Tag Archives: #Geotrek

di Danau Kawah Galunggung

kami jarang sekali berfoto bersama. ya. kami. beliau dan saya. sosok yang saya kagumi dan saya yang mengaguminya. meski ada sekian jumlah kegiatan yang membuat kami bertemu lalu menikmati perjalanan bersama-sama, kami jarang sekali berfoto bersama dengan sengaja. beliau ini adalah Ayah Alam saya. T. Bachtiar namanya. orang yang menurut saya sangat langka keberadaannya. tak ada hubungan kekerabatan apalagi darah. tapi seperti itu sajalah kami berjalannya selain seorang Guru lah pula kemudian buat saya.

jika mau dihitung, ada lebih dari puluhan orang pintar di Bandung, Indonesia, bahkan Dunia. tapi, seberapa banyak sih yang bisa menyederhanakan hal-hal rumit agar lebih mudah dicerna? seberapa banyak juga tokoh cerdas yang tetap bertahan baik juga bersahaja dengan kesediaan merangkul dan terus merangkul orang-orang disekitarnya? seberapa banyak orang yang di setiap langkahnya tidak cuma mementingkan dirinya sendiri? seberapa banyak orang yang rajin mengingatkan, “ayo terus motret! ayo nulis!” tanpa dirinya lupa untuk juga tetap memotret dan tetap menulis? seberapa banyak orang yang dengan tanpa malu-malunya ikut berjoged agar seorang Bocah Pengamen diperhatikan lalu diberi uang oleh lebih banyak pengunjung suatu kawasan wisata? seberapa banyak orang yang punya banyak energi untuk menghibur orang-orang lainnya dengan menari ala Balerina sementara saya menjadi Penyanyi Latar-nya? beliau sudah menyenangkan sejak kali pertama kami berkegiatan bersama (28 November 2009). ternyata lebih menyenangkan lagi di kegiatan-kegiatan berikutnya dengan segenap kekurangan, kelebihan, sampai setumpuk materi belajar yang tidak pernah dipaksakan untuk saya cerna. ya, tidak pernah memaksa.

dan tadi, Pagi tiba-tiba mengingatkan saya untuk melihat-lihat sederetan gambar tentang saya yang diunggah oleh kawan-kawan di jejaring sosial. menemukan kembali foto ini. memutar kembali rekaman perjalanan tepat di rangkaian Jelajah Geotrek Galunggung serta satu perjalanan pendahuluan sebelumnya. lalu terbetik paham sudah. sepertinya saya sekarang paham. iya. paham. paham kenapa Dewa Bumi-lah nama yang disematkan pada Ayah Alam saya. sekarang saya paham.

Dewa Bumi & Angin di Danau Kawah Galunggung (foto oleh Ardi)
Dewa Bumi & Angin di Danau Kawah Galunggung (foto oleh Ardi)
Advertisements

Semesta. Manusia.

*renung di setiap jatuhan sinar Matahari yang tak pernah ragu

aku tak memintamu untuk terlebih dulu datang ke Candradimuka agar jelas mampu kau lurus menatap kearahku. bahkan tak ada barisan kata menyita ruang-ruang Lontar demi kemudian kau penuhi dan layaklah dirimu melahap habis keseluruhan rahasiaku. aku tak merasa perlu menjadi begitu pongah hingga menyusahkan kau dalam kepentingan menikmatiku. aku tak merasa harus menjadi begitu tinggi ketika menghadapi kau yang butuh menyesapku lebih dalam dari tiap kali ke kali sepanjang umurmu. apa haknya aku menjadi begitu? karena Manusia lah engkau dan Semesta lah aku?

aku tak mau mengkusutkan untaian Benang Merah penghubung batinku dan batinmu. kalau lah itu terjadi, tak mau aku itu semata karena ulahku yang menaikkan dagu dan membusungkan dada terhadap kehidupanmu. aku tak merasa perlu menjadi begitu pongah terhadap kau yang berdampingan hidup denganku. aku tak merasa harus menjadi begitu tinggi ketika menghadapi kau yang sudah terlalu sering tergoda memandangku rendah dan semakin rendah bahkan dari dataran yang tak seberapa tinggi dibanding umurku. apa haknya aku menjadi begitu? apa haknya aku menjadi begitu? karena Manusia lah engkau dan Semesta lah aku?


sepanjang lingkup Hutan Kecil Tahura. sepanjang perjalanan Jelajah Geotrek Lembah Ci Kapundung. 12.05.2012.

