Tag Archives: #PerginyaHati

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #14

10.08.2010: Sampai Nanti, Rote

Rasa berat tak bisa dijadikan dalih untuk tetap tinggal. Berkali-kali aku bersikukuh pula tak mau mengucapkan “Selamat Tinggal”. Aku masih ingin kembali, bukannya berlalu dan tak datang sekali-kalinya lagi. Hanya sajaaa.. ya itu tadi.. rasa berat tak bisa dijadikan dalih untuk tetap tinggal di Rote.

Kami berlima: mas Arya, Maia, mbak Henny, Lucy, dan aku menikmati sarapan pagi terakhir kami di Anugerah. Mama Be’a dan anak perempuannya, nona Ike, menemani berbincang dan bertukar alamat e-mail dan nomor ponsel yang bisa dikontak dengan mas Arya dan Maia. Para turis asing yang jumlahnya lebih banyak dari kami di ruang makan itu dijamin tak mengerti apa yang kami bicarakan, tapi paling tidak bisa menebak dari tampilan kami yang lebih rapi dari pagi sebelumnya dan bahasa tubuh saja ~_~

Sarapan Terakhir di Nemberala bersama Mama Be'a & cucunya, juga nona Ike
Sarapan Terakhir di Nemberala bersama Mama Be'a & cucunya, juga nona Ike

Dolorosa kembali membawa kami melalui jalan yang sama seperti saat meninggalkan Ba’a menuju Nemberala, bedanya kali ini arah yang ditempuh adalah sebaliknya. Musik ajeb-ajeb sedang dibuat minggat sejauh-jauhnya oleh mas Arya yang duduk di depan, berganti lantunan merdu Andrea Bocelli ~_~ hemmm.. Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #13

09.08.2010 : Senja Emas Nemberala, Senja Perpisahan

Satu. Tiga. Satu. Empat. Dua. Satu. Dua. Satu. Tiga. Dua. Satu. Ahhh.. aku cukup terkejut dengan kenyataan sudah berhasil menemukan lebih dari sekedar 1-2 Bintang Laut gendut lucu ketika harus melalui Padang Lamun Pantai Nemberala yang sedang surut jauh.

Kapal kayu tak bisa merapat lebih dekat, jadilah kami harus rela turun lalu berjalan melalui air setinggi kira-kira selutut sampai sepaha sampai ke tepi pantai *kan kami berlima: mas Arya, Maia, mbak Henny, Lucy, aku.. tinggi badannya variatif.. heuheu..*

Menunggu kano kecil ya si Air tak terlalu tinggi juga untuk dilalui. Para Peselancar asing yang baru pulang pun berjalan ke tepi ~_~ ya sudah.. ikut berjalanlah kami melintasi rerumputan Laut yang tumbuh di pasir.

Bintang Laut yang menyambut di Nemberala
Bintang Laut yang menyambut di Nemberala

Satu. Tiga. Satu. Empat. Dua. Satu. Dua. Satu. Tiga. Dua. Satu. Baru kali ini aku melihat jenis yang seperti itu *lihat deh.. lihat gambar Bintang Laut gendut warna Oranye berhias Ungu-kehitaman..* ^_^ dan baru sekali ini juga aku mendapati ada orang yang geli-hebat demi mendapati dirinya tengah berada di antara belasan bahkan mungkin puluhan Bintang Laut. Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #12

09.08.2010 :: Biru-nya Ndao, Azure-nya Do’o

Bunda Bumi, Ia menyambutku dalam Biru yang entah kenapa jadilah kucinta
tak selekuk pun Awan kulihat turut menyambut
adanya hanyalah Pepohonan dan keheningan takzim merenggut
menurunkan kepala, meluruskan punggung,
berucap “Selamat Datang” pada hatiku
yang terlalu lama tak tahu rasanya pulang bersambut

Bunda Bumi, sekali ini aku merasa sungguh Kau, Dia, dan Mereka cintai
pasti telah pergilah rasa sepi, pasti telah pergilah rasa matinya hati
patrilah Biru ini dalam sepenuhnya aku, biar aku kenal kata “kembali”

