Tag Archives: #Manglayang

Pak Fendi itu (macam) Pak Kobayashi

aku ingat Januari itu. tanggal Lima tepatnya. pagi-pagi sekali aku sudah diajak menyapa Manglayang oleh Bapak – Ibu – Mas – Mbak – Kawan RKF, meningkahi Semesta yang riang; setelah semalamnya aku terkesima dengan Orkestra besutan Panglima Angin bersama ribuan Ilalang, Langit dan Bulan yang enggan pulang, Paduan Suara Negara Pinus dengan harmoni tak terbandingkan, lekatan jejak Embun dari Rerumputan dan kecoklatan Ibu Bumi yang perlahan mengering, dan Niki yang tak berjauhan dari tangan. nafasku baik-baik saja, itulah ajaibnya. hingga aku tak bisa beralasan untuk tak senang.

aku ingat Januari itu. tanggal Lima tepatnya. ia yang dalam jumpa pertama dulu terasa begitu asing dan jauh, kini jauh berbeda. sudah bukan rahasia jika aku ingin sekali banyak belajar darinya. namun ketika sedikit demi sedikit terkesiap tentang apa yang nyatanya sama disuka, tentang berbalas imajinasi yang mungkin sederhana (tapi sangat berharga), tentang caranya menyikapi tindak-tandukku yang bisa jadi tak lazim adanya: aku suka 🙂

setelah lama, lama, lama, dan cukup lama, aku malah merasa aku seperti Totto-chan yang dipertemukan dengan Pak Kobayashi — Sang Kepala Sekolah.

Kang Una Nizar Gumrah, terima kasih (ternyata) sudah (diam-diam) memotretkan Pak Fendi dan aku 😉

(foto oleh Una Nizar Gumrah)
(foto oleh Una Nizar Gumrah)
Advertisements

Namaku: Angin

sesungguhnya aku selalu tahu arah mana harus kutempuhi sebagai jalan kembali. sebenarnya aku tak lupa tiap sudut lekuk dan kelokan Bumi yang sepi bahkan ramai Pepohonan rupa-rupi. dan tak pernah Batari Ibu mengekangku dengan Pagar-pagar Waktu yang sempit. dan tak pernah Poseidon sibuk meniupkan Penanda Makan Pagi-Siang-Malam agar aku jangan sampai lebih suka menurutkan rasa sukaku mengitari penuh ini Bumi. dan tak pernah seluruh Ilalang yang hidup sejak muda mencapai tua terlupa menarik lenganku biar tak cepat-cepat berlalu dan baru bertemu lagi entah kapan hari. tak pernah pula aku diharuskan menciumi Ujung Cakrawala apalagi kamar ternyaman di Rumah ku yang di masih menunggu dengan hati murni. tak pernah. tak pernah. adanya mereka hanya terus membiarkanku menari pergi. kadang berlari, kadang berputar, kadang diam sepi, lalu lanjut lagi bernyanyi.

sejatinya aku selalu tahu jalan mana harus kulalui jika Tuhan sedang memperbaiki segala rutinitas biar aku tak bosan lalu mendadak mati. sebenarnya aku masih selalu suka lihat-lihat kanan lalu kiri, dan sesekali berputar depan belakang bawah atas sesuka hati. dan tak pernah Tuhan kemudian cemberut murka padaku lalu menutup tirai dan menghentikan detik. Tuhan hanya tersenyum, selalu begitu manis, tersenyum menyejukkan lelahnya wara-wiri. mungkin itu semuanya karena namaku: Angin ~_~

di Pagi menatap Malabar

lalu ini, aku di sini. berdiri di atas Papanggungan Manglayang, menatap lurus ke Selatan, tepat menghunjamkan pandang pada Malabar yang begitu disayang dan dilindungi Awan-awan. belum terlalu terang, ini baru pukul 5 terlewat 37 menit 32 detik. 5 Januari 2013 tepatnya. aku bisa merasakan, betapa Bandung begitu hangat dilingkungi Manglayang, Geulis, Bukit Jarian, Malabar, dan keseluruhan Bukit serta Gunung sekitaran.

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)

jadi harus bagaimanakah kita semestinya terhadap Angin?

Rerumputan dan Ilalang berembug dalam Malam yang mendadak dirasa begitu panjang bahkan tak berjeda Bintang. Tetua menundukkan para Muda yang terlalu riuh saja bisanya. Bayi-bayi sudah diselamatkan di satu lapisan teraman Tanah, dijagakan Ibu Bumi.

berdeham ia, Tetua Himpunan Rerumputan dan Ilalang. semakin tertunduklah para Muda, menghimpunkan kantuk agar datang tepat tanpa memancing ketersinggungan beralasan. Ibu-ibu meninggalkan para Bayi, berjajar rendah tak meninggi dari keseluruhan Pria-pria yang tak mampu ditebak apa kini isi hati dari balik punggungnya. Tetua mulai mengambil suara biar tak hilang wibawa.

mampukah aku, kau, kita, menghentikan Angin? atau sesungguhnya kita semua memang sudah terlalu lelah terus saja dibawanya tanpa lagi bisa membaca kapan saatnya ia mengajak bersuka cita atau melepaskan dendam di setiap ada celah? aku ingin kita bergerak bersama! kita harus berpadu bersama! jangan terus hitung pasal tua muda, kuat lemah, pria wanita! tolong, sekarang katakan padaku, bagaimana cara menghentikan Angin biar kita tak secepatnya dipaksa menggali kubur bersama?! jadi harus bagaimanakah kita semestinya terhadap Angin?! ayo! bicara!

– – – – – – –
hasil interpretasi tema pe-er RKF minggu ini: gerak.

(foto oleh Kuke)

bersama tubuh Manglayang

bersama Orkestra besutan Panglima Angin. bersama ribuan Ilalang. bersama Langit dan Bulan yang masih bertahan belum mau pulang. bersama Paduan Suara Negara Pinus. bersama lekatan jejak Embun dari Rerumputan dan kecoklatan Ibu Bumi yang perlahan mengering. bersama tubuh Manglayang. dititipkan oleh Batari Ibu dan Poseidon agar dapat sepuasnya bersenang-senang. bersama Niki yang tak berjauhan dari tangan.

– – – – – – –

menghampiri Manglayang. suatu masa di awal Januari. 2013. bersama Pak Guru dan Kawan-kawan RKF (Rumah Kayu Fotografi)

(foto oleh Dedi Kurniawan)
(foto oleh Dedi Kurniawan)

bila pagiku di Manglayang

ada Peribahasa melekat kuat di dalam ingatan kepala: di mana Bumi dipijak, di situ Langit dijunjung (dimanapun berada, maka kita haruslah mengikuti/menghormati adat istiadat di tempat yang disinggahi/ditinggali tersebut).

lalu bagi diriku sendiri, aku menambahkan satu pengertian yang kujadikan keyakinan mendasar: bahwa di setiap tempat dimanapun itu ya akan selalu ada masing-masing keindahannya, tak ada yang sebenar semutlak sama antara kota A dengan desa B bahkan negara C .

sudahlah aku disaksikan si Mungil Jamur dan Rerumputan yang digelayuti Embun di Jayagiri ketika mengagumi Langit kala terbit si Matahari. dan kini, ternyata Manglayang memberikanku keindahan yang lainnya lagi. sampai Kata-kata seperti menguap terikut bergeraknya Udara yang terdengar bagai Nyanyian Pagi yang lebih abadi dari Pagi itu sendiri.

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)