Tag Archives: #Dieng

enam jam di Negeri Kabut #4

#4. biarkan ditutup warna

Aku tak bilang aku menemukan rentangan Jembatan Pelangi di Negeri Kabut. Bagaimana mungkin? Tak ada satu titik air pun yang jatuh dimulai tepat pada detik kedatanganku. Adanya hanyalah Matahari yang begitu bersemangat bersekutu dengan para Awan, Langit, dan Angin membukakan kecerahan tanpa merasa perlu sungkan sampai malu.

“Sudah mulai berawan ya? Birunya mulai berkurang.”

“He-em. Tuh.. awan mendung sudah jalan dari sana..”

“Satu tempat lagi langsung turun ya.”

“Memang penutupnya satu tempat itu saja kok.”

“Sip. Biar tidak kemalaman sampai Yogya-nya.”

Aku mengangguk. Sedalam-dalamnya mengangguk karena sedalam-dalamnya paham. Meski begitu ya tetap celingukan tak mau melewatkan setitik pun sudut terkecil kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawahku. Lima puluh satu menit ke depan aku sudah harus meninggalkan Negeri Kabut! Pamungkasnya menghargai jerih payah seluruh Semesta yang sudah menghadiahkan kecerahan ini dengan menikmati dan menghayatinya baik-baik. Aku tak mau kehilangan begitu saja apa-apa yang bisa dirasakan dan didapat di negeri dataran tinggi ini. Termasuk perbincangan-perbincangan dengan seluruh penghuninya tanpa terkecuali. Hahaha maaf.. maaf. Bukankah aku ini identik sebagai si Orang-yang-Aneh? ~_* Tapi asal kau tahu saja, aku tak bisa menahan cemas akan modernisasi sudah siap melahap habis apa yang tersisa di sini.

Negeri Kabut.. Negeri Kabut.. kapan adanya kau membiarkan seluruhku terkurung kabutmu? Aku tak merasa kau harus cemas akan ketidakmampuanku bertahan di dalam sesungguhnya dirimu. Bukankah kita belum sama-sama tahu? Memang mungkin sebaiknya kali pertama dinikmati sepenuh-penuhnya warna. Hanya saja, tolonglah, kali lain sambut aku dengan dirimu semurninya.

Wahai Negeri Kabut, aku melanjutkan perjalananku dulu ^_^

enam jam di Negeri Kabut #3

#3. berpandu awan, langit, angin, dan matahari

Riang langkah kaki. Riang nyanyi hati. Jalanan yang sepi, meski sesekali dilalui rombongan mobil dan bus pariwisata, masih sempat kami perlakukan sebagai panggung tari. Langit sungguh cerah biru. Awan-awan mendung dan Kabut seperti sedang menghilang ditelan Bumi. Satu-satunya yang terpinta agar tidak cepat-cepat datang adalah rasa lelah. Jalan beraspal, menanjak, menurun, jalan tanah, rumput-rumput mulai tak basah. Ah, jadi ingat perbekalan air nih, masih cukup tidak ya?

“Hai, mungil.. hai..”

“Eh? Ada apa Matahari?”

“Mana topimu? Tidak kau pakai?”

Aku baru menyadari, itu pun karena Matahari. Aku tidak membawa si topi yang biasanya tak pernah absen dari perjalanan-perjalananku. Bukannya sengaja, namun lebih karena aku sudah lama tidak melihat si topi di sudut-sudut utama kamarku. Haduh, bukan hilang kan ya? Semoga jangan. Ia topi yang aku sayang!

“Wah, justru tidak aku bawa. He he.”

“Waduh. Aaa.. aku tidak terlalu panas kan? Aku hanya mencoba mengimbangi dingin.”

“Aaa.. tidak apa-apa. Aku masih kuat kok. Tenang saja.”

Aku membidik Matahari agar ia tak semakin cemas. Tentunya tanpa lupa memamerkan senyum yang katanya sih sangat ia suka.

