Tag Archives: #peerRKF

Cakrawala. Laut. Ujung Cakrawala. hamparan Laut.

menjadi sumber kehidupanku, menjadi muara berpulangku. menjadi cahaya kebahagiaanku, menjadi muara derita kerinduanku. menjadi awal degupku, menjadi muara hela akhir nafasku. Cakrawala. Laut.

tanamkan Butir-butir Debu Tubuhku dalam perjalanan Angin yang berpulang. benamkan kematian jiwaku di Telaga Awan-awan yang kehilangan Matahari. kuburkan aku dalam buai Nada Senja hingga Fajar menyambut. Ujung Cakrawala. hamparan Laut.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

pe-er RKF: Ritual

Ritual adalah urutan kegiatan yang khas yang melibatkan gerak tubuh, kata-kata, dan benda-benda tertentu. Ritual biasanya dilakukan di tempat khusus dan dirancang untuk untuk tujuan tertentu. Ritual dapat tercipta oleh tradisi masyarakat, termasuk komunitas agama. Ditandai dengan formalisme, tradisionalisme, keberagaman, aturan-aturan, simbolisme sakral dan performance, menjadikan ritual di berbagai pelosok tanah air sebagai aspek budaya yang menarik dan bernilai.

Secara individu dan dalam bentuk yang lebih informal, kita juga punya kebiasaan dan rangakaian kegiatan tertentu yang baik disadari atau tidak merupakan ritual keseharian kita. Ritual bangun pagi, ritual sebelum hunting, ritual sebelum mulai bekerja, dst. dst

Monggooo…

widiiiih. panjang benar ya pemaparan pengantar pe-er RKF kali ini? Ritual. Ri-tu-al. R-i-t-u-a-l. aku sudah membayangkan foto-foto macam apa yang akan memenuhi album tugas kali ini. aku memutuskan untuk tidak mengambil corak yang sama, namun tetap tidak keluar dari batasan yang diberikan.

hasilnya? sejauh ini aku baru mengirimkan dua foto sebagai hasil interpretasi sebagaimana terlihat di bawah ini.

* * *

#1

karya ini tak kuberi banyak deskripsi juga judul cantik-cantik. singkat kalimat saja yang menyertai penyuguhannya: selamat pagi ~,~/

idenya adalah aktivitas rutin yang harus kulewatkan setiap pagi dalam beberapa waktu terakhir. emmm, semacam wujud keputusan berdamai dengan diri sendiri. hihihi.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

#2

ketiga foto yang disajikan berurut ini semacam ingin menggambarkan apa yang biasa aku lakukan sebelum mengAngin entah ke mana saja. sudah menjadi semacam hak-&-kewajiban rasanya. yaaa ya begitulah ~_~

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

pe-er RKF: Melihat dan Dilihat

aku garuk-garuk kepala. dahiku terus mengernyit berkali bahkan sempat terlipatahan demi menyelesaikan mendekati tepat apa yang dijadikan materi interpretasi pe-er RKF yang diberikan Pak Setiawan.

[ Materi untuk 1-7 Des ] melihat dan dilihat [ See and Be Seen ] , paduan Street Photography + Self Portraits . Ada suatu masa tatkala anda kehabisan ide atau bosen pada saat “hunting” pada sesi-sesi photo “nyetrit” [ street photography ] . Ketika situasi “galau” itu cobalah anda memasukan “anda sendiri” [ self portraits ] kedalam frame kamera yang anda pegang. Jadikan anda aktor didalam adegan yang anda sutradarai sendiri, Ciptakan suatu gambar nyata, abstraksi termasuk bayangan , surealis , manipulasi digital bole juga, seram , humor , berwarna , Hitam Putih apapun . Keputusan di tangan anda…start upload jam 00:01 1 Des 2013

aku kesusahan. meski mudahnya menterjemahkan pemaparan tersebut sebagai “foto narsis” ya aku tetap merasa kesusahan. nyetrit? bosan? kehabisan ide? galau? argh!

biar tak makin uring-uringan, aku coba meminta bantuan via Prof Google sebagaimana biasa. baiklah. selamat. iya. aku diselamatkan oleh si Wiki ketika memastikan pengertian dari “Street Photography“. aku merasa terbebaskan ketika mendapati bagian: the origin of the term ‘Street’ refers to a time rather than a place..

tapi ternyata belum selesai. aku masih harus berurusan dengan poin “self-portrait” plus tambahan keterangan tema minggu ini: bosan dan galau. aduuuuh T_T

Kuuuuk, kenapa sih itu saja jadi persoalan? jadi masalah?

jelas masalah. jelas-jelas itu masalah. karena apa? karena kalau bosan biasanya aku justru lebih suka memperhatikan yang tidak diperhatikan. kalau sudah galau aku lebih sering diam celingukan. bagaimana memenuhinya?

lalu? kamu mau menyerah tidak usah mengerjakan pe-er saja begitu?

heh? tidaaaaak. tidak begitu juga. aku mau mencoba. setidaknya satu kali lalu sudah. entah akan memenuhi dengan tepat atau tidak, biar itu jadi urusan nanti saja. iya. aku mau mencoba!

nah. ya sudah. sekarang bagaimana kamu menginterpretasikan “Melihat dan Dilihat”, Kuk?

emmm, ini, disimak saja. sampai hari ini aku sudah memasukkan dua.

# # # # #

#1

 menurutku, salah satu media yang masih jujur dapat merefleksikan “warna”-ku itu adalah Mata dan Ekspresi Bocah. bukan Kaca, bukan Bidang-bidang yang dapat memantulkan penampakanku di suatu saat, bukan pula Bayangan. entah kenapa ~_~

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

#2

ini adalah tempat di mana Waktu seakan-akan terasa mati, terhenti di satu titik dan tak mau berlari maju lagi. jika “galau” menjadi salah satu kriteria dalam pe-er minggu ini, maka bisa jadi ketika berada di tempat inilah kekacauan pikir terjadi padaku tanpa diminta sama sekali. harusnya aku senang bisa sampai di sini, tapi adanya justru berbanding terbalik.

ini adalah tempat di mana aku dan semua Saksi yang berdiam saling memandang penuh selidik, saling terka apa yang ada di pikiran masing-masing. meski aku berusaha tak terlalu cepat bergerak kelambanan yang sudah mendarah daging pada setiap Lemari, Dinding, Jam, Lampu, Kalendar, Buku, Almari, bahkan Kaca Bulat memburam itu membuatku kikuk tak henti.

dan ini satu-satunya gambar yang sengaja aku ambil untuk tak lupa, aku pernah terundang masuk ke tempat ini. bukan sengaja lari, tapi memang ada yang dicari.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

*updated: 4 Desember 2013*

#3

namaku: Angin. sering-seringnya aku disuruh jalan-jalaaaan terus sama si Tuhan. iyaaa. tidak selalunya dalam urusan serius sih. kata Tuhan, “kalau kamu tidak terus mengalun, nanti bagaimana kamu melanjutkan hidup, Ang?”. begitu.

namaku: Angin. meski ada sekian banyak pesan berat yang harus aku bawa untuk sampaikan, tak jarang Tuhan memintaku terus bergerak untuk melakukan hal-hal yang dalam definisi Manusia kadang tak pernah dipertimbangkan. contohnya? nah ya ini. mau tahu apa yang Tuhan pinta sampai menyuruhkan sampai ke tempat ini?

“selamat pagi, Pegunungaaan. selamat pagi, Pepohonaaaaan. selamat pagi, Kehidupan-kehidupan Kecil di sekitaaaaar. selamat pagi, Langiiiit. terima kasih, Matahariiii.”

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

pe-er RKF: kusam

kusam. tugas minggu ini adalah interpretasi foto dengan tema: kusam — menurut KBBI: ku·sam / suram (tidak berkilap atau bercahaya); muram atau tidak berseri-seri (tt muka); tidak terang (tt lampu dsb).

Pak Kobayashi turun  langsung memberikan contoh. dalam waktu singkat Kawan-kawan RKF lainnya sudah menampilkan hasil pemahaman mereka tentang tema tersebut. sementara aku? entahlah. apa memang yang hendak aku kusamkan? kusam. ku-sam. k-u-s-a-m. kusam?!

akhirnya pilihan kujatuhkan pada satu foto yang membuatku terhenti lebih dari sebuah “cukup lama”. aku ingat aku mengabadikannya dalam kegiatan geotrek bersama Badan Geologi ke Tangkuban Parahu. waktu itu, bukannya mendengarkan penjelasan para Interpreter dengan manis, aku malah krusak-krusuk di rerimbunan Dedaunan mengering sarat dominasi Coklat Kehitaman. bukan hanya satu, ada belasan foto selama aku sibuk sendiri di sana. agar semakin tegas mendekati apa isi pikiranku, maka sebelum foto pilihan tersebut aku setorkan, dengan sadar ada kuberikan sedikit “sentuhan”.

kusam. ku-sam. k-u-s-a-m. lama-lama terpaku pada foto pilihan itu aku macam menemukan dan sampai pada satu pemahaman lagi tentang itu kusam. ya. sesuatu/seseorang yang belum sampai pada jati dirinya bisa jadi masih kusam, belum bercahaya, semoga tidak tersesat kemudiannya.

akhirul kalam, inilah hasil pengintepreasianku tentang kusam 🙂

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

bagaimana menggambarkanmu, aku tidak tahu. pikir dan mataku hanya terdiam di situ. hanya bisu terpaku. kau. yang ada di situ.

entahlah denganmu. tapi pernahkah kau menemukan sesuatu di antara sekian hal yang bisa jadi tidak diperhatikan lain orang, terus memikirkan tanpa tahu harus bagaimana caranya agar orang lain pun bisa melihat dan paham apa yang dimaksudkan? aku belum tahu apa namanya, kondisi macam itu. kalau aku bertemu lagi dengannya, sering-sering cuma terhenti di situ. apa yang akan orang-orang lakukan ketika bertemu dan bertatap muka dengan pikirannya sendiri?

pe-er RKF: Api

#1:

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

cuma Api yang jadi penerang bagi kami di sini. tak ada lain lagi. maka mata pun harus terbiasa meski hadirnya kecil. cuma Api yang jadi penerang bagi kami di sini. dalam kegelapan ia lah satu dari sekian penjaga bagi kami.

– – – – – – –
*Butui (Siberut Selatan) suatu hari

#2:

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

alkisah Rumput kepada Api dalam sebuah kegelapan yang entah penuh kutuk atau justru terus terberkati.

– – – – – –
*sisian Manglayang. dalam pelukan rasa dingin. itu hari.

pe-er RKF: Selamat Pagi dan Pastel

wara-wiri sana-sini, jadilah agak keteteran ngerjain pe-er. etapi teteup dikerjakeun dunk 😀

baiklah. tak perlu banyak basa-basi. edisi “Selamat Pagi” adalah edisi istimewa. ceritanya aku diberi kesempatan *merasa tersanjuuuung pisan* oleh Mbak Mei Adisuko (salah satu Administrator Grup Rumah Kayu) untuk memberikan deskripsi tentang pe-er yang satu ini. aaaa, maka merajalela lah sudah, hihihi. berikut deskripsinya:

Pagi. awal dari sebuah Hari. ditandai dengan menelusup hadirnya Matahari.

ada kalanya disambut riang penuh antusias, meski tak jarang hanya dipandangi begitu dingin dan diam. ada kalanya mampu memicu terbitnya harapan, namun tak jarang malah ingin dihindari atau sebisa-bisanya ditunda biar jangan dulu datang.

sepanjang pengetahuanku, tak pernah ada satu pun Penghuni Semesta yang memiliki begitu persis sama cara menyapasalami sebuah Pagi. maka, bagaimana caramu menyambut kedatangannya dan mengucapkan sebuah “Selamat Pagi”?

dan inilah foto #1 “Selamat Pagi” yang aku abadikan dari dalam KA Malabar di awal Mei 2013, yaitu ketika akan bergabung dengan Keluarga Rumah Kayu singgah ke Malang dan Bromo 😉

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

foto berikutnya (#2) aku ambil di kesempatan pertama menginap di sebuah Apartemen yang dihuni oleh kedua orang Tante (adik Papa) di satu sudut Selatan Jakarta. agak gamang ketika tidak menemui Langit seleluasa dan sebiru biasa. tapi, ya begitulah kenyataan yang harus diterima. Pagi tetap Pagi, harus disambut dengan senyum cerah 🙂

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

lalu di minggu berikutnya, muncul tema “Warna Pastel” sebagai tantangan. waduh, ini agak-agak rumit tapi harus dikerjakan minimal satu menurutku. sehingga, pilihan jatuh pada gabungan dua buah foto di bawah ini. Kursi Merah diambil ketika sedang menunggu saatnya boarding di Ruang Tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Jam Tangan yang menunjukkan ketepatan waktu take-off direkam ketika sudah berada di pesawat menuju Makassar. berhubung warna yang diproduksi terlalu cerah, maka dilembutkan sedikit agar mendekatik kriteria “Warna Pastel” yang entah kenapa dalam benakku lekat dengan Film-film Seri Korea. well, begitulah 😉

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

pe-er RKF: A-Be-Ge

huaduh. emmm. iya. minggu ini tema “tangkapan” yang menjadi materi pe-er di RKF kembali (lagi-lagi) menantang: A-Be-Ge 🙂

A-Be-Ge, dengan sikapnya yang memberontak, yang narsis, yang modis, yang tidak perduli sekitar, yang mau menang sendiri, yang ingin beda sendiri, yang senang kumpul-kumpul, yang…., yang….dan sebagainya. — begitu dipaparkan dalam deskripsi tema.

aaaaaa. baiklah. dicoba dulu saja. semoga berhasil 😉

– – – – – – –

#1:

salah satu cara A-Be-Ge Kota Besar menghabiskan akhir pekan atau masa libur mereka adalah dengan pergi ke Game Master dan “berolahraga” di sana 🙂

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)