela yang berisi beberapa manusia dengan tujuan sama, Bandara Soekarno-Hatta.

Aku sudah merelakan sebentuk pamit pada ia yang mengantarku sampai ke pool shuttle-bus Cipaganti.

Aku sudah mengucapkan “Selamat Tinggal” pada Bandung dalam senyap berbalur doa untuk kemudian memejamkan mata dan tidur.

Perjalanan masih panjang.

Ke mana lagi kaki-kaki mungilmu akan melangkah kali ini, Kuk??

Melunasi salah satu hutangku pada impian ^_^ ke Tanah Timur (baca: Timor & Rote) meninggalkan jejak di beberapa bagiannya *padahal pengennya mah semua tuuuhhh.. sayangnya lupa bawa passport.. heuheu..*

Tepat pukul 00.00 WIB di 6 Agustus 2010, aku meninggalkan Bandung dengan debar-debar yang senantiasa muncul di setiap perjalanan baru yang akan aku lakukan ~_~ Penasaran?? Lanjutkan..