Category Archives: Opini

seharian memikirkan Tuhan dan tuhan-tuhan

*jelang pukul satu siang*

aku lebih suka jika Manusia-manusia tidak menumbuhkembangkan kesukaannya sedikit-banyak mengambil peran Tuhan dan curi-curi menikmati menjadi tuhan mengatasnamakan Tuhan.

tidak patut. tidak sepantasnya. menurutku demikian. tidak lebih, tidak kurang.

aku jauh lebih suka jika Manusia-manusia menyumbangkan energi besar mereka demi menyamankan Bumi kembali sebagai Wahana Berkehidupan, membebaskan Pohon-pohon yang tercekik kepentingan pengakuan adanya Peradaban, merayakan kembali rimbunnya Hutan-hutan tanpa sibuk membinasakan Gunung dan Perbukitan, meleluasakan kembali jalannya Air serta membahagiakan Laut juga Sungai agar kewajiban dan haknya tuntas digulirkan, membahasakan Keberkahan sebagai sebenar-benarnya Keberkahan bukan semata untuk gegap-gempita satu-dua menit ke depan, bukan sebatas untuk satu Kaum satu Kalangan.

sebab, lagi-lagi menurut benak kerdil biasaku ini, bila dinyatakan Kemampuan Berpikir adalah anugerah Penanda Kemuliaan, maka di pundak setiap Manusia tanggungjawab menjaga Keselarasan berlipat kali lebih besar.

*pukul delapan malam*

kalau besok Tuhan mengizinkan aku menjadi tuhan, mungkin yang akan aku lakukan adalah mengutus Hujan untuk menghadiri Perhelatan Akbar yang saat ini sedang ramai dibicarakan dengan atau tanpa Pengetahuan, dengan atau tanpa Keberpihakan, dengan atau tanpa Keadilan.

kenapa Air? kenapa Hujan? kenapa bukan hal yang lebih garang dan lebih mampu tidak semata membuat terdiam? hingga terguncang misalnya? memangnya untuk menghadang Api membakar adalah dengan menguji Kesungguhan?

eh? sebentar: siapa yang mau menguji besar Tekad dan Kenekadan? bukan

selama ini apa kau masih belum paham juga mengapa Tuhan memberimu banyak-banyak Hujan? masih menganggap Petaka sedang dirayakan?

ah kau

Advertisements

setidaknya cobalah jujur sejak dalam pikiran

setidaknya, cobalah jujur sejak dalam pikiran. dan jika hendak melakukan pemenggalan kalimat bahkan paragraf, pastikan itu tidak mengubah esensi utuhnya. perihal ‘tidak menghargai orang yang sudah berlelah-lelah iseng meramu sekeping pemikiran yang seolah selintaslalu’ itu kemudian kau lakukan, mungkin bisa jadi tak masalah. siapa yang tahu kalau tidak ketahuan bukan? hanya saja, setidaknya, cobalah jujur sejak dalam pikiran. utamanya ketika kau sedang berencana bergerak atas dasar apa yang kau sebut Kebenaran dan Kebaikan 🙂

# # #

urusan Jiplak-menjiplak pastilah bukan hal baru sejak awalmula lahirnya Kehidupan dan apa yang dibahasakan Manusia sebagai Peradaban. pertikaian yang disebabkan olehnya aku yakin sudah bukan lagi berjumlah puluhan. apakah kemudian ada yang mengharamkan, memakruhkan, atau ya sudah tetap saja menghalalkan; aku berada di antara kerumunan Serba Entah.