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)


Si Tinggi Gagah Curug Malela Sangat Menakjubkan

Mau menahan rasa kagum, susah! Air terjun yang terbentang di depan mata ini bukan tipikal air terjun tunggal. Lebar. Lebih lebar dibanding yang biasa. Bisa jadi lebarnya puluhan meter. Tinggi. Gagah. Mau menahan rasa kagum ya jelas susah! Meski masih jauh jika nama Niagara dihadirkan, Curug Malela ini tidak bisa tidak dirasa menakjubkan.

Sekitar 87 kilometer lebih menjauhi Bandung, dua truk TNI yang membawa Keluarga Mata Bumi melalui paduan jalan beraspal dan jalan berbatu. Rute Cililin – Sindangkerta – Gunung Halu – Bunijaya – sampai saat masuk Perkebunan Teh Montaya masih disuguhi jalan aspal mulus. Truk kami bahkan berpapasan dengan aktivitas pengaspalan ulang.

Namun sesudah perkebunan teh, kondisi jalan berubah. Berbatu. Licin. Ada belokan tajam yang bisa dikatakan mengerikan karena postur truk yang digunakan. Tetapi ketika sudah memasuki Manglid, deg-degan jadi berkurang. Manglid? Ya. Manglid. Itulah nama kampung yang dituju. Tercatat sebagai bagian dari Kabupaten Bandung Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Hingga jika dituliskan, alamat lengkap Curug Malela adalah Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.

Ingin baca lanjutannya?? Ini bukan posting ulang tapi mengkisahkan ulang loh. Ada bagian yang berbeda, tapi masih dengan kekaguman yang sama 🙂 oke, silakan ke sini ini yaaa  (http://www.pikiran-rakyat.com/node/151086)

Resep Awet Muda di Curug Tilu Kab. Bandung Barat

ADA dua kegiatan yang termaktub dalam Resep Awet Muda Manusia. Siapa yang mewariskannya, aku belum bisa mengetahui dengan pasti hingga kini. Tertarik untuk awet muda pun sebenarnya tidak. Tapi, tanpa disengaja, sudah beberapa tahun belakangan aku melakukan dua kegiatan tersebut, yaitu: (1) Jalan-jalan ke alam bebas, dan (2) Habiskan waktu berbahagia bersama banyak ragam kawan. Dan tanpa tersadari, aku lupa umur, ha ha ha.

Salah satu liburan singkat yang menyenangkan yang aku ingat benar adalah ketika mengikuti Lava Tour Ci Mahi Hulu bersama Komunitas Mata Bumi. Senang bertemu dengan Pak Bachtiar lagi, bertemu Ritchie lagi, bertemu Denny lagi, bertemu Devi lagi, bertemu teh Nita lagi; Yah, sekitar setengah dari keseluruhan kawan yang berjalan-jalan di hari itu aku sudah kenal. Setengah lainnya – termasuk tim inti Mata Bumi – aku baru kenal. Tapi tidak masalah, kegembiraan itu ya sudah semestinya hanya diisi dengan kegembiraan kan? Aku menikmati.

Selanjutnya baca di sini ya ^_^ Resep Awet Muda di Curug Tilu Kab. Bandung Barat

Machu Picchu kecil di Jawa Barat

sumber: cavepainters.blogspot.com

.

Maka salahkan saja animasi The Emperor’s New Grooveyang mengenalkan nama Cuzco pada telinga dan ingatanku. Maka salahkan saja rasa penasaranku hingga akhirnya kutemukan Machu Picchu dengan segala kesukaan meretas padu. Khayalku segera terpenuhi dengan kehidupan wara-wiri ala ratusan tahun lalu. Aku mengagumi. Aku menyukai garis besar detail dari kompleks reruntuhan yang terletak pada ketinggian sekitar 2350 m di atas permukaan laut tersebut. Itulah salah satu jejak Kerajaan Inka, dipercayai sebagai situs keagamaan pada masanya karena berada di tempat yang paling tinggi dan dikeliling pegunungan.

Beberapa pihak mencoba memetakan kembali situs penyimpan cerita sejarah ini untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang apa saja yang ada di sana. Hasil penggambaran itu menegaskan bahwa, ya, disinilah suku Inka memusatkan peribadatannya pada Dewa-dewa mereka. Pemujaan, persembahan, ritual. Tak heran jika ada satu kesan yang masih begitu kuat jika melihat Machu Picchu dari beberapa sudut tertentu dan dalam kondisi tertentu. Boleh percaya, boleh juga tidak. Itu hak pribadi masing-masing.  Penasaran?? Lanjutkan..