Tag Archives: #Bromo

Bromo, selamat pagi..

butiran Pasir Penyanyi
Orkestra Semesta mumpuni
Bumi dan Langit yang tersenyum cerah sekali
Bromo, selamat pagi ~,~/

(foto oleh: kuke)
(foto oleh: kuke)
Advertisements

pada sebuah Pagi yang tak berkata apa-apa

kami saling berdiam diri, aku dan Matahari. tak perlu dipertanyakan, senyum kami telah saling memberi salam. tak guna dipersoalkan, lengannya telah menggamit lenganku hingga jalanlah bersisian. Pagi pun ternyata memilih enggan menghabiskan bisu yang telah dibiarkannya hidup sejak semalam. Pagi tak berkata apa-apa. namun aku dan Matahari tahu tak ada pendukung sesetia dia.

– – – – – – –

berdekatan Bromo. suatu hari.

.

(foto oleh: kuke)

..

namaku: Angin. aku suka sekali bepergian bersama Udara, meLangit tanpa merasa perlu menghiraukan sekitaran, merayu Matahari, bercanda dengan Debu Pasir yang tak ingin sekedar diinjak dan ditepis. aku ingat di hari itu kami semua berkumpul bahkan dengan semua yang lain, tak terkecuali Niki dan Tuan Bumi (yang diwakili si Marun), memberisiki Bromo biar tak terlalu dingin.

– – – – – – –
Bromo di awal Mei. bersama Matahari yang kian meninggi. dipotret mbak Esther dengan tepat sekali. terima kasih ~_~

(foto oleh: Esther Sidartawan)
(foto oleh: Esther Sidartawan)

(dan) untuk Pagi

selamat datang, duhai Pagi. selamat bercengkerama dengan Langit kini, wahai Matahari. aku masihlah Angin yang sibuk berkeliling Dunia sepanjangan usia Waktu yang sama kita tahu sangat tak kenal toleransi mengerutkan kulit dan melemahkan daya detik per detiknya. “sudah sampai di mana?” dan “sudah berbuat apa saja?” pasti masih jadi pertanyaan yang sangat kau suka biar aku sempat mengalami kematian kata meski dalam seperseribu detak saja. tapi tak mengapa. dalam rasa dan pikirku semakin hari aku semakin siap menjawab pertanyaan rutinmu tanpa perlu ragu pun takut seperti awal-awalnya. karena bagaimana juga, wahai Pagi, sejauh ini kau telah memenuhiku dengan ragam pelajaran juga makna agar hidupku mampu berkehidupan dalam Hidup itu dengan sendirinya.

kini, Pagi, izinkan aku yakin bergerak kembali menyambangi Lembah, Puncak, Rumah-rumah Kecil Penghuni Semesta, sampai nanti akhirnya pulang beristirahat di Rumah Ujung Cakrawala yang kau tahu sangat aku cinta. biar apa? semata biar aku bisa menyampaikan seluruh pesan yang telah kau relakan meresap dalam jiwaku hingga nyaris tak ada ruang yang mampu mencukupinya. bagaimana pun Pagi, aku adalah Angin yang turut kau dewasakan bersama kehangatan seisi Semesta. tak ada cara lain membalas jasa selain membiarkan aku membantumu menjagakan penghuni lainnya biar kau tak perlu terlalu lelah mengantar mereka hingga ke Puncak Kesadarannya.

maka, Pagi, mungkin ada baiknya kita mulai dengan sesiapa terdekat nun di sana yang bisa segera disinggahi. sampai nanti ~,~/

– – – – – – –
*Pananjakan pada suatu hari ketika ia kedatangan Pagi

.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)


(dalam) Cumbu Pagi Negeri Kabut

ini aku datang menginjakkan kaki di ketinggian yang bagimu mungkin baru sekedar pembuka. sekuat tenaga aku memohon agar Angin tak terlalu bersemangat mengantarkan langkah menapaki Pasir Hitam; sekuat hati aku meminjam kekuatan yang kau titipkan pada selembar Jaket Marun berbatas Coklat Muda penuh kehangatan; dan seperti sudah kau duga, aku meminjam tangan Langit untuk terus naik hingga ke puncak Pananjakan. ada sesekali kusandarkan punggung di setiap Bintang yang perlahan menghilang ditelan terang; kupasang telinga untuk gema kedatangan Matahari yang terus berkumandang. tepat di saat itu setidaknya aku tahu bahwa aku tak salah jalan. seperti katamu, jangan tinggalkan Mata Hati untuk setiap Perjalanan.

