Tag Archives: #pergiketimur

Catatan Kecil #pergiketimur #4: Baby

selamat malam, Semesta Raya. kenalkan, ini Baby, keponakan lucunya si Alief yang kira-kira sebaya dengan keponakanku si Fizzy. sedari kemarin hingga nyaris setengah harian ini kami banyak menghabiskan waktu bersama. aktivitasnya ya ada-ada saja. mulai dari nonton serial Khrisna, keliling bersepeda di dalam rumah, browsing gambar-gambar Ipin dan Upin juga Masha, menggambar Popo, tulis-tulis sambil bercerita sesukanya, ngobrol dengan Ikan-ikan, potret-memotret dengan Niki, eksperimen dengan Lampu Pink Ajaib, sampai tadi akhirnya Baby menjalani ritual pribadinya sebelum tidur (minum Susu) sembari berbaring di pangkuanku 🙂

tidak, aku tidak memberikan apa-apa padanya. kalau pun ada kuhadiahkan Coklat Swiss yang kubawa sebagai Bekal Perjalanan, aku tahu pasti belum disentuhnya (malah jangan-jangan nanti dihabiskan sendiri oleh Pamannya, hihihi). semua terjadi tanpa paksa seakan aku melintasinya sebagai Magnet Bocah 😀

kini Baby sudah lelap. aku pun sepertinya akan menyusul segera. besok belum tahu akan menemui kejutan seperti apa. aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya 😉

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

– – – – – –
15 Agustus 2014 :: Makassar, Celebes Selatan

Advertisements

Catatan Kecil #pergiketimur #3

sore pertamaku di Ohoi Ngilngof dipenuhi Jejak Hujan dan Abu-abu. Matahari sama sekali tak kuasa melerai ketertautan Awan-awan yang menutup rapat Garis Cakrawala dan menjauhkan Kecerahan dari Senja yang menunggu. tapi tak ada sedihku. bahkan tak terlintas sedikit pun kecewaku. tetap saja kubebaskan sepasang kakiku mencumbu luas Pasir Putih Tepung, membiarkan Niki merekam beberapa hal yang aku maksud, dan mengabaikan berpasang-pasang mata yang ada di sudut lain pantai saat itu. sampai ketika melintas lima orang Pemuda tepat didepanku. mereka yang tentu saja sudah melihat polahku dari jauh.

Kakak, foto kita dong.“, salah satu dari mereka ramah riang meminta dan ringan pula kujawab dengan anggukan berlanjut aba-aba.

klik.. satu kali..

klik.. dua kali..

tanpa ragu aku merekam pose dan senyum bersahabat kelimanya. lalu tak lupa melambaikan tangan dan mengudarakan ucap “terima kasih” sebelum mereka berlalu dan aku kembali membiarkan diriku sebebas aku suka.

terima kasih Kakak cantik.“, aku sempat terhenti lalu menoleh kembali dan kami semua sama renyah tertawa.

sore pertamaku di Ohoi Ngilngof dipenuhi Jejak Hujan dan Abu-abu adanya. tapi semua itu luruh menjadi Pelangi bersamaan alir Udara. begitu saja 🙂

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

– – – – – – –
5 Agustus 2014 :: Ngur Bloat, Ohoi Ngilngof, Nuhu Roa, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara

Catatan Kecil #pergiketimur #2

sejauh ini, dalam perjalanan #pergiketimur, tidak sedikit orang yang aku jumpai menanyakan hal yang sama, “kenapa memilih naik Kapal Laut? kenapa memilih perjalanan berhari-hari? kenapa memilih Kelas Ekonomi? kau kan pergi sendiri?

hal yang akan sangat bisa aku jawab dengan singkat tanpa pikir panjang tentulah pertanyaan “kenapa memilih Kelas Ekonomi?“. karena apa? karena hanya ada satu jawaban satu alasan: murah, aku bisa menjangkaunya dengan Tabunganku lebih segera 😀

sementara hal yang kemudian akan mengundang kehadiran kerut di dahi para Penanya adalah jawabanku atas pertanyaan “kenapa memilih naik Kapal Laut? kenapa memilih perjalanan berhari-hari?” (padahal jelas-jelas aku bepergian sendiri). karena apa? karena aku akan dengan senangnya bercerita bahwa selain Palung Impian yang menjadi alasan, betapa aku lebih menyukai setiap apa siapa yang kemungkinan besar bisa aku temui melalui Perjalanan Laut dan/atau Perjalanan Darat, meski tidak pula tidak aku sukai keindahan akbar Negeri Atas Awan dan suguhan istimewa Langit bila aku melalukan Perjalanan Udara 🙂

