Tag Archives: #JuliNgeblog

apa rasanya jika kita kehilangan Langit?

apa rasanya jika kita kehilangan Langit?

seluruh Awan itu tak lagi bisa berpegangan pada Udara, dan derak-derak-retak membahana mengalahkan garang Halilintar dan sesumbar Badai. sementara Matahari hanya diam mengamati. tak boleh mengulurkan tangan membantu, tak juga boleh berkata apa pun pinta di bibir. Manusia akan tiba masa dikenalkan pada lebih dari sekedar Hujan. melainkan Debu-debu yang berasal dari reruntuhan Langit beriring derai sesal Matahari dan derai airmata Bulan.

aku tak melihat Darah. semua sudah tak lagi berhak atas apa pun Warna. Kehidupan dikembalikan pada mula untuk sampai pada mula berikutnya. tapi, aku tak kuasa membayangkan, apa rasanya jika kita kehilangan Langit? karena membayangkannya saja, melihat semua terjadi sebatas di dalam pikiran dan mata, sangat menyiksasesakkan dada. aku tak suka.

semenit..

dua..

lima menit..

tujuh sudah..

apa rasanya jika kita kehilangan Laut yang memilih berbakti pada Matahari, menguap begitu saja pergi? apa rasanya jika Udara sibuk mengurusi kaumnya sendiri dan tak mau lagi memenuhi setiap ruang paru Warga Semesta lainnya? apa rasanya jika aku sendiri tidak mengerti kenapa semua itu lalu-lalang dalam kepala dan mata ku tanpa jeda?

kisah Ilalang tunggal

pernahkah kau bayangkan Ilalang itu tunggal? tertinggal sendiri ketika semua kaumnya sebagian musnah lalu sebagian memilih pergi tanpa peduli siapa yang terbawa dan siapa yang tak tergenggam.

ingin ikut nimbrung dengan para Gunung, suaranya terlalu kecil hingga tak ada yang bersedia mencoba sedikit saja mendengar. ingin bergabung dengan canda Pepohonan, dia harus bersaing dengan Bunga-bunga yang tak ingin kalah dipesonakan. dia dibiarkan merasa tak punya siapa-siapa dan tak boleh jadi bagian siapa-siapa.

airmata sudah habis sejak hari dibiarkannya dia terlepas dari kaumnya. ketika menengadah, ingin meminta berbincang dengan Matahari, tapi sungkan karena segera sadar sekian hal semestinya.

tapi, tahukah kau tepat di saat itu Awan-awan mengelus lembut pipi Ilalang dan Langit menyodorkan tangan untuk menggambar selengkungan senyum di sana? mereka bilang, “jangan cemas, kau tak pernah benar-benar sendirian.”

– – – – – – –
*sebuah interpretasi terhadap karya foto dari Rachmat Fajar

(foto oleh Rachmat Fajar)
(foto oleh Rachmat Fajar)

masa mengintip Kelana

membaca punggungmu, Kelana, hanya mengundang lebih dari belasan tanya juga puluhan duga. kenapa kau suka berdiam seperti itu begitu lama? kenapa masih saja kau suka memikirkan sekian banyak hal yang justru tak ada Manusia mau memikirkannya? Rerumputan yang membingkai sebentukanmu sibuk menenangkan agar aku menghilangkan saja semua sangka-sangka. mereka bilang kau sedang menggenapkan diri demi seutuhnya menjelma Pertapa.

mendengarkan bisumu, Kelana, hanya meresahkan lalu menyalalah Api memanaskan jantung dan terlepaslah arus liar darah macam Sungai mengamuk meminta kebebasannya. sampai kapan kau akan mengabaikanku, Kelana? sampai kapan kau terus mendengarkan Angin dan Pepohonan menyampaikan lebih dari ribuan Petuah? Rerumputan yang terus menahan gerakku mulai tajam menatap tanpa iba dan lantang berkata, “kau tak akan mampu menahannya menjadi Pertapa. itu takdirnya. kau tak boleh mengusik dengan kecemasan-kecemasan khas Manusia.”

– – – – – – –
*sebuah interpretasi terhadap karya foto dari Al Hadi Hamrah

(foto oleh Al Hadi Hamrah)
(foto oleh Al Hadi Hamrah)

tiba-tiba tak bisa mengabaikan Tuhan

aku mencari muka, lupa menaruhnya di mana
aku memanjangkan tangan, rasanya selimutku mendadak kesempitan
aku menemukan kumandang adzan tepat menyelinap di telinga bantal
aku (masih) terlalu malas untuk sembahyang,
namun sangat suka menemukan selengkung pantulan senyuman
ah, Tuhan, bagaimana mungkin aku tega mengabaikan Kau
yang sudah siap membuka tangan?
menanyakan aku perlu apa di terik ini siang?

– – – – – – –
suatu masa di hari Minggu yang paling nikmat diisi tidur tidur tidur dan tidur melulu

merindu Bintang

aku ingin sekali berandai-andai kau akan memanggilku dari atas sana. meraih tanganku yang masih saja tak jadi lebih besar dari tanganmu, mengajakku duduk di salah satu Awan yang diam-diam sama kita suka, sesekali tergoda mengajakku melakukan hal-hal tak terduga.

mana Hari Bintang kita? rasanya cukup lama Almanak dan Waktu tak mencatat keberadaannya. itu adalah hari dimana engkau akan membiarkan aku begitu sembarangan meruah-ruah bahagia, sementara kau hanya diam tersenyum menikmati kesemuanya dengan penuh bijaksana.

aku ingin sekali berani berharap akan segera mendengar suaramu memanggilku dengan setengah galak dari atas sana. menyapa kepala mungilku yang acap kali bersikeras membandel dengan lembutnya, menanyakan padaku kapan akan kembali melanglang kelana, sesekali mengingatkan tentang apa-apa yang luput dari bait-bait cerita.

mana Hari Bintang kita? apa kau tak merasa kehilangannya juga? itu adalah hari dimana kita sama merayakan sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar disadari kapan bermulanya.

