Tag Archives: #CiTarum

Catatan Kecil dari Ci Tarum Purba

kepulangan singkat ke Ci Tarum Purba adanya mengingatkan kembali kebaikan-kebaikan apa saja yang telah diberikan Air selama ini. dalam alirnya, sebagaimana yang telah Ci Tarum lakukan, melimpahi begitu banyak bagi Kehidupan. dimana kesemuanya itu dilakoninya tanpa pamrih, tanpa prasangka, tanpa mengeluh lelah.

7 kilometer Ci Tarum yang terjaga aku yakin bukan ditujukan semata buat bersenang-senang saja. 7 dari 297 kilometer yang ada tentu bukannya semacam sebentuk permintaan untuk diabadikan lalu dilanggengkan sebagai pajangan selamanya. dalam sepotong kecil itu disimpankan Harapan bagi 290 kilometer lainnya agar dapat berkesempatan kembali berbahagia berbagi dan mengalirkan Kehidupan yang mengundang sejahtera dan senyum seluruh Penghuni Semesta; bukan semata menanggungkan apa-apa yang telah diperbuat Manusia bahkan meracuni hidupnya.

Advertisements

jangan biarkan Sungai..

bagi Bocah: Air adalah Kawan Bermain yang menyenangkan — ia tak akan ambil pusing tentang masih bersih atau sudah tercemarkah, beraroma menyegarkan atau mendekati busukkah; karena ia hanya tahu bahwa ia senang dan senang dan senang.

begitu pun dengan Bocah Lelaki ini. meski tak selalu berada di sana, entah kenapa aku yakin setiap hari entah berapa kali ia dengan ringan melangkah lalu merendamkan tubuh dan berenang-renang di bagian Ci Tarum berair kelam sebagaimana terlihat. ada kemungkinan ia sudah kebal hingga tak terlalu terganggu dengan dampak gatal-gatal. tapi apakah itu adalah sebuah pengecualian yang selamanya bisa diam dihalalkan? membiarkan Sungai semata diberdayakan sebagai tempat pembuangan?

– – – – – – –
Bantar Caringin, Rajamandala, 6 November 2013

(foto oleh kuke untuk Cita Citarum)
(foto oleh kuke untuk Cita Citarum)

dia yang mengalir sampai ke hati

adalah dia yang begitu istimewa. tertemui pekat dipenuhi beragam warna namun ternyata begitu jernih Hijau mendamaikan di satu sudut tersembunyinya. tak banyak hati yang bersedia jatuh mencinta. namun dia tak patah harap pula dalam kungkungan sara kesakitan yang seringnya tak bersedia didengar Manusia. dia terus mengalun, terus mengalir, sesekali titip pesan pada Angin agar terpanggillah sekian jumlah Hati tempatnya akan belajar percaya lagi. dia memang istimewa. pantang menyerah dalam gempuran limbah dan ketakpedulian. dia jelas istimewa. keyakinannya tak diragukan seisi Semesta.

– – – – – – –
lokasi rekam-gerak: Sanghyang Poek (Ci Tarum Purba) dan Sanghyang Tikoro (Ci Tarum) :: musik latar: E.S. Posthumus – Vorrina Pi :: perekam-gerak: Ayu ‘Kuke’ Wulandari :: 14 September 2013

pagiku terdampar di Ci Tarum

beranjak ku bergegas agar tak sampai terkejar Matahari tepat ketika tunduklah seutuh hatiku, terbenamlah kedua kakiku, terbasuhilah hangat wajahku dengan kesejukan abadimu.

Tarum.. Tarum..

entah kenapa sepagi ini aku semata membaui aroma manis Loa yang berdiam di pinggiranmu bersama si Hiu yang sudah membatu itu.

beranjak ku bergegas menemui Langit sebelum sempat Matahari membakar ujung-ujungnya tepat ketika sampailah sekecup rinduku, tergenangilah kedua mataku, terlipurlah luka-luka di sekujur tubuhku dengan ketulusan tak tertandingi milikmu.