bukan aku tidak paham resiko yang harus siap ditanggung dan sebesar apa harus kutingkatkan kewaspadaan juga kepekaan. bukan aku tidak mengerti bahwa panjang laluan Waktu pun meminta lebih banyak daya juang dan daya tahan. rasanya kesukaan tetap saja mengalir sebagai kesukaan: mereguk rupa-rupa Pelajaran dalam sebuah Perjalanan  😀

ah iya, perihal “sendiri berjalan“, sebenar-benarnya bisa luruh tak menjadi persoalan. asal tak kau biarkan hatimu tertutup ekslusivitas yang dengan sengaja kau bawa-bawa, kau akan selalu dapat banyak Kawan. iya. aku percaya 😉

– – – – – – –
sebuah #catatankecil yang dibuat di Makassar menghampiri pukul 8 pagi

catatan kecil #pergiketimur #1

Bapak, Tuhan itu teramat sangat Maha Baik dan Semesta menempati perkataannya (tentang dukungan mewajahkan Impian). sore ini, walau tak ada Senja yang sempurna, pun Hujan menabuhi Udara, aku tak boleh lagi tak bersyukur. sangaaaat bahagia. Tuhan benar-benar mengajariku di sepanjang umur: tentang mempercayai Kata Hati, tentang tak hanya berani bermimpi, tentang jangan pernah menyerah bahkan ketika seharusnya aku sudah menyerah salam buat Dunia Luar ya. sayang aku tak bisa langsung berbagi ini sekarang. (Angin Laut pada Dewa Bumi, 5 Agustus 2014, 18:51 WIT)

Ya. Bersyukur itu hal yang paling baik. (Dewa Bumi pada Angin Laut, 5 Agustus 2014, 16:53 WIB)

– – – – – – –
**catatan kecil ketika tak bisa bebas berbagi apa yang dilihat di sekitaran Ohoi Ngil Ngof dan Ngur Bloat pada hari itu (5 Agustus 2014) #pergiketimur

38 menit 20 detik

ada sekitar 38 menit 20 detik yang aku habiskan untuk bercerita ini-itu ke Bapak Bintang. iya, tentang melaut #pergiketimur tentunya. aku ingat betul tak ada yang terlewatkan, termasuk segala rincian apa yang aku bawa dan apa yang akan aku lakukan dalam tiga minggu perjalanan 🙂

tak hanya sabar mendengarkan, pria yang terpaut 15 tahun lebih tua dariku itu (seperti lazim ia lakukan setiap kali aku akan bepergian) sibuuuuuk memaparkan satu demi satu skenario-skenario terburuk yang justru membuatku menyahuti senang. iya, dasarnya aku, bukannya berubah cemas malah riang, karena itu tanda ia perhatian sekaligus memastikan aku siap berangkat atau sebaiknya menunda diam. meski tumben kali ini ia tidak bilang “gimana kalau nanti diculik?” sesudah bertanya, “jadi yang pergi berapa orang?” 😀

ada sekitar 38 menit 20 detik yang aku habiskan untuk menjadikan sebuah perbincangan sebagai penambah semangat sebelum memulai perjalanan. iya, dengan ia yang (bahkan aku terlupa entah sudah berapa lama tepatnya) menemani dan menjagaku sebagai Bintang. aku ingat betul apa yang ia nyatakan sebagai pesan.

“baik-baik di jalan. jangan malas mandi. jangan malas ganti baju. jangan malas ganti daleman. bersenang-senanglah di sana. udah gitu aja. waspada. siapa tahu ketemu mafia.”

*triiiiiit. hening. pingsan. hahahahaha.*

dan malam ini adalah saatnya memilih-milah pakaian yang akan aku masukkan di Plastik Ajaib sebagai perbekalan. kalau pun terlalu malas, besok pagi pasti akan aku lakukan. sudah semakin dekat. iya. itu perjalanan 😉

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

#pergiketimur

aku sendiri tak begitu mengerti. dalam pikirku ya inilah cara menjalani. iya. menjalani hidup, menjalani umur, menjalani impian, menemukan kepingan diriku yang berserakan, menuai pelajaran demi pelajaran. nekad memang. bandel bukan kadang. namun sebagaimana Air (sahabatku) pernah bilang, hanya dengan cara seperti itulah Angin tetap hidup: terus bergerak terus mengalun.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

– – – – – – –
*sebuah prolog