“Hei.. hei.. apa tidak apa-apa menantang Matahari begitu?”, si Gunung menahan terpekik melihat polahku yang tegak diam berhenti dulu.

“Tidak apa-apa. Ini cantik kok.”

“Lensa kamera?”

“Aman.”, jawabku singkat mengerling mata.

Ah, andai saja si Gunung bisa melihat Matahari agak malu-malu, berusaha tak kaku bergaya. Tak beda halnya dengan dirinya yang juga seringkali bertingkah sama. Hi hi hi.

Aku bersegera mengejar ketertinggalanku dari si Gunung. Sekuat hati berusaha tak makin membuat Matahari kepikiran dengan kecerahan yang sudah ia rancang bersama dengan Langit dan Awan. Papan penunjuk arah yang tidak terlalu banyak benar-benar menggantikan fungsi oase meski ini bukan di Gurun Pasir. Setidaknya aku dan si Gunung tidaklah jadi sering-sering berhalusinasi, utamanya sejak melewati Bima sebagai candi terakhir. Bukannya apa, kami sempat menyangka reruntuhan pabrik jamur yang cukup luas sebagai peninggalan kuno yang tidak lebih tua dari candi!

Butir-butir keringat berlomba dengan Angin. Puluhan butir lahir, satu sapuan meniadakan. Puluhan butir melihat dunia, satu sapuan membuyarkan angan-angannya. Begitulah mereka berdua, Keringat dan Angin. Aku sampai nyaris tergelak, padahal si Gunung sedang berusaha agar aku menyimpan tenaga dan menormalkan kembali laju nafasku yang acak-acakan. Aaa.. aaa.. aah.. tapi aku membatalkan tergelak, Gunung juga serempak ragu melangkah. Kami sama-sama terhenti lalu kilat memutuskan untuk cepat-cepat saja melangkah. Cuma cepat melangkah, tidak sampai berlari adanya. Ternyata ada ketakutan yang sama singgah pada kami berdua. Gerbang pipa gas besar!!

Sesudahnya ya ketakutanku belum berakhir, berbanding terbalik dengan si Gunung yang sudah cerah lagi. Aku tak mau sedikit pun mendekati Sikidang. Biarlah aneh apa kata orang, aku tak mau mengambil resiko mengabaikan larangan hatiku saat itu. Untungnya Gunung mengerti, tapi tetap meminta kesediaanku membiarkannya pergi memotret kawah unik aktif tersebut. Baiklah, untuk memotret, sekedar memotret lalu segera kembali. Gunung bersegera berlari. Lalu untuk beberapa menit aku merasa ditarik ke dimensi waktu lainnya dimana semua berjalan seribu kali lebih lambat. Cepatlah, Gunung. Cepatlah!!

*bersambung*

enam jam di Negeri Kabut #2

#2. menyesap hening damai

Aroma embun habis-habisan menyergap indera penciumanku. Andai saja tak malu pada setiap bunga rumput, kupu-kupu, domba, dan kecerahan yang terbuka pagi ini, inginnya aku menghempas tubuh penat semalaman tertekuk di bus menikmati permadani rumput alami masih berbasah pagi.

Aku menahan diri. Aku menahan diri. Aku menahan sampai akhirnya tak lagi bisa tahan. Aku harus menyapa tiap titik air yang bergelayut menunggu sirna di rerumputan. Mereka semua sungguh cantik seperti berlian. Kalaupun terlalu banyak, biarlah aku menunjuk beberapa perwakilan. Setidaknya aku lakukan, harus aku lakukan. Kalau bukan dengan cara seperti itu, dengan apa lagi bahagia saling berbalas?

Ujung celana panjangku basah. Bagian bawah ranselku yang tersentuh rumput ya basah. Sepatuku jelas basah. B-a-s-a-h. Hanya si Ungu yang terjaga tetap kering. Namun teguk demi teguk aroma hening damai milik tiap titik air di rerumputan sepertinya memabukkan mereka hingga tak merasa perlu berkeberatan semakin dingin dan memberat karenanya.

