Tag Archives: #DebutKaryaFotografi

“Spiritualism in Indonesia” (debut lintas benua)

berawal dari ketertarikan mencoba. tidak memikirkan skala dan level pameran, tidak memikirkan selain ‘mencoba’. spontan saja mengirimkan 2 (dua) karya sederhana di jelangan minggu terakhir September 2012. lalu tak perlu lama, sudah mendapat kabar hasil seleksi dari KJRI Frankfurt (sebagai penyelenggara) di 4 Oktober 2012. jelasnya, sebuah kabar gembira. Beuntang Boeh Larang terpilih. salah satu karya hasil padu kerja si Ungu (si pocket-digicam A1000IS) dan saya terpilih untuk dipamerkan dalam “Spiritualism in Indonesia” yang diselenggarakan oleh KJRI Frankfurt bekerjasama dengan Departemen Antropologi Universitas Heidelberg. masih tak terpikir perihal skala dan level pameran karena ingatan saya spontan merekam ‘Heidelberg’ dan ‘Jerman’. ya. karya saya akan dipamerkan selama kurang lebih sebulan lamanya di Universitas Heidelberg, dan itu adanya di Jerman. ‘debut lintas benua!’, itu kelanjutan gemerlap pikir saya. sederhana saja.

terima kasih pada Tuhan. terima kasih pada Semesta. terima kasih pada Olot dan Masyarakat Kampung Adat Geger Sunten. terima kasih pada sebuah kesempatan mengabadikan ritual Beuntang Boeh Larang dalam Festival Budaya Masyarakat Adat Tatar Sunda akhir Mei lalu. terima kasih pada Ungu yang setia sampai keuzuran mulai menggerogotinya. terima kasih pada Pak T. Bachtiar, pada Mas Arya Sadhewa, pada siapa dan apa saja yang telah bersedia mengajari dan mendukung saya untuk memotret, memotret, dan terus memotret tanpa terlupa esensi dari setiap tangkapan. saya bahagia. sesederhana ini saja, saya sudah sangat bahagia ~_~

dan ini baru awal. saya belum boleh berhenti belajar dan berkarya. terus belajar dan berkarya. sesederhana apapun, tak boleh menyerah untuk terus belajar dan berkarya. sampai sebuah akhir menghampiri dan selesailah hidup saya ^.^

Fotoausstellung "Spiritualism in Indonesia", Heidelberg University
Fotoausstellung “Spiritualism in Indonesia”, Heidelberg University

Lais di Langit

sepuluh dari lima ratusan. bayangkan perbandingan yang ditimbulkan. maka buatku untuk tak bahagia atau kecewa atau sekedar berkata lumayan ya sungguh tak ada alasan. itulah semurni-murninya keajaiban. sepuluh dari lima ratusan. Lais di Langit-ku ada dalam sepuluh dari lima ratusan ~_~ kembali si Ungu memperlihatkan keajaiban. ia bersedia tak gentar berdenyut hidup bersamaku dalam kalang perbedaan yang sungguh timpang. Langit dan Awan pun ternyata turun memberikan bantuan. hingga jadilah sepuluh dari lima ratusan. sepuluh dari lima ratusan.

Lais di Langit (foto oleh Kuke untuk Tatar Sunda Photo Awards 2012)
Lais di Langit (foto oleh Kuke untuk Tatar Sunda Photo Awards 2012)