Category Archives: Opini

meretas Jejak

Bandung, Minggu 18 Maret 2018, jelang pukul sepuluh pagi. jernih terdengar ramai Tonggeret saling bersahutan dari berbagai arah mata angin dan Langit perlahan lebih biru serta lebih hangat dibanding tempo awal terbukanya hari.

aku, saat ini dan di sini, memutuskan untuk mulai menuliskan sedikit ulasan sebagaimana kujanjikan pada Mbak Diella Dachlan dan Mas Bimo Tedjokusumo, ulasan tentang karya perdana mereka berdua yang aku terima tiga hari kemarin; dimana kuyakini proses tersebut tak akan terlalu sulit karena aku sudah membekali diriku dengan seporsi Kupat Tahu Petis lewat 165 menit tadi, sudah pula membiarkan mataku sebebasnya menikmati apa-apa yang disukai, bahkan aku tak melewatkan aksi Oliver Queen hingga tahap pencalonan dirinya sebagai Walikota Star City ^_^

* * *

Jejak_DD_BT_by_Kuke

semua bermula semenjak Mas Bimo mendapati keberadaan plang Situs Makam Jerman 4 Km dekat pertigaan Gadog (Megamendung, Bogor). sebagai penyuka hal-hal berbau militer, amat muskil baginya mengabaikan penyulut api keingintahuan semacam itu.

cukup lama penantian, bertepatan Januari 2017, cita-cita untuk menginjakkan kaki di sana akhirnya terwajahkan. hiruk-pikuk lalu lintas menuju kawasan Puncak diterabas bersama Mbak Diella yang telah bersahabat dengannya hampir seperempat abad sejak masa kuliah. mereka menggunakan transportasi umum – menghayati kereta lepas subuh dari Jakarta dan estafet angkot dari Bogor berikutnya. lalu lanjut berjalankaki sejauh dua kilometer setibanya di Pasir Muncang sebelum mengaras lokasi yang diharapkan mampu membebaskan dari kemelitan.

setelah tujuan tercapai, ujung-ujungnya mereka malah keasyikan. dalam rentang setahun selepas bertemu langsung dengan tugu peringatan yang dibuat oleh dua bersaudara kenamaan berkebangsaan Jerman (yaitu: Emil Helfferich si pengusaha serta Karl Theodor Helfferich sang politikus juga ekonom) pada tahun 1926 di kaki Gunung Pangrango, akhir pekan keduanya dilalui dengan cara berbeda, dilekati kegairahan yang juga berbeda. kegairahan yang terbawa ringan riang hingga ke kaki Gunung Salak, Kepulauan Seribu, Jakarta, Karawang, pun ke hadapan sepasang tapak kaki Purnawarman dengan masing-masing Matahari Kecil diatasnya.

* * *

Kami mengunjungi situs Cibalay pada awal Maret 2017. Situs Cibalay ternyata adalah sebuah kompleks situs yang berada di Desa Tapos 1, Kec. Tenjolaya, Kabupaten Bogor, atau sekitar 40 menit hingga 1 jam berkendara dari Bogor Trade Mall.

Plang situs Cibalay terletak sekitar 1 kilometer setelah Curug Luhur sebelah kiri dari arah Bogor. Kendaraan roda empat hanya bisa mencapai tempat parkir yang disediakan di sebuah halaman rumah. Dari titik itu kita meneruskan dengan berjalan kaki. Jalan batu berubah menjadi jalan setapak. Ada bagian yang tersalut paving block dan sisanya batu atau tanah.

Jalur ini bisa dilalui motor hingga mencapai ke bawah tangga tanah menuju Arca Domas. Kalau cuaca cerah dan Gunung Salak terlihat jelas, pemandangan di jalur ini cantik sekali.

Yang kocak, supir angkot ini malah menawarkan mengantar sampai titik terakhir mobil bisa masuk. “Seumur hidup saya mondar-mandir di sini, saya belum pernah ke sini” katanya dalam Bahasa Sunda. Kalau tidak ingat setoran, ia sebenarnya ingin sekali ikut kami untuk melihat situs.