Selirik pada si Gunung, ia malah menggamit lenganku lalu menunjuk ke arah bayangan kami di hamparan hijau. Ini bukan soal Matahari sudah makin meninggi. Ternyata ini soal Gunung dan Laut yang saling mengabadikan jejak bersama di sini, di Negeri Kabut.

Berikutnya kami memutuskan untuk saling berpencar menenggelamkan diri di arena bebatuan. Langkahku mulai liar. Pergerakan bola mataku sudah berlipat cepat dari biasa, berpacu dengan putaran imajinasi. Sebentar saja Mi Instan Rebus plus Telur sudah kehilangan taring penguasanya di dalam perut sana, padahal belum lebih dari 30 menit! Tapi itu bukan soal. Sama sekali bukan soal. Aku terus saja meliar sebagaimana adatku tiap bertemu bebatuan. Aku membiarkan jemariku merasakan permukaan demi permukaan. Aroma kembang dan bakaran dupa memberi salam setiap kali aku terhisap masuk, menaiki anak-anak tangga kecil, mendekati kegelapan yang tak terlalu aku suka. Tapi sekali lagi itu bukan soal. Udara bergerak bersih bebas sesudahnya. Kegelapan itu tak akan jadi soal. Belum lagi biru langit dan gugus pegunungan yang berkeliling mencoba berbaur sebagai latar penguat Arjuna, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Semar, Setiaki. Bagaimana kemudian Gatotkaca dan juga Bima ya? Waaaa..

“Hai! Kenapa itu senyum-senyum sendiri terus? Bahagia ya?”

Ah? Sudah mulai begitu? Aku? Hahaha. Dengan penuh kesadaran aku menjawab pertanyaan berjarak 100 meter dari si Gunung itu dengan anggukan dan senyum lepas selepas-lepasnya. Aku bahagia! Berlipat-lipat ganda, aku b-a-h-a-g-i-a.

O iya, tadinya aku dan si Gunung bahkan bersikeras ingin menemukan beberapa telaga di sekitaran para candi. Anehnya kami bagai tersesat di ladang basah terbuka. Hei, di mana gerangan mereka yang tertera dalam peta? Buku panduan pendukung dan kompas dikeluarkan. Setiaki menjadi saksi kami yang kebingungan. Terik makin bersikeras. Satu dua teguk air ambil peran. Kepanasan. Dalam selimut dingin ini aku merasa makin kepanasan.

“Kita ke tempat yang lebih tinggi saja. Mungkin nanti akan terlihat?”

“Heem.. ya.. sepertinya itu lebih baik. Ayo lanjut saja kalau begitu.”

Tak lagi memilih setapak basah, kami mengikuti alurnya jalan batu buatan sebagai cara teraman untuk sampai di pemberhentian berikutnya sekaligus menemukan tempat yang lebih tinggi. Aku dan si Gunung masih penasaran akan telaga-telaga dalam peta. Mereka sebenarnya ada di mana?

*bersambung*

enam jam di Negeri Kabut #1

#1. kedatangan

Aku menamainya Negeri Kabut. Setiap cerita dari mereka yang telah berhasil mencapainya, setiap lihatan yang wara-wiri di berbagai media, kawasan itu seperti sangat jarang kenal cerah panjang. Entah apakah Matahari akan sempat mengeluh. Pastinya aku tak kurang keyakinan bahwa dalam Negeri kabut itu ada damai dan bahagia.

