satu hari di tengah gempuran Pemalesan tak kunjung usai

kesukaan ‪‎mengangin‬ dengan/tanpa kawan baru/sudah-lama kenal itu belum lama sebenarnya. tepat di perayaan 31 tahun dan Karimunjawa awal mulanya. tapi proses yang dilalui sebelum menikmati Perjalanan sih cenderung masih sama. kalaupun ada yang berubah, yaaa, hasil belajar selama tujuh tahun ini lah 🙂

membuat daftar apa-siapa saja yang diincar, menelusuri sekaligus menandai Peta, memperkirakan jarak tempuh dan berapa jumlah jam/hari yang dibutuhkan serta akses mencapainya (berikut moda transportasi tentu), mencaritahu kemungkinan di mana akan bermalam, membekali diri dengan pengalaman entah siapa saja yang sudah pernah singgah ke lokasi-lokasi incaran (thanks to any Friends and Internet then..), jika hendak sampai ke pelosok maka di mana terakhir bisa memenuhi perbekalan Obat-obatan dan mengisi maksimal daya Baterai-baterai.

selain kesemuanya penting (buatku) untuk menetapkan rentang Anggaran dan apa-apa saja yang perlu disiapkan untuk dibawa dan dipakai (minimal hingga maksimal), untuk memutuskan murni mengatur semuanya sendirian atau akhirnya memilih menggunakan Jasa Perjalanan, penting pula untuk menggenapkan Kenekatan. bagaimanapun, Kenyataan Pada Hari H itu kan tak selalu sama dengan bayangan, harapan. meski “siap tak siap ya harus siap“, kalau beberapa hal mendasar tidak disiapkan, khawatirnya malah akan menyusahkan banyak orang. sebab, faktanya, selama tujuh tahun aku masih belum berhasil 100% ‘tidak menyusahkan’, entah yang sesederhana menambah Pulsa Komunikasi atau pesan Tiket Dadakan karena harus mau berdamai dengan Perubahan Dadakan 😛

nah, semakin sering melakukan persiapan, yang paling aku rasakan, aku jadi punya agak banyak Bahan Cerita Tambahan dari sebuah Perjalanan. iya. dan hal tersebut harus diakui cukup membantu pula ketika aku hendak berbagi dalam bentuk apa pun. tanpa terkecuali saat harus menyelesaikan sebuah Artikel Perjalanan seperti sekarang di tengah gempuran Pemalesan tak kunjung usai 😀

mengangin menjenguk Timurlaut

Advertisements

aku yakin tak ada satu pun Manusia (khususnya) dan Penghuni Semesta (umumnya) dengan sengaja meminta lahir menanggungkan begitu banyak Kekurangan, Kelemahan

sudah terhitung cukup lama aku belajar tidak mengizinkan siapa pun melukai perasaanku. Tuan Tak Bernama yang punya peran.

sehingga aku perlahan bisa tak peduli semisal dikata ‘sombong’ karena tidak, bisa tak peduli semisal disebut ‘tak jujur’ karena tidak, bisa tak peduli semisal dinyatakan ‘palsu’ atau ‘pencitraan’ karena tidak.

aku benar-benar berusaha karena sadar: membiarkan diri terlalu mudah terluka tak beda dengan menciptatumbuhkan aral di sepanjangan kebutuhan mewajahkan cita-cita ‘hidup berbahagia’.

meski demikian, ada satu yang bagiku paling sulit dikendalikan. Asmara saja kalah meresahkan. ia selalu mampu membuatku menarik diri lantas meninggikokohkan Dinding Pertahanan, kerap menggodaku untuk menggeser bahkan menggantikan posisi Tuhan.

apa?

..

..

..

aku yakin tak ada satu pun Manusia (khususnya) dan Penghuni Semesta (umumnya) dengan sengaja meminta lahir menanggungkan begitu banyak Kekurangan, Kelemahan. tidak ada. tidak ada. aku pun tidak.

namun berdamai, bersedia menerima, adalah cara-cara yang sejauh ini menurutku lebih mampu membuat tidak mudah patah, membuatku tetap bisa menikmati dan melanjutkan Perjalanan Berkehidupan, tidak dibunuh perlahan oleh Kecemasan-kecemasan.

lalu aku masih harus dihadapkan dengan tuduhan bahwa aku membiarkan saja semua Kelemahan itu tetap melekati, tidak mau diobati, menyengaja agar kesemuanya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan apa-apa yang tak bisa diusahakan sendiri.

aku sulit untuk tidak mengakui bahwa aku sungguh belum mengerti bagaimana cara agar karenanya tidak terluka lagi.