(Jejak Situs di Gunung Salak, halaman 21-22)

lantaran terbawa asyik dengan penuturan Mbak Diella tatkala mengisahkan penjelajahan ke situs-situs yang berada di sekitaran gunung api (konon) paling angker se-Jawa Barat tersebut, aku lantas memutuskan berlagak ala seorang pelari cepat. biasanya sih tidak pernah ada masalah karena aku kerap memberlakukan gaya membaca seperti itu demi tak terputusnya keseruan yang memenuhi kepala. namun, begitu kaki Gunung Salak ditinggalkan, pelan-pelan kusadari aku salah perlakuan.

aku tak terganggu dengan kehadiran banyak tanda tanya yang jelas-jelas memperlihatkan ketidaksempurnaan buku ini. aku berusaha tidak mempersoalkan pula ketika pikirku merespon beberapa tulisan yang tampaknya perlu di-segmentasi (selain disunting) bila kompilasi catatan perjalanan ini akan  dicetakulang suatu hari nanti. aku hanya berkali-kali ‘terpelanting’ ketika berhadapan dengan buah kepiawaian seorang Diella Dachlan meramu perolehan data yang diakuinya terhadang keterbatasan sediaan.

Meskipun demikian, Prabu Siliwangi tetap gelisah dengan adanya persekutuan Demak dan Cirebon serta mulai memikirkan langkah-langkah antisipasi. Sesungguhnya, kerajaan Pakuan Pajajaran adalah kerajaan kuat, terutama di darat. Portugis menuliskan setidaknya kerajaan ini memiliki 100.000 prajurit dan raja sendiri memiliki 40 ekor pasukan gajah.

Namun, Pakuan Pajajaran tidak sekuat itu di laut. Kerajaan ini hanya memiliki 6 jung dan lankaras yang tujuannya lebih kepada perdagangan antar pulau.

Sebenarnya Cirebon juga tidak memiliki angkatan laut yang kuat. Karena itu, persekutuannya dengan Demak yang memiliki angkatan laut yang tangguh di masanya sangat membantu Cirebon dalam perang untuk merebut pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa di pesisir utara pulau Jawa, yang notabene harus melalui laut.

Dari berbagai literatur, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa Prabu Siliwangi beranggapan angkatan laut dan peralatan Portugis setidaknya dapat menahan, bahkan mengalahkan, serangan laut dari Demak-Cirebon. Selain itu Portugis juga diharapkan dapat membantu perdagangan lada Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Hal inilah yang tampaknya mendorong Prabu Siliwangi mengutus puteranya, Prabu Surawisesa untuk menemui utusan Portugis di Malaka pada tahun 1512 dan 1521. Pertemuan ini belakangan menghasilkan perjanjian internasional pertama di nusantara. Tugu peringatan Padrão ditanam di pantai sebagai tanda peringatan perjanjian.

Portugis mendapat izin untuk mendirikan gudang dan benteng di daerah pelabuhan Sunda Kelapa. Meskipun pembangunan benteng ini nantinya tidak dapat terlaksana karena Sunda Kelapa sudah keburu jatuh ke koalisi Demak-Cirebon.

(Jejak Kerajaan Pakuan Pajaran, halaman 113-114)

bukan soal benar-salah atau akurat-tak akurat. penyajiannya (sepanjang pemahamanku) tetap mematuhi kaidah keilmuan. satu-satunya masalah adalah aku yang sedari kecil memang tidak menggemari literatur sejarah. potensial terlanda pusing-pusing bila berusaha menekuninya sebatas belasan menit dan berlanjut mual-mual jika memaksakan diri setidaknya satu-dua jam ^,^v

* * *

terlepas pengemasannya yang belum terlalu rapi, masih ada kekurangan sana-sini (termasuk penempatan peta yang dibuat Mas Bimo), kompilasi catatan perjalanan yang diberi judul JEJAK ini boleh dibilang menarik dan layak untuk jadi referensi, utamanya bagi siapa saja yang masih gamang bila berhadapan dengan keingintahuan dan teka-teki.

satu hal lain yang paling terasa mulai awal hingga akhir, bahasan-bahasan dalam buku ini kembali mengingatkanku perihal betapa demikian luasnya kemungkinan menemukan hal-hal seru dan beragam pengalaman rasa baru bila kita bersedia meluangkan waktu untuk lebih mengenal apa-apa saja yang berserakan di halaman rumah sendiri.

sudah bukan rahasia lagi betapa tak jarang kita lebih fasih menceritakan destinasi-destinasi yang jauh, lebih tertarik dan rela mengejar apa-apa saja yang ada di halaman rumah (daerah, kota, provinsi, pulau, negara) asing ketimbang mengeksplorasi lingkungan terdekat tempat kita berkehidupan sehari-hari.