Tarum.. Tarum..

entah kenapa sepagi ini aku begitu saja terlempar jauh hingga berdiam berdetik di peradaban yang memuliakanmu.

– – – – – – –
*bangun tidur. dengar musik bagus karya teh Uta Wirasasmita. lalu rindu Ci Tarum. begitu saja 😉

satu lagi “Tarum” buat Ci Tarum

sejak mengenalnya di awal Agustus 2010, sejak dengan sadar telah jatuh hati dengan begitu saja entah kenapa, sejak berjabat tangan dan menemukan binar di sepasang mata Mbak Diella Dachlan, sejak bersentuhan langsung dengan para Tarum yang begitu muda dan penuh harapan, sejak ingin terlibat ini-itu-apa-sajalah yang ada manfaatnya, aku terus sibuk bertanya “apa yang bisa aku lakukan untuknya?

karena jika benar ini cinta namanya, maka semestinya ada “wajah” bukan semata “suara” meski tak ada yang pernah benar-benar tahu bagaimana semua berakhir nantinya bukan? 😉

satu lagi “Tarum” buat Ci Tarum *membungkuk tanda hormat*

*foto-foto dalam slide-show di atas merupakan hasil liputan kegiatan Uji Coba Kukuyaan Citarum perdana di Hulu Ci Tarum pada akhir Juni 2013 lalu. selamat menikmati 😀

suatu hari di Ci Santi

ada kejadian lucu di kegiatan Geohumanism Sabtu lalu (02.03.2013), tepatnya ketika kami sedang berada di Situ Ci Santi. seorang Adik Mahasiswa (Geologi ITB atau bukan ya yang satu ini?) dengan wajah manis meminta, “Kak, fotoin aku dong, Kak.” ~_~

hehehe, jelas aku tidak menolak memotretkan. aku senang, ia akan senang, jadi ya sudah ~_~ satu klik. dua klik. terpenuhilah permintaannya.

tapi, ternyata-eh-ternyata, ia langsung lompat kegirangan, berlari ke arah Kawan-kawannya sambil berteriak-teriak senang, “horeeee, besok masuk Kompaaaasss! horeeeee.”

heh? besok masuk Kompas? *deziiig* -_-“

setelah tanya-punya-tanya, beredarlah kabar singkat di antara mereka bahwa si aku adalah Wartawati, dari Media katanya *pingsan*

padahal sebelum itu, di perhentian Pacet, Bowo (Kepala Rombongan) sempat menyampaikan ‘tuduhan’ ya dari Kawan-kawannya (dalam rombongan juga), “eh, itu anak es-em-pe dari mana sih kok ikut-ikut?” *hemmm*

menjelang tangga menuju gerbang keluar Ci Santi, seorang lainnya berjaket Kuning GEA kemudian bertanya, “jadi Kakak ini sebenarnya profesinya apa sih, Kak?”

aku dengan santainya kemudian menjawab, “ooh, itu, tiap Selasa dan Rabu jadi Dosen sih. sisanya bebas. kecuali ada jadwal tambahan atau pengganti.”

hening melanda. iya, hening melanda. sampai beberapa saat kemudian baru muncul lagi pertanyaan si aku ini mengajar di institusi mana ~_~

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)

Pikukuh Urang Baduy

Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu menang diruksak
Larangan teu meunang dirempak

Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung

Nu lain kudu dilainkeun
Nu ulah kudu diulahkeun
Nu enya kudu dienyakeun

Mipit kudu amit
Ngala kudu menta
Ngeduk cikur kudu mihatur
Nyongkel jahe kudu micarek
Ngagedag kudu bewara

Nyaur kudu diukur
Nyabda kudu diunggang
Ulah ngomong sageto-geto
Ulah lemek sadaek-daek

Ulah maling papanjingan
Ulah jinah papacangan

Kudu ngadek sacekna
Nilas saplasna.

– – – – – – –
renungan:
apa kekinian akan berbanding lurus
dengan kehilangan keseimbangan
dan kehancuran Alam Semesta?