setidaknya cobalah jujur sejak dalam pikiran

setidaknya, cobalah jujur sejak dalam pikiran. dan jika hendak melakukan pemenggalan kalimat bahkan paragraf, pastikan itu tidak mengubah esensi utuhnya. perihal ‘tidak menghargai orang yang sudah berlelah-lelah iseng meramu sekeping pemikiran yang seolah selintaslalu’ itu kemudian kau lakukan, mungkin bisa jadi tak masalah. siapa yang tahu kalau tidak ketahuan bukan? hanya saja, setidaknya, cobalah jujur sejak dalam pikiran. utamanya ketika kau sedang berencana bergerak atas dasar apa yang kau sebut Kebenaran dan Kebaikan 🙂

# # #

urusan Jiplak-menjiplak pastilah bukan hal baru sejak awalmula lahirnya Kehidupan dan apa yang dibahasakan Manusia sebagai Peradaban. pertikaian yang disebabkan olehnya aku yakin sudah bukan lagi berjumlah puluhan. apakah kemudian ada yang mengharamkan, memakruhkan, atau ya sudah tetap saja menghalalkan; aku berada di antara kerumunan Serba Entah.

sejauh ini aku cuma berusaha berpegang pada apa yang Pak Bach pernah katakan: bahwa tidak ada yang murni merupakan hasil pemikiran dan upaya kita sendiri dalam berkarya, ketika ingin mencapai Titik Impian mana saja, bahkan sesederhana diakui ‘keren’ oleh segelintir (lagi-lagi) Manusia; kita ini (kalau mau tanpahati dikata) berhutang pada mereka yang telah lebih dulu merintis apa yang saat ini kita nyatakan menjadi perhatian/keprihatinan kita, mereka yang telah dengan sadar kita baca dan nikmati Hasil Pikirnya, mereka yang telah membuat segalanya kini menjadi lebih mudah untuk diwajahkan ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

sehingga itulah kenapa tidak ada yang pantas disombongkan, itulah kenapa tetaplah runduk menghargai kerja-keras lain-lain Orang meski sebatas menyebutkan namanya atau tidak mengubah-ubah seenaknya tanpa dasar, itulah kenapa cobalah jujur bahkan sejak dalam pikiran.

siang di Gudang Utara

siang tadi ada semacam kejadian lama berulang. di satu sisi jalan Gudang Utara saat Arloji belum lagi menunjukkan tepat pukul duabelas.

padahal baru sedikit Hujan yang datang. padahal tak ada hiruk-pikuk Kendaraan Bermotor lalu-lalang yang harus disaksikan dengan serius oleh sederetpanjang Bangunan Tua berwarna Hijau. padahal di menit-menit sebelumnya jiwaku malah sudah dikenyangkan kehangatan perbincangan bersahabat. padahal sekali ini tidak sedang berjalan kaki jarak jauh seperti biasa (melainkan baru turun dari mobil bersama Kawan-lawan). tanpa ada sedikit pun peringatan atau pertanda, aku sudah harus begitu saja menerima sebentuk Tanda Cinta dari Kota Bandung yang bukan baru belasan purnama diakrabinya.

mungkin aku sendiri yang salah. keberadaan Lubang Lebar yang sudah aku sadari sejak Mobil yang ditumpangi belum lagi diparkirkan membuatku bisa memberikan Peringatan Berhati-hati kepada yang lainnya, namun aku sendiri malah lantas lupa. mungkin selazimnya yang sudah-sudah, pasti akan jauh lebih mudah jika aku ditempatkan sebagai Pihak Yang Salah. tanpa terkecuali ketika menemukan kenyataan minimnya Lampu-lampu Penerang Jalan justru di sekitar Trotoar-trotoar yang bolak-balik dibobol dengan macam-macam alasan. tanpa terkecuali ketika berusaha berjalan dengan tertib di tempat yang disediakan namun adanya aku harus mengalah pada Pengendara Sepeda Motor juga Pedagang Kaki Lima. tanpa terkecuali ketika menerima perlakukan tak menyenangkan dari para Pengendara Mesin-mesin Mahal saat aku bahkan sudah tak berniat menyeberang sembarangan di beberapa ruas yang sama sekali tak dilengkapi Lampu Lalu Lintas.