Selamat Datang di Ndao
Selamat Datang di Ndao

Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #11

09.08.2010 : Sebiru-birunya Biru Langit Ndao menyambut

Pulau Ndao berjarak sekitar 10 km Barat Nemberala, sementara Do’o sudah tak jauh dari Ndao dalam kisaran 15 – 30 menit (bergantung keadaan gelombang). Keduanya merupakan bagian dari 6 (enam) pulau berpenghuni dari 96 pulau yang termasuk dalam area Kabupaten Rote Ndao. Ada hari-hari dimana beberapa orang penduduk Ndao datang ke Anugerah (dan juga beberapa homestay lainnya di Nemberala) menawarkan Tenun Ikat pada para wisatawan. Dibanding membeli dari mereka yang datang, kami jauh lebih tertarik untuk mampir ke Ndao. Karena selain pusat kerajinan Tenun Ikat khas Rote, Ndao dikabarkan memiliki pantai yang cantik.

Sarapan Pagi kami
Sarapan Pagi kami

Jadilah pagi itu, seusai menghabiskan sarapan yang nyaris seragam berupa Roti tawar panggang, plus Telur Mata Sapi (yang tak lagi setengah matang) dan Crepes plus jus Pisang *cuma mas Arya nih yang milih Nasi Goreng.. jus Pisang-nya mah sama.. * kami berangkat menuju Ndao penuh suka cita ~_~ sempat terbersit dibenakku,

“Dua hari ngerasain sarapan di Nemberala.. rasanya kok jadi kayak atlet ya?? Heuheu.. “

Setelah sempat berbasah-basah demi diterjang ombak Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #10

08.08.2010 : Oeseli, kami datang dan pergi

Pohon tua dan juntaian akar-akarnya di satu sudut jalan seakan penuh selidik menatap kami berlima yang datang dengan 2 (dua) motor. Entah hanya perasaanku saja atau memang atmosfer warna-warni kini sungguh-sungguh mengarak abu, mulutku terkunci dan kamera aku matikan. Senyum tetap aku upayakan tersungging tulus sebagai bentuk reaksi tatap mata dari beberapa penduduk yang sedang berada di luar rumah, meski bisa dikatakan sore itu Oeseli cukup lengang dan tenang.

Selamat datang di Oeseli yang merupakan desa nelayan tradisional di pulau Rote (wilayah kecamatan Rote Barat Daya).

Selamat datang di Oeseli
Selamat datang di Oeseli

Berdasarkan hasil googling Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #9

08.08.2010 : Berdiamlah sejenak di Maia’s Sanctuary

Apa yang kau tahu tentang surga?

Hemm -__-a menurutku, sama sekali tak perlu membuka semua kotak-kotak agama dan kepercayaan satu per satu, baik itu yang sudah disahkan atau masih berbentuk proposal bahkan gelap-sembunyi-sembunyi. Semestinya tak perlu ada pembedaan definisi lintas A-B-C-D-..-Z. Surga tetaplah Surga. Surga adalah tempat Hati tak merasakan apa pun selain “ya.. inilah..” ~_~ entah itu pada makhluk yang melabelkan dirinya sebagai Manusia, atau bahkan pada mereka yang selanjutnya didefinisikan sebagai Babi. Di Surga, sudah semestinyalah semua makhluk hidup berdampingan, berbahagia setara dalam kedamaian yang dijamin tak pernah ditemui sebelumnya di tataran Dunia.

Penikmat lain Maia's Sanctuary
Penikmat lain Maia's Sanctuary

Kedua telapak kaki telanjangku masih mengingat dengan jelas jenis-jenis Pasir Pantai yang pernah disinggahi. Penasaran?? Lanjutkan..

Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #8

08.08.2010 : Menemukan Maia’s Sanctuary

Biru Langit. Wewarnaan Air. Senja yang mencuri hati. Segala yang membuatku merasa “pulang”. Rasanya masih ada yang membuatku tenggelam sepi dalam kurungan imajinasi-imajinasi. Sejak menginjakkan kaki di Rote. Sejak menghirup aroma Rote. Apa yang belum ditemukan di Rote?

Jelajah Motor Siang Bolong
Jelajah Motor Siang Bolong

Jadilah ini yang kami lakukan untuk menemukan apa yang belum ditemukan ^_^ jelajah motor siang bolong. Penasaran?? Lanjutkan..