Tag Archives: #lavanya

Lavanya: perjalanan

Waktu tiba Lavanya. rayuan Kabut dan milyaran misterinya kupaham tak akan mudah kau lepas selepas-lepasnya Udara. jangan berpaling dulu Lavanya. itu. tujuanmu di sana. tahan dulu liar jiwa. tahan dulu liar jiwa. coba biarkan sepasang matamu liar di Angkasa. cukup sepasang matamu saja. kau lihatkah Matahari membulat sempurna tak menyilaukan? ia ingin mengantarkanmu dalam ungkapan tenang damai, Lavanya. maka, jangan ragu lalu tergoda lupa tuju. itu Biru. berkejaran napas dengan Abu. ayo perkencangan lajumu, Lavanya. kita sama tak berharap terjebak Badai yang masih meyakini cinta kalian bukan? atau sebenarnya begitulah kau?

Advertisements

tertikam Belati Petir

apa kau masih di sana, Lavanya? aku membutuhkan balutan selendangmu segera. aku perih. semakin tak bisa menahan darah yang terus mengalir dari tikaman-tikaman Belati Petir. entahlah kenapa sekejap panasku berubah dingin. tak paham juga kenapa lajuku melemah dan lihatanku terus mangkir. bukankah perjalanan kita masih jauh, Lavanya? bagaimana ini jika aku hampir mati?

pantaskah jika kemudian kita mempertanyakan keiklasan Tuhan meridhai, Lavanya? perjalanan ini bukanlah pelarian. apa yang dituju pun bukanlah keharaman yang mendadak dihalalkan. tapi bagaimana, Lavanya? aku tertikam Belati Petir yang paling tak kuasa ditolak Maut. kau semakin mengabut, sementara ia kian jelas mengulurkan tangannya yang halus besar padaku saja. bukankah impian kita masih jauh, Lavanya? bagaimana ini jika aku kian dekat mati?

*theme-song: E.S. Posthumus – Lavanya **Lavanya = beauty, loveliness (Sanskrit)

Ibu Pagi menelan Bulan

Ibu Pagi menelan Bulan [Kuke]

Lavanya, sudahkah kau terbangun menjelang pulangnya Bulan ke gerbang pergantian? Entah apa yang terkehendaki, Ibu Pagi merangsak gelisah tak mau menunggu kau menyematkan kuntum janji pengikat antara insan Bulan dan Matahari. Dia titahkan Angin mewujudkannya jadi gugusan Awan yang jarang. Dia titahkan Bintang Pagi memandu. Dia menetapkan Bulan. Dia mengudara cepat bersimbah gelisah. Dia.. dia berkejaran dengan Matahari.

Lavanya, apa kau masih sempat mendengar keiklasan Bulan dalam pejaman matanya di akhir? Angin tak sedang meredam pekik atau apa. Awan bahkan tak menangkap butir air dari sepasang matanya yang dunia. Ibu Pagi menelan Bulan. Ibu Pagi menelan Bulan, Lavanya! Entah apa yang harus disampaikan pada Matahari. Entah apa. Nanti.

.

*theme-song: E.S. Posthumus – Lavanya **Lavanya = beauty, loveliness (Sanskrit)