 In The Starry Night ~mairimart
In The Starry Night ~mairimart

– – – – – – –
gambar: In The Starry Night (~mairimart — http://www.deviantart.com)
untuk: Bapak Bintang yang selalu ada di situ 🙂

aku rindu Cookies buatanmu

sebaiknya jangan ditanyakan kapan tepatnya, karena aku juga sudah lama lupa selain Ramadhan lah bulannya. ya, itu, pertama kali kenalnya kita. tapi aku masih ingat di mana, ketika berkegiatan di komunitas apa, dan seperti apa saat itu kau habis-habisan menahan memerahnya wajahmu karena diprospek dan digoda mutlak oleh seorang Nona Mungil, hahaha. ~,~

Air, kedatanganmu yang dihiasi atribut “lulusan magister mancanegara” plus label khusus “beasiswa” rupanya menjadi magnet kuat di balik tampilanmu yang bersahaja.

tapi jika aku ditanya apa yang paling aku suka dari kamu, tentu jawabannya bukanlah magnet spesialmu itu, Air. sama sekali bukan. akuuuu, aku jauh lebih suka dengan sudut-sudut pengambilan foto yang kau putuskan. lalu aku jauh lebih nyaman ketika kau ujung-ujungnya malah jarang memanggilku dengan nama yang biasa orang-orang gunakan melainkan Angin, terlebih jika kau mendapati aku sedang dalam kondisi “ajaib internasional” o_0

ya. Angin. kau bersedia memanggilku dengan nama yang aku sukai. sementara aku kadang memanggilmu Air sebagaimana juga kau sukai, meski kadang jail mengubahnya jadi Umiumi yang tak sekeren Mizu-sama, heuheu.

apa yang kemudian membuat kita berteman, entah sudahkah bersahabat atau masih di luar pagar, semata karena sadar-tak-sadar kita suka memaknai beberapa hal dan menikmati sekian perjalanan dengan cara yang kurang-lebih mirip ternyata.

hanya, belakangan baru sangat sangat sangat aku sadari, Air, ada satu hal yang diam-diam aku rindukan. itu pun sudah aku reduksi paksa dari setumpukan, karena aku punya janji pada diri sendiri untuk tak lagi membuat kekacauan. dan Ramadhan ini sungguh saat yang tepat sebagai pemuncakan bahwa: aku rindu Cookies buatanmu, Umiumi! >_<

yang Coklat. hanya yang Coklat. itu yang paling aku suka dari sekian rasa yang aku pilih-pilih untuk dicoba tahun lalu. aku rindu ngemil setoples Cookies Coklat sembari menghabiskan salah satu jenis liburan yang bisa dibilang kurang aku suka.

nun di dasar hati ini entah kenapa aku masih punya keyakinan bahwa setiap keping Cookies itu kau buat dengan bahagia, Air. karena kau suka melakukannya, suka menghabiskan waktu untuk mengerjakannya, bahkan jangan-jangan memang itulah yang paling ingin kau jadikan selamanya ~,~/

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

sebaiknya jangan ditanyakan kapan tepatnya, karena aku juga sudah lama lupa selain Ramadhan lah bulannya. ya, itu, pertama kali kenalnya kita. bukan disengaja pula jika ternyata bertepatan di Ramadhan aku menyadari sudah kehilangan sesuatu yang tahun lalu tak aku permasalahkan ketika harus kuhabiskan sendirian semua. sesuatu yang berkaitan erat denganmu.

bertoples dan berkantung Cookies dalam aneka rasa produksi rumahan yang sangat aku suka. utamanya yang Coklat! jangan lupa: yang Coklat! itu paling paling utama ~3~

dan jika saat ini aku ditanya apa yang paling aku ingin utarakan padamu, juga diam-diam berharap itu menjadi kenyataan yang kau sambut dengan wajah bahagia, sederhana saja: “kapan bikin Cookies lagi, Mizu-sama? aku rindu Cookies buatanmuuuu.

jangan pernah lewatkan Pagi meski dari dalam sekotak Kereta Api

terlepas dari rasa macam apa yang hadir pertama kali — rindu atau benci. lepas atau muak. bahagia atau nyeri. terkuras atau terpenuhi. sekarat atau terhidupi — jangan lupa lah engkau, Nak, untuk selalu menyambut Pagi.

biarkan tubuhmu mengenali luas Langit. tanamkan dalam jiwamu pasal perlunya tak henti menghargai. relakan senyummu membenamkan seluruh Semesta yang dingin dalam selembar hangat Ketulusan yang pantas diterima bahkan oleh sebuah Pagi.

terlepas dari kesusahan macam apa yang masih harus kau tanggungkan nun di dalam hati, jangan pernah lupa lah engkau, Nak, untuk selalu menyambut Pagi.

meski nyaris habis darahmu dihisapi oleh Inti Bumi. meski Awan-awan Hitam yang justru datang berarak tak mau sedikit pun berhenti menyelimuti. meski garang Badai meluluhlantakkan bahkan sehelai Berani. meski semua ternyata kau dapati hanya dari dalam sekotak Kereta Api.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)