Tag Archives: #Mentawai

Cakrawala. Laut. Ujung Cakrawala. hamparan Laut.

menjadi sumber kehidupanku, menjadi muara berpulangku. menjadi cahaya kebahagiaanku, menjadi muara derita kerinduanku. menjadi awal degupku, menjadi muara hela akhir nafasku. Cakrawala. Laut.

tanamkan Butir-butir Debu Tubuhku dalam perjalanan Angin yang berpulang. benamkan kematian jiwaku di Telaga Awan-awan yang kehilangan Matahari. kuburkan aku dalam buai Nada Senja hingga Fajar menyambut. Ujung Cakrawala. hamparan Laut.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

rindu

Laut kini selalu datang di setiap kukatuptutupkan nyaris bersamaan sepasang kelopak mataku. jantungku bergemuruh, darahku memanas: rindu.

aku sudah termimpi lembut senyuman Batari Ibu mengantarkan tidur menjelang pergantian umurku. aku sudah dirasuki aroma sajian spesial Poseidon yang tak pernah tak lezat itu. mereka berdua bahkan sedang melatih para Camar Laut agar bersedia rukun dengan Angin, Awan, Gelombang, pun segenap Tetangga-tetangga sekitar Rumah Ujung Cakrawalaku.

Laut kini setia membayang di setiap tautan yang berwajah melangit itu. airmataku meruntuh dari sela-sela benteng ketegaranku: sangat rindu.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

Kau dan aku

sudah ke mana saja hingga pada apa-siapa saja aku mencari-Mu. tertemui dalam beragam rupa dan menuai jutaan hal yang berusaha kucerna satu demi satu. belum ingin berhenti, biar saja terus begitu. karena semakin jauh pencarianku, Kau semakin ingin aku terus melaju. sesungguhnya aku tak menolak turut kata-Mu. meski kerap memberontak, aku tak menampik rengkuh-Mu. selalu.

– – – – – – –
Keras Jingga Pagi Siberut. 20 April 2013. sisian Manai Koat.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

sebuah Topi

aku tidak tahu tepatnya bagaimana. apakah ini Topi peninggalan salah seorang Tamu dari Aman Lau-lau, atau justru milik Aman sendiri, atau milik putranya, atau malah milik cucunya. pastinya Topi ini tergantung setia di pojok ruang Uma yang berfungsi sebagai Dapur juga sebagai tempat Penyimpanan Rupa-rupa (macam Gong, juga Babi hasil buruan yang dikeringkan di sebuah Kurung Bambu). tergantung dalam lusuh Debu dan temaram sana.

– – – – – – –

*salah satu materi pemenuhan pe-er RKF minggu ini dengan tema: Temaram

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

23 Februari 2013

23 Februari 2013 itu tampaknya tidak akan mudah dilupakan ~_~ seusai sekitar 10 jam meLaut (Tuapeijat – Bungus), setelah beberapa jam bengong-bengong deg-degan di Bandara Minangkabau, ditambah sekitar 1.5 jam meLangit (Padang – Jakarta), lalu mendadak memutuskan untuk sudah saja langsung ke Bandung (padahal sedang ada deadline menanti), dan ternyata itu sama sekali bukan keputusan yang salah.

bahagia rasanya bisa hadir di hajatan Ci Tarum dan berada di antara Keluarga, Sahabat, Kawan. ramai. hangat. makan-makan. poto-poto. makan-makan lagi. berbincang. tertawa. jail. ganggu-ganggu. benar-benar berasa pulaaaang ~,~/ meski sesudahnya siap-ndak-siap-harus-siap diunyel-unyel-peluk-peluk mbak Dieldiel yang bahagia si Tupai-nya muncul >_<

23 Februari 2013 itu tampaknya jadi istimewa. sesudah merasakan bahagianya bisa pulang ke Laut dan ke Rumah Ujung Cakrawala, ternyata ada Rumah lain yang memanggil untuk pulang. di sini. di jalinan yang bebas definisi tempat. dilambari kecintaan yang bisa jadi sama.

aku terharu. aku didamba pulang. ternyata ~_~

o iya, dari foto ini aku baru sadar, ternyata dampak insiden Kipas Angin di Bus Antar Lintas Sumatera zaman SD dulu benar-benar masih seperti itu ya? itu loh, kejadian di mana rambutku yang panjaaang itu terbelit terputar masuk ke Kipas Angin karena aku terlalu bersemangat ingin merasakan Angin dari Jendela, berdiri santai, lupa apa yang ada di atas kepala. hem, jadi gersang rupanya. mungkin karena waktu itu diputus paksa hingga Rambut dan Kulit Kepala trauma ya? hahaha. hem, tampak seperti ada celah besar sebagai jalan masuk ke kepala, hihihi.

tak apa. aku tetap terharu. aku masih secantik itu *_* (siap-siap dapat timpukan internasional jangka panjang)

Bu Wiwit, terima kasih sudah dipotret yaaa ~.*

(foto oleh Wiwit Ratna Djuwita)
(foto oleh Wiwit Ratna Djuwita)

mengAngin hingga Mentawai: Bu, aku ingin jadi Peselancar

Bu, aku sudah pulang ke rumah, sudah berganti pakaian, sudah pula makan siang dan mengerjakan tugas yang diberikan Ibu Guru tadi di sekolah. Piring dan gelas yang aku gunakan tak lupa aku cuci, Bu. Karena itu, aku yakin kau pasti akan mengizinkan aku bermain di Jati kan?

Bu, seperti pernah aku sampaikan, aku ingin sekali bisa berselancar seperti Turis – turis Asing yang sering aku lihat itu. Mereka keren! Badannya kekar berkotak, gagah dalam lihatanku. Belum lagi mereka menjulang begitu tinggi meski tak sampai mengalahkan tiang listrik. Setiap kali mereka beraksi dengan papan selancarnya, rasaku mereka tak hanya membelah gelombang. Mereka hebat, seperti menyentuh langit. Besar nanti, aku ingin seperti itu. Biar jadi juara, biar terkenal, dan biar ada kesempatan melihat tempat – tempat berombak besar lainnya yang sempat aku tanyakan pada Ibu Guru Geografi di mana tempatnya. Mungkin Ibu tak percaya, tapi aku sudah menandainya di peta yang ada dalam kelas.

O iya, Bu, sebagaimana kita sama paham, tak ada kata ‘pasti’ untuk urusan cuaca di Sipora ini. Maka nanti, jika kebetulan Ibu melihat aku masih berada di dalam air, bersama kawan-kawan menunggu ombak, dan pada saat itu hujan sedang turun dengan derasnya disertai angin kencang, janganlah Ibu terlalu cemas. Abang – abang di Pos Baywatch itu pasti akan menolong seandainya aku dan kawan – kawanku tertimpa kesusahan. Aku lahir dikepung laut, maka tak mungkin laut menyakitiku, begitu kan Ibu sering bilang?

Baiklah, Bu, aku pergi dulu. Doakan aku ya, Bu, agar tak mudah lelah dengan kegagalan – kegagalan sebelum nanti akhirnya aku menjadi jauh lebih mahir lagi membelah ombak dengan papan selancar itu. Karena aku yakin inilah kuncinya agar aku dapat mewujudkan impian – impianku yang berikutnya. Doakan aku ya, Bu. Aku ingin sekali membahagiakanmu dan kuyakin inilah jalannya.

(foto oleh Kuke)