Ini bukan perjalanan panjang di atas roda membelah daratan yang pertama. Tapi ternyata masih saja aku dikurung debar-debar menjurus kegairahan sebagaimana kali pertama aku terlibat dalam perjalanan demi perjalanan. Buatku, lengkungan Bulan Sabit sekitar pukul 3 dini hari sudah macam senyuman yang menyambut menjelang ujung perjalanan ke Timur ini. Wah, apa Bandung akan keberatan ya? Iya, sempat terpikir begitu olehku, karena aku dilepas pergi dengan Hujan. Em, tapi bisa juga bukan begitu, bisa jadi Hujan itu sebentuk restu. Lagipula Bandung tak perlu cemas, kan ada si Gunung menemaniku. Aman kan?

Tanpa terasa Langit pelan-pelan benderang. Sergapan dingin dini hari yang terbuka fajar sudah tidak lagi bisa dihirup dengan sekedar tenang tanpa perangkat penghangat badan. Kejutan awal yang diberikan Sindoro sepertinya menjadi satu-satunya pengganjal kedua mataku yang tadinya masih ingin tidur. Sementara si Gunung, jangan ditanya. Begitu kelegaan dan kebahagiaannya yang pertama memuncak dalam sergapan bayang Sindoro di biru gelap pagi, dengan manisnya ia tertidur.

Aku merasa bekejaran dengan para pengawal gerbang Negeri Kabut. Namun di kali berikutnya aku seperti hanya sedang bekejaran dengan waktu yang terus menarik Matahari keluar melintasi batas yang ditetapkan sebagai ambang keindahan. Entahlah. Aku tersengal. Aku benar-benar tersengal. Sesadar-sadarnya aku menapaki ketersengalan yang semestinya menjadi satu-satunya hak mesin bus kecil ini melintasi tanjakan yang belum kupaham di mana ujungnya. Kaki-kakiku ingin segera melompat turun. Kedua mataku meliar di segala penjuru. Si Ungu terbiarkan nyala tanpa punya ketertarikan untuk protes. Jiwa anginku merebak mendapati Langit terkuak biru. Hei, apa sungguh ini Negeri Kabut itu? Mengapa keseluruhan kabutnya meretas jadi senyum? Kenapa juga para pengawal gerbang Negeri Kabut mendadak berhenti, tegak di tempat tanpa lupa melambaikan tangan. “Selamat datang!”, teriak mereka.

Sekedip aku mengubah haluan pandang menjadi depan, sudah hilang jejak kilatan-kilatan mata curiga berganti kesejukan titah bersuka cita. Ada apa ini? Apa sungguh inilah Negeri Kabut yang sibuk mengisi lintasan ingatanku sejak mulanya dulu? Kenapa kecerahan yang menyertai perjalananku? Argh, si Gunung masih saja tertidur pulas!!

“Kenapa kau tampak bingung seperti itu, mungil?? Apa sambutan hangat ini malah menyakitimu??

“Negeri Kabut ini jauh dari dugaanku, Matahari.”

“Kau tak mengharapkan aku sejelas ini??”

“Aku sudah membayangkan bisa menikmatimu tanpa perlu memicingkan mata kesilauan.”

“Dan kau akan lebih bahagia dalam kurungan para Kabut??”

“..”

“Setiap yang datang berkunjung justru mendambakan kecerahan macam ini, mungil.”

“..”

“Apa kau pun tak peduli jika ini hari pertamaku kembali muncul sempurna sesudah Hujan pun tak habis pikir kenapa susah sekali dia untuk berhenti?”

“..”

“Apa kau tak ingin menyambut senyumku di atas Awan begini, mungil?”

“Bukan begitu..”

“..”

“Jangan tersinggung, Matahari.”

“Senyumlah kalau begitu.”

“Aaa..”

“Kau sudah tiba di sini. Semua kami sudah saling menerima kabar sejak semalam pasal kau datang ini hari. Semua sudah siap mengambil tempat terbaik agar bisa kau abadikan dengan si Ungu, mungil.”

“Benarkah?”

“Apa ada gunanya aku mendustaimu sepagi ini?”

“..”

“Segalanya terbuka untuk mu sepagian ini, mungil. Berbahagialah dengan cara kesukaanmu. Kami turut.”


*bersambung*