Tuan, tahukah apa kemudian yang membuatku ingin dalam sedetik kau ada dalam bentuk nyata bukan semata kau yang selalu kubawa dalam jiwa? selalu seperti inikah yang kau saksikan setiap berupaya mencapai tiga ribuan? Kabut melaut begitu tenang, perlahan tersapu Angin hingga terlihatlah sebuah negeri yang berlaku macam perbatasan menjelang Negeri-nya para Dewa di atas hamparan Awan. demi lihatanku, sungguh berbeda negeri ini dengan satu Negeri Kabut yang pernah kusinggahi sebelumnya dengan segudang cerita terbuka. aku membaca keberadaan Selubung Misteri menghampar menutupinya, sekaligus juga entah kenapa dibiarkan mengetahui sedikit demi sedikit cerita kebenaran dibaliknya. aku sampai kehilangan keinginan terlalu banyak bicara. selain berulang merapalkan namamu dalam bait-bait rindu, justru hanya nyanyian yang kubiarkan terus berkata tanpa malu-malu melintasi Udara Nirwana.

ini aku datang menginjakkan kaki di ketinggian yang bagimu pasti baru sekedar pembuka. Bintang-bintang masih terlalu jauh untuk digapai, namun Matahari sudah mulai menyinari senyumku yang rasanya ingin berteriak bangga padamu tentang keberadaanku di sini sekarang. aku sudah lupa keterbatasan nafasku, aku melupakan gigil beku yang mengurung jantungku, aku melupakan Manusia dan melambai pada Langit sejadi-jadinya. aku jelas kehilangan keinginan terlalu banyak berkata-kata. aku hanya terus berulang merapalkan namamu dalam bait-bait rindu, dan nyanyian masih yang terus kubiarkan merajai Udara tanpa malu-malu hingga batas Nirwana.Tuan, apakah mungkin keberanian dan tekadku mulai mengalahkan kelemahan yang menyertaiku lebih dari hitungan tiga puluhan? jika “iya” menjadi jawaban maka sudilah kiranya kau bawa aku, Tuan, ke Negeri-negeri Kabut lainnya yang begitu kau mengerti. bawalah aku, Tuan, biar kurasai cumbu Pagi di dalam begitu banyak misteri. dan jangan ragu lagi, Tuan, untuk mengajariku bagaimana memperlakukan kekuatan agar bisa kubuka Gerbang Negeri Awan dengan suka hati.
ini aku datang menginjakkan kaki di ketinggian yang bisa jadi telah berarti biasa bagimu, Tuan; untuk kemudian sedalam-dalamnya menyadari apa yang tanpa diundang begitu saja terharap. terima kasih telah menemaniku dalam dekap. terima kasih telah membekaliku dengan segudang percaya yang belum dapat terdefinisi ukuran pastinya. terima kasih telah datang dalam kehidupanku dengan rupa-rupa Ramuan Penghilang Lara dan Penyembuh Luka. itu saja. entah bagaimana membalasnya.

– – – – – – –
teruntuk Tuan Bumi yang menemani perjalanan kali ini dengan Jaket Marun berbatas Coklat Muda-nya. tertanggal 3 Mei 2013, melepaskan Pagi di atas Pananjakan (2770 MDPL) dengan Bromo-Batok-Widodaren-Watangan-Semeru di hadapan.

.
(foto oleh: kuke)
(foto oleh: kuke)