– – – – – – –

PEMESANAN BUKU

kontak via WA:

  • Diella (0812 6991779)
  • Bimo (0813 99171828 – di atas pukul 6 sore)
JUDUL : JEJAK – Wisata Menelusuri Jejak Peradaban Masa Lalu Di Sekitar Jabodetabek
PENULIS : Diella Dachlan & Bimo Tedjokusumo
PENERBIT : Epigraf
CETAKAN : Pertama, Maret 2018
TEBAL : 256 halaman
ISBN : 978-602-50238-9-7
Advertisements

seharian memikirkan Tuhan dan tuhan-tuhan

*jelang pukul satu siang*

aku lebih suka jika Manusia-manusia tidak menumbuhkembangkan kesukaannya sedikit-banyak mengambil peran Tuhan dan curi-curi menikmati menjadi tuhan mengatasnamakan Tuhan.

tidak patut. tidak sepantasnya. menurutku demikian. tidak lebih, tidak kurang.

aku jauh lebih suka jika Manusia-manusia menyumbangkan energi besar mereka demi menyamankan Bumi kembali sebagai Wahana Berkehidupan, membebaskan Pohon-pohon yang tercekik kepentingan pengakuan adanya Peradaban, merayakan kembali rimbunnya Hutan-hutan tanpa sibuk membinasakan Gunung dan Perbukitan, meleluasakan kembali jalannya Air serta membahagiakan Laut juga Sungai agar kewajiban dan haknya tuntas digulirkan, membahasakan Keberkahan sebagai sebenar-benarnya Keberkahan bukan semata untuk gegap-gempita satu-dua menit ke depan, bukan sebatas untuk satu Kaum satu Kalangan.

sebab, lagi-lagi menurut benak kerdil biasaku ini, bila dinyatakan Kemampuan Berpikir adalah anugerah Penanda Kemuliaan, maka di pundak setiap Manusia tanggungjawab menjaga Keselarasan berlipat kali lebih besar.

*pukul delapan malam*

kalau besok Tuhan mengizinkan aku menjadi tuhan, mungkin yang akan aku lakukan adalah mengutus Hujan untuk menghadiri Perhelatan Akbar yang saat ini sedang ramai dibicarakan dengan atau tanpa Pengetahuan, dengan atau tanpa Keberpihakan, dengan atau tanpa Keadilan.

kenapa Air? kenapa Hujan? kenapa bukan hal yang lebih garang dan lebih mampu tidak semata membuat terdiam? hingga terguncang misalnya? memangnya untuk menghadang Api membakar adalah dengan menguji Kesungguhan?

eh? sebentar: siapa yang mau menguji besar Tekad dan Kenekadan? bukan

selama ini apa kau masih belum paham juga mengapa Tuhan memberimu banyak-banyak Hujan? masih menganggap Petaka sedang dirayakan?

ah kau

setidaknya cobalah jujur sejak dalam pikiran

setidaknya, cobalah jujur sejak dalam pikiran. dan jika hendak melakukan pemenggalan kalimat bahkan paragraf, pastikan itu tidak mengubah esensi utuhnya. perihal ‘tidak menghargai orang yang sudah berlelah-lelah iseng meramu sekeping pemikiran yang seolah selintaslalu’ itu kemudian kau lakukan, mungkin bisa jadi tak masalah. siapa yang tahu kalau tidak ketahuan bukan? hanya saja, setidaknya, cobalah jujur sejak dalam pikiran. utamanya ketika kau sedang berencana bergerak atas dasar apa yang kau sebut Kebenaran dan Kebaikan 🙂

# # #

urusan Jiplak-menjiplak pastilah bukan hal baru sejak awalmula lahirnya Kehidupan dan apa yang dibahasakan Manusia sebagai Peradaban. pertikaian yang disebabkan olehnya aku yakin sudah bukan lagi berjumlah puluhan. apakah kemudian ada yang mengharamkan, memakruhkan, atau ya sudah tetap saja menghalalkan; aku berada di antara kerumunan Serba Entah.

sejauh ini aku cuma berusaha berpegang pada apa yang Pak Bach pernah katakan: bahwa tidak ada yang murni merupakan hasil pemikiran dan upaya kita sendiri dalam berkarya, ketika ingin mencapai Titik Impian mana saja, bahkan sesederhana diakui ‘keren’ oleh segelintir (lagi-lagi) Manusia; kita ini (kalau mau tanpahati dikata) berhutang pada mereka yang telah lebih dulu merintis apa yang saat ini kita nyatakan menjadi perhatian/keprihatinan kita, mereka yang telah dengan sadar kita baca dan nikmati Hasil Pikirnya, mereka yang telah membuat segalanya kini menjadi lebih mudah untuk diwajahkan ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

sehingga itulah kenapa tidak ada yang pantas disombongkan, itulah kenapa tetaplah runduk menghargai kerja-keras lain-lain Orang meski sebatas menyebutkan namanya atau tidak mengubah-ubah seenaknya tanpa dasar, itulah kenapa cobalah jujur bahkan sejak dalam pikiran.

Tuhan, izinkan saya tidak lagi meminati dan mencita-citakan Surga.

