Tag Archives: #Jayagiri

Jayagiri suatu Pagi

apa kau suka rebah tanpa pikir beralas Rerumputan? meski terdera basah Embun-embun ramai bersahutan? aku suka. sangat suka. terlebih bila Matahari perlahan merayapi Langit dengan anggunnya. aku suka. aku banyak banyak suka. meski sesudahnya Dingin akan sangat galak memberisiki berkata, “jangan lama-lama!”

bersama Jayagiri pada suatu Pagi

(foto oleh: Kuke)
(foto oleh: Kuke)
Advertisements

Butir Pagi September Jayagiri

satu terbingkai, lima terurai. demikianlah Butir Pagi September Jayagiri ini. satu gambar terbingkai, lima interpretasi terurai. satu sama lain saling lepas. dari satu, dua, tiga, empat, hingga lima.

tak perlu memaksakan diri menerimanya sebagai keunikan. rasanya tampak biasa saja. meski harus diakui masing-masing membutuhkan masa yang berbeda. ada yang dituliskan tepat berhadapan dengan proses terbitnya Matahari (ketika gambar dibingkai, 17 September 2012). ada yang baru bermunculan sepulangnya aku kembali dalam kekotaan.

satu terbingkai, lima terurai. itulah adanya Butir Pagi September Jayagiri. saling lepas, tak saling bercerita, hanya lompatan-lompatan yang bermunculan di kepala. tidak terlalu liar, meski tak tahu sudah jinakkah pertaliannya.

tak perlu memaksakan diri menerimanya sebagai keunikan. mungkin hanya aku yang terbawa dalam ragam perasaan. tapi setidaknya, mari nikmati formasi Tarian Kata-kata. jangan selalu mengabaikannya ~_~

– – – – – – – -Penasaran?? Lanjutkan..>

Nona Pohon dan Pemuda Kabut

Itulah kami yang hidup di Jayagiri. Telah tergariskan sekian cerita yang pada akhirnya hanya mengurung kami di sini sejak bayi, hingga menua, lalu mati. Bergantian Matahari dan Bulan mewarnai juga menggelapi. Berkali Bintang turun aksi. Sesekali keliaran lainnya unjuk diri. Namun tak ada yang sememikat para Pemuda Kabut yang selalu saja menyertai Dewa Kabut turun ke rumah kami. Mereka yang tak pernah berwajah susah hati.

Para Pemuda Kabut tampan mempesona. Keseluruhannya sungguh pengasih dan penuh cinta. Tak ada yang pernah memaksa menyetubuhi kami para Nona Pohon. Tapi apa mau dikata ketika hasrat tak terelakkan di tiap-tiap awal sentuhan mereka pada kulit kami. Entahlah ini anugerah. Entahlah ini kutukan. Tak ada satu Lelaki Pohon pun berani angkat bicara jika kami para Nona Pohon kekasihnya secara terbuka bersetubuh dengan Pemuda Kabut.

Itulah kami yang hidup di Jayagiri. Meski berakar lalu punah di tempat yang sama, masih saja terkejut-kejut dengan turunan-turunan misteri. Bisa kau lihat kini, para Pemuda Kabut yang lekat dalam puluhan hingga ratusan menit, mencumbui Nona Pohon tanpa ada yang sakit hati.

(pemotret: Gelar Taufiq Kusumawardhana)
(pemotret: Gelar Taufiq Kusumawardhana)