Category Archives: Puisi

selamat petang, Tuhan..

selamat petang, Tuhan
Hujan baru saja datang
tampak keemasan
Sang Surya memberikan keindahan

selamat petang, Tuhan
sudah adakah waktu untuk berbincang?
ada yang ingin kuceritakan
namun tak apa bila harus kutunggu Kau
sampai malam

agar tenang-tenang kita
di tempat yang sama disuka
tak perlu mencemaskan apa-apa

selamat petang, Tuhan
Hujan baru saja datang

– – – – – – –
Juli. hari ke-15. tahun ini. di sini. dalam tenang-tenang. bersama Tuhan 😀

maka bagaimana caramu membahasakan kasihmu pada Bumi dalam larik-larik Puisi?

sekali lagi, kutanyakan di petang ini: jika sungguh kau pandang Bumi selayaknya Ibu yang kau kasihi, maka bagaimana caramu membahasakan kesemua itu dalam larik-larik Puisi?

sekali lagi, kutanyakan di petang ini: jika sungguh kau rasa Bumi sepatutnya hidup sehat berbahagia hingga lebih dari satu, dua, bahkan puluhan tahun lagi; maka bagaimana caramu mengupayakan ia tak cepat mati sebelum masanya mati?

menghidupinya dengan segenap detak, darah, hati, pikir, tangan, juga kaki? atau meracuninya dengan pesimisme dan kegelisahan yang sebenarnya perwajahan ketakutanmu sendiri?

sekali lagi, kutanyakan di petang ini: jika sungguh kau pandang Bumi selayaknya Ibu yang kau kasihi, maka bagaimana caramu merayuhidupinya dalam larik-larik Puisi yang tak cuma berarti buat dirimu sendiri?

jawablah tanpa usah membuang satu pun Kata, tentu seusai kau berpikir.

Lagu Senja

bait pertama terlahir di 8 Maret 2015. menjadi lengkap dalam perjalanan menuju Yogyakarta bersama Kereta Api tiga hari sesudahnya.

* * * * * * *

ucapkan salam pada Senja
meski ia tak jingga tak memerah
tersenyumlah kau pada Senja
agar ia pun merasa bahagia

bicaralah kau pada Senja
meski tanpa suara jawabnya
tersenyumlah kau pada Senja
hingga ia pun merasa bahagia

jelang malam dan menghilang
menyuguhkan tenang
berjanji esok kan lagi datang

buka malam lalu hilang
menyuguhkan kegelapan
dan berjanji esok kembali kan datang

untukMu yang hingga kini tetap bernama Tuhan

aku tahu setiap malam Kau datang membetulkan letak selimutku agar sempurna menghangatkan, mengusap ubun-ubun hingga punggungku dengan sayang, memelukku agar lelap tenang sampai pagi datang. bersamaMu bisa kurasakan ada lebih dari miliaran kebaikan. mungkin itulah kenapa hingga kini Kau tetap bernama Tuhan 🙂

– – – – – – –
23 Maret 2015. seusai rapat sampai malam.

dan seusai berhujanan di rembang petang

Bumi mewadahi Puisi-puisi
yang berjatuhan bersama Hujan,
sesekali ada Halilintar bertandang
mengingatkan untuk mengganti Keranjang;

bisa kudengar Rerumputan bersorak-sorai,
bisa kutemukan Kepik-kepik mencari Daun Teduhan,
lalu kudapati Pepohonan merdu bernyanyian,
dan terhirupi sudah kenikmatan di Udara yang berlipatan,
pun menyejukkan kaki adanya Air yang mengalir
tanpa menenggelamkan Jalanan;

Senin ini, di sini, rembang petang,
Pelangi dan Matahari mengintip malu-malu
tanpa bermaksud meminta perhatian,
begitu pun Angkasa yang berubah keabuan.

– – – – – – –
23.03.2015. seusai berhujanan. dengan senang 🙂

Selamat Pagi! Ini Hari Senin ~,~/

dinyanyikan pertama kali kepada Langit di 2 Maret 2015. diendapkan sembari menunggu redanya kesibukan dan redanya ‘badai’ di tenggorokan. akhirnya (pagi ini) ya tidak tahan untuk berbagi juga meski suara belum pulih benar dan.. daaaan.. emmm.. baru bangun tidur, heuheuheu ~3~

iya, ketukan yang hidup dalam Rangkai Nada Sederhana ini mestinya lebih riang dari yang diperdengarkan. apa daya, kuat benar pengaruh masih kriyepan, hahaha *_*

selamat mendengarkan. semoga tidak menyakitkan pendengaran. dan, Selamat Hari Senin, Semesta Rayaaaa ~,~/

* * * * * * *

Gajah-gajah Awan lincah beterbangan
ramai Biru Langit penuh keriangan
Matahari tersenyum manis sekali
Anak-anak Kucing merdu bernyanyi

Capung-capung Kecil bersama Kupu-kupu menari
ramai Hijau Rumput, berbincang Embun dan Semut
Matahari terasa hangat sekali
dan seisi Bumi merdu bernyanyi

Pepohonan yang dicumbui Gelombang di suatu siang

diajak Matahari aku pada suatu siang, menghampiri keluk Pantai membalik selembar lagi halaman di Buku Pelajaran. ada diberinya tanda agar aku menanti dalam diam, mengamati baik-baik tanpa banyak rusuh gerakan, tak jauh dari sejumlah Bayangan yang jatuh tepat di atas pelataran Pasir muda kecoklatan. sedetik dua bertahan aku dari kedipan, kutemukan gambaran Kasih Sayang yang hidup bertumbuh tanpa saling meniadakan. sedetik tiga bertahan aku dari kedipan, bisa kurasakan Keindahan macam apa yang terbangun dari sewajah Ketidakegoisan. sedetik empat kemudian, Airmata sudah berderaian mendapati merdu cumbu Gelombang pada Pepohonan yang macam tak berkesudahan.

betapa mesra mereka yang berbeda. saling menghidupkan tanpa menghilangkan satu lainnya.

direngkuh Matahari aku pada suatu siang, menjauhi keluk Pantai, pertanda telah kuselesaikan selembar lagi halaman di Buku Pelajaran. dilepaskannya aku kembali berjalan, menyeruak Udara diam, menunaikan apa yang sudah seharusnya aku lakukan: menyampaikan Pesan.

– – – – – – –
Pantai Wediombo, 13 Maret 2015

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)