meski demikian, jelas tidak menyenangkan ketika harus terperosok jatuh ke dalam Selokan sedalam (kira-kira) 90 cm karena rusak bagian penutupnya (yang saking lebarnya, Ban Mobil Sedan pun bisa-bisa tak akan selamat jika mengalami hal yang sama). walau tak sampai mendapatkan luka baret di sepanjang tulang kering sebagaimana beberapa tahun silam (saat aku mengalami hal yang sama di depan Gedung Sate), dan secara refleks kaki-kakiku tertahan hingga tak sampai menyentuh dasar, sangatlah tidak mengenakkan saat tulang ekor terhempas di permukaan amat keras dalam kecepatan yang sudahlah entah. airmataku tak ada yang keluar. namun terasa benar seluruh ruang perutku bak habis dihantam sesuatu yang berat dan besar hingga mualnya nyaris susah ditahan-tahan.

siang tadi ada semacam kejadian lama berulang. di satu sisi jalan Gudang Utara saat Arloji belum lagi menunjukkan tepat pukul duabelas. tanpa ada sedikit pun peringatan atau pertanda, aku sudah harus begitu saja menerima Tanda Cinta Besar Kedua dari Kota Bandung yang bukan baru belasan purnama ditelusurinya. pertanyaan yang selanjutnya terus berputarulang hanyalah: apa harus sesakit ini rasanya?

– – – – – – –
N.B. maaf, tidak ada foto yang bisa dilampirkan. seusai kejadian, tidak ada lain hal yang bisa dipikirkan selain menenangkan diri agar jangan sampai menyusahkan 🙂

Tuhan, izinkan saya tidak lagi meminati dan mencita-citakan Surga.

Tuhan, izinkan saya tidak lagi meminati dan mencita-citakan Surga. saya enggan. yang tersaji di depan mata ini bisa jadi jauh lebih dari cukup buat saya. iya. selembar Daun yang mengajarkan berkehidupan, dan selipat Senja yang hangat menenangkan.

bukan, bukannya saya tak percaya bahwa SurgaMu pasti damai, mewah, nyaman, besar, luas, akan muat banyak. sama sekali bukan. saya hanya kian sulit menerima ragamcorak cara dari Manusia-manusia yang menginginkan akhir perjalanan jiwa mereka bermuara di dalamnya, memenangkannya macam Piala-piala, tanpa mengindahkan apa yang dengan semena-mena sudah mereka nistakan, mereka hilangkan, mereka makan daging dan minum darahnya atas nama Kebenaran yang sama sekali entah.

apa Kau tak merasa betapa mereka semakin tak malu-malu lagi ingin menjadi Engkau, membawa-bawa namaMu dalam upaya pembenaran tanpa lupa menyematkan kepangkatan ‘tuhan’ di pundak-pundaknya dengan sebegitu bangga? ya, mereka sudah pakai namaMu dengan satu huruf yang dikecilkan agar tak terlalu kentara. apa Kau tak merasa?

Tuhan, saya sadar saya sudah sering memberontak. tapi kesemuanya bukanlah tanpa alasan yang jelas. Kau Maha Mengetahui semua. sejak mula yang lebih mula.

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

seusai menjemput Embun Pagi

“Pasti ada alasan mengapa kamu memilih lahir dalam fisikmu yang sekarang. Kamu menjadi yang terkecil supaya kamu bisa belajar untuk tidak takut pada kekuatanmu sendiri.”

kalau kalian menemukan kalimat-kalimat yang diucapkan Liong pada Elektra (Petir) tersebut di halaman 653 Intelegensi Embun Pagi karya Dee Lestari, seberapa orang yang masih bisa bertahan untuk tetap menerimanya dengan tenang? mungkin tidak banyak, meski tak sedikit juga. tapi dari sedikit yang tak kelewatan banyak itu sudah terbayang akan beramaisahutan menyuarakan apa tanpa bermaksud membaca novel 700an halaman tersebut baik-baik dari awal.

“hei, manusia mana bisa memilih lahir sebagai siapa, dalam bentuk tubuh macam apa, dengan kekurangan dan kesempurnaan pesanan. Tuhan yang menentukan!”

begitu kan? 🙂

aku kebetulan lebih suka menerima kalimat-kalimat Liong tersebut hening-hening, dalam-dalam, sampai kemudian lama-lama mataku membasah dan hangat berapa kali pun aku membacanya ulang.

kenapa?

entahlah. bisa jadi hampiran terdekatnya karena aku hingga seusia ini masih berupayakeras menyemangati diri sendiri untuk terus berjalan dan tetap percaya bahwa atas segala apa-siapa yang diciptakan selalu ada yang Tuhan maksudkan. iya. tanpa pengecualian 🙂

tak-ada-rumusan-khusus-untuk-merasakan-kebebasan