Tuhan, izinkan saya tidak lagi meminati dan mencita-citakan Surga. saya enggan. yang tersaji di depan mata ini bisa jadi jauh lebih dari cukup buat saya. iya. selembar Daun yang mengajarkan berkehidupan, dan selipat Senja yang hangat menenangkan.

bukan, bukannya saya tak percaya bahwa SurgaMu pasti damai, mewah, nyaman, besar, luas, akan muat banyak. sama sekali bukan. saya hanya kian sulit menerima ragamcorak cara dari Manusia-manusia yang menginginkan akhir perjalanan jiwa mereka bermuara di dalamnya, memenangkannya macam Piala-piala, tanpa mengindahkan apa yang dengan semena-mena sudah mereka nistakan, mereka hilangkan, mereka makan daging dan minum darahnya atas nama Kebenaran yang sama sekali entah.

apa Kau tak merasa betapa mereka semakin tak malu-malu lagi ingin menjadi Engkau, membawa-bawa namaMu dalam upaya pembenaran tanpa lupa menyematkan kepangkatan ‘tuhan’ di pundak-pundaknya dengan sebegitu bangga? ya, mereka sudah pakai namaMu dengan satu huruf yang dikecilkan agar tak terlalu kentara. apa Kau tak merasa?

Tuhan, saya sadar saya sudah sering memberontak. tapi kesemuanya bukanlah tanpa alasan yang jelas. Kau Maha Mengetahui semua. sejak mula yang lebih mula.

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

seusai menjemput Embun Pagi

“Pasti ada alasan mengapa kamu memilih lahir dalam fisikmu yang sekarang. Kamu menjadi yang terkecil supaya kamu bisa belajar untuk tidak takut pada kekuatanmu sendiri.”

kalau kalian menemukan kalimat-kalimat yang diucapkan Liong pada Elektra (Petir) tersebut di halaman 653 Intelegensi Embun Pagi karya Dee Lestari, seberapa orang yang masih bisa bertahan untuk tetap menerimanya dengan tenang? mungkin tidak banyak, meski tak sedikit juga. tapi dari sedikit yang tak kelewatan banyak itu sudah terbayang akan beramaisahutan menyuarakan apa tanpa bermaksud membaca novel 700an halaman tersebut baik-baik dari awal.

“hei, manusia mana bisa memilih lahir sebagai siapa, dalam bentuk tubuh macam apa, dengan kekurangan dan kesempurnaan pesanan. Tuhan yang menentukan!”

begitu kan? 🙂

aku kebetulan lebih suka menerima kalimat-kalimat Liong tersebut hening-hening, dalam-dalam, sampai kemudian lama-lama mataku membasah dan hangat berapa kali pun aku membacanya ulang.

kenapa?

entahlah. bisa jadi hampiran terdekatnya karena aku hingga seusia ini masih berupayakeras menyemangati diri sendiri untuk terus berjalan dan tetap percaya bahwa atas segala apa-siapa yang diciptakan selalu ada yang Tuhan maksudkan. iya. tanpa pengecualian 🙂

matahari yang tak akan pernah bisa dibeli

menuliskan kejujuran dalam setiap detak kehidupan yang sudah diberikan Tuhan sesungguhnya (bagiku) bukan hal ‘buang-buang waktu’. mungkin ianya tidak mengundang kemewahan. mungkin ianya tidak sertamerta mewajahkan kesejahteraan, ketenaran, keberlimpahan. mungkin ianya butuh proses yang jauh lebih panjang dan itu pun berbeda antara satu dengan lain orang. tapi, pernahkah terpikir olehmu apa yang ditawarkannya nanti di depan? menurutmu akan bisa dengan mudah ditukar dengan uang?

menafaskan kejujuran di sepanjang detak kehidupan yang sudah diberikan Tuhan memang (kuakui) bukan perkara gampang. namun, apakah kemustahilan lantas boleh jadi pembenaran untuk menghilangkannya dari apa yang kau sebut-sebut sebagai Cerah Peradaban?

Nak, semua yang kau hasilkan dari jerihpayahmu sendiri, meski itu nyaris membuatmu kehilangan kewarasan meski itu tak terlihat ‘cantik’, akan menjadikanmu memiliki matahari, sesuatu yang tak akan pernah bisa dibeli 🙂

(buatku) sakit itu bukan hukuman..

mungkin aku memang tidak akan pernah suka jika ada yang bilang bahwa sakit itu merupakan hukuman paling ringan yang dilimpahkan Tuhan pada Manusia. iya, tidak akan pernah suka. karena apa? sederhananya bisalah karena murni diriku sendiri, karena apa yang berdiam di tubