Tag Archives: #Patuha

kisah Ilalang tunggal

pernahkah kau bayangkan Ilalang itu tunggal? tertinggal sendiri ketika semua kaumnya sebagian musnah lalu sebagian memilih pergi tanpa peduli siapa yang terbawa dan siapa yang tak tergenggam.

ingin ikut nimbrung dengan para Gunung, suaranya terlalu kecil hingga tak ada yang bersedia mencoba sedikit saja mendengar. ingin bergabung dengan canda Pepohonan, dia harus bersaing dengan Bunga-bunga yang tak ingin kalah dipesonakan. dia dibiarkan merasa tak punya siapa-siapa dan tak boleh jadi bagian siapa-siapa.

airmata sudah habis sejak hari dibiarkannya dia terlepas dari kaumnya. ketika menengadah, ingin meminta berbincang dengan Matahari, tapi sungkan karena segera sadar sekian hal semestinya.

tapi, tahukah kau tepat di saat itu Awan-awan mengelus lembut pipi Ilalang dan Langit menyodorkan tangan untuk menggambar selengkungan senyum di sana? mereka bilang, “jangan cemas, kau tak pernah benar-benar sendirian.”

– – – – – – –
*sebuah interpretasi terhadap karya foto dari Rachmat Fajar

(foto oleh Rachmat Fajar)
(foto oleh Rachmat Fajar)

masa mengintip Kelana

membaca punggungmu, Kelana, hanya mengundang lebih dari belasan tanya juga puluhan duga. kenapa kau suka berdiam seperti itu begitu lama? kenapa masih saja kau suka memikirkan sekian banyak hal yang justru tak ada Manusia mau memikirkannya? Rerumputan yang membingkai sebentukanmu sibuk menenangkan agar aku menghilangkan saja semua sangka-sangka. mereka bilang kau sedang menggenapkan diri demi seutuhnya menjelma Pertapa.

mendengarkan bisumu, Kelana, hanya meresahkan lalu menyalalah Api memanaskan jantung dan terlepaslah arus liar darah macam Sungai mengamuk meminta kebebasannya. sampai kapan kau akan mengabaikanku, Kelana? sampai kapan kau terus mendengarkan Angin dan Pepohonan menyampaikan lebih dari ribuan Petuah? Rerumputan yang terus menahan gerakku mulai tajam menatap tanpa iba dan lantang berkata, “kau tak akan mampu menahannya menjadi Pertapa. itu takdirnya. kau tak boleh mengusik dengan kecemasan-kecemasan khas Manusia.”

– – – – – – –
*sebuah interpretasi terhadap karya foto dari Al Hadi Hamrah

(foto oleh Al Hadi Hamrah)
(foto oleh Al Hadi Hamrah)

padamu aku..

padamu aku datang, menepikan geletar resah dan semacam gigil yang dengan mudah dikenali telah dilahirkan oleh secuil kuatir. betapa aku terlalu pongah untuk berani. betapa aku terlalu yakin menduduki Singgasana Pohon yang masih belum berhenti berjuang bertahan dalam dingin. aku yang kecil apakah telah lupa bahwa aku kecil?

padamu aku datang, membawakan pesan yang telah terjanji akan sampai dalam detikan kirim. betapa aku mengiba pada sedetak Pagi dan meminta dikuatkan Angin. betapa aku berulang terus merayu malu-malu yang tengah menyergap Matahari. betapa aku tak boleh lagi mangkir, menghantarkan kerinduan tujuh purnama Amongraga yang telah dinanti cemas Tambang Raras si Penghidup Hati. aku yang kecil akankah mampu menembus kerapatan Lorong Lintas Dimensi?

padamu aku datang, bersikeras mengabaikan ragam rupa tatapan para Tua-tua Pepohonan juga ketakpedulian Kabut yang tak pernah mau dititah demi selembar Biru Langit penanda geliat gairah. betapa aku terlalu pongah untuk berani. betapa aku terlalu yakin mempercayakan tubuhku pada Singgasana Pohon yang bahkan nyaris tak percaya diri. aku yang kecil bisakah menghangatkanmu demi mengentaskan janji?

padamu aku datang dengan sepenuh-penuh diri. padamu aku datang dengan semegah-megah hati. padamu yang mungkin belum sempat bersiap untuk lebih mempercantik diri.

(foto oleh  Sjuaibun Iljas)
(foto oleh Sjuaibun Iljas)

– – – – – – –
di satu sisi Badan Puncak Patuha, menghadap ke arah Kawah Putih, di duapuluh satu yang jauh lewat dari pertengahan Juli. dipotret Pak Sjuaibun Iljas ketika tengah memenuhi janji melantunkan sepupuh Suluk yang merupakan sebagian kecil dari Serat Centhini untuk Pak Kobayashi (Fendi Siregar). hasil rekam gerak dan suaranya oleh Mas Bongky juga dapat dinikmati di bawah ini.