sejauh ini aku cuma berusaha berpegang pada apa yang Pak Bach pernah katakan: bahwa tidak ada yang murni merupakan hasil pemikiran dan upaya kita sendiri dalam berkarya, ketika ingin mencapai Titik Impian mana saja, bahkan sesederhana diakui ‘keren’ oleh segelintir (lagi-lagi) Manusia; kita ini (kalau mau tanpahati dikata) berhutang pada mereka yang telah lebih dulu merintis apa yang saat ini kita nyatakan menjadi perhatian/keprihatinan kita, mereka yang telah dengan sadar kita baca dan nikmati Hasil Pikirnya, mereka yang telah membuat segalanya kini menjadi lebih mudah untuk diwajahkan ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

sehingga itulah kenapa tidak ada yang pantas disombongkan, itulah kenapa tetaplah runduk menghargai kerja-keras lain-lain Orang meski sebatas menyebutkan namanya atau tidak mengubah-ubah seenaknya tanpa dasar, itulah kenapa cobalah jujur bahkan sejak dalam pikiran.

Tuhan, izinkan saya tidak lagi meminati dan mencita-citakan Surga.

Tuhan, izinkan saya tidak lagi meminati dan mencita-citakan Surga. saya enggan. yang tersaji di depan mata ini bisa jadi jauh lebih dari cukup buat saya. iya. selembar Daun yang mengajarkan berkehidupan, dan selipat Senja yang hangat menenangkan.

bukan, bukannya saya tak percaya bahwa SurgaMu pasti damai, mewah, nyaman, besar, luas, akan muat banyak. sama sekali bukan. saya hanya kian sulit menerima ragamcorak cara dari Manusia-manusia yang menginginkan akhir perjalanan jiwa mereka bermuara di dalamnya, memenangkannya macam Piala-piala, tanpa mengindahkan apa yang dengan semena-mena sudah mereka nistakan, mereka hilangkan, mereka makan daging dan minum darahnya atas nama Kebenaran yang sama sekali entah.

apa Kau tak merasa betapa mereka semakin tak malu-malu lagi ingin menjadi Engkau, membawa-bawa namaMu dalam upaya pembenaran tanpa lupa menyematkan kepangkatan ‘tuhan’ di pundak-pundaknya dengan sebegitu bangga? ya, mereka sudah pakai namaMu dengan satu huruf yang dikecilkan agar tak terlalu kentara. apa Kau tak merasa?

Tuhan, saya sadar saya sudah sering memberontak. tapi kesemuanya bukanlah tanpa alasan yang jelas. Kau Maha Mengetahui semua. sejak mula yang lebih mula.

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

seusai menjemput Embun Pagi

“Pasti ada alasan mengapa kamu memilih lahir dalam fisikmu yang sekarang. Kamu menjadi yang terkecil supaya kamu bisa belajar untuk tidak takut pada kekuatanmu sendiri.”

kalau kalian menemukan kalimat-kalimat yang diucapkan Liong pada Elektra (Petir) tersebut di halaman 653 Intelegensi Embun Pagi karya Dee Lestari, seberapa orang yang masih bisa bertahan untuk tetap menerimanya dengan tenang? mungkin tidak banyak, meski tak sedikit juga. tapi dari sedikit yang tak kelewatan banyak itu sudah terbayang akan beramaisahutan menyuarakan apa tanpa bermaksud membaca novel 700an halaman tersebut baik-baik dari awal.

“hei, manusia mana bisa memilih lahir sebagai siapa, dalam bentuk tubuh macam apa, dengan kekurangan dan kesempurnaan pesanan. Tuhan yang menentukan!”

begitu kan? 🙂

aku kebetulan lebih suka menerima kalimat-kalimat Liong tersebut hening-hening, dalam-dalam, sampai kemudian lama-lama mataku membasah dan hangat berapa kali pun aku membacanya ulang.

kenapa?

entahlah. bisa jadi hampiran terdekatnya karena aku hingga seusia ini masih berupayakeras menyemangati diri sendiri untuk terus berjalan dan tetap percaya bahwa atas segala apa-siapa yang diciptakan selalu ada yang Tuhan maksudkan. iya. tanpa pengecualian 🙂

matahari yang tak akan pernah bisa dibeli

menuliskan kejujuran dalam setiap detak kehidupan yang sudah diberikan Tuhan sesungguhnya (bagiku) bukan hal ‘buang-buang waktu’. mungkin ianya tidak mengundang kemewahan. mungkin ianya tidak sertamerta mewajahkan kesejahteraan, ketenaran, keberlimpahan. mungkin ianya butuh proses yang jauh lebih panjang dan itu pun berbeda antara satu dengan lain orang. tapi, pernahkah terpikir olehmu apa yang ditawarkannya nanti di depan? menurutmu akan bisa dengan mudah ditukar dengan uang?

menafaskan kejujuran di sepanjang detak kehidupan yang sudah diberikan Tuhan memang (kuakui) bukan perkara gampang. namun, apakah kemustahilan lantas boleh jadi pembenaran untuk menghilangkannya dari apa yang kau sebut-sebut sebagai Cerah Peradaban?

Nak, semua yang kau hasilkan dari jerihpayahmu sendiri, meski itu nyaris membuatmu kehilangan kewarasan meski itu tak terlihat ‘cantik’, akan menjadikanmu memiliki matahari, sesuatu yang tak akan pernah bisa dibeli 🙂

(buatku) sakit itu bukan hukuman..

mungkin aku memang tidak akan pernah suka jika ada yang bilang bahwa sakit itu merupakan hukuman paling ringan yang dilimpahkan Tuhan pada Manusia. iya, tidak akan pernah suka. karena apa? sederhananya bisalah karena murni diriku sendiri, karena apa yang berdiam di tubuh ini, karena apa yang tak bijak bila terus diingkari sampai mati. bagi yang tidak mengalami tentu tak akan mengerti. tapi aku juga bukannya kemudian minta dikasihani. seluruh ketidaksempurnaan pemberian Tuhan itu bagiku telanjur menjadi Penjaga dan Pendidik Abadi dalam ketidakabadianku sendiri.

catatan pagi mendung dari aku yang malas bangun

aku melipatkan renung di sekumpulan Awan Abu-abu. ini pagi yang mendung. ini pagi yang tenang untuk tak sibuk menyiksa diri dengan ketergesaan merobek selubung.

kenapa Tuhan menciptakan Keberagaman? untuk meramaikan Keresahan atau melebarkan indah Pelangi Kedamaian? kalau pun Tuhan suka sesekali menyaksikan seruramainya kehadiran Perang, apakah Tuhan sangat suka setiap detik ciptaan-Nya menghalalkan pertumpahan Darah mengatasnamakan Keyakinan dan Keinginan untuk menghilangkan Pelangi dan menggantinya dengan selembar Kain Sewarna Tunggal yang dirasa paling benar?

Manusia. Ma-nu-sia. M-a-n-u-s-i-a. kenapa Tuhan menghadirkan Manusia di lingkup Semesta tak satu macam? tak satu rasa satu Pemikiran satu Keinginan satu Kehendak satu Cita-cita satu Keyakinan? bukankah bila semua tak berbeda, maka tak perlu merisaukan kehadiran si Pertikaian? bukankah bila semua Manusia tak berbeda, maka terjagalah merdu alun Harmoni Semesta? atau justru tak akan ada alun merdu itu karena yang terdengar kemudian hanyalah kemonotonan satu Nada?

aku membiarkan Matahari terus bersembunyi dan berselimut seperti halnya aku yang enggan bangun. ini pagi yang mendung. ini pagi yang tenang untuk merenung.

di luar sana semua sedang terlalu sibuk merasa paling benar. di luar sana semua sedang berambisi untuk membunuh Pelangi tanpa sadar. di luar sana orang-orang sibuk menutup mata menulikan telinga berputar-putar dalam Badai Rekaan. di luar sana tak ada yang mau mengingat bahwa Waktu tak pernah berhenti diam.

kenapa Manusia tak menggugat saja Tuhan yang sudah menghadirkan Keberagaman, malah terus sibuk menggerus habis Pelangi menjadi selarik panjang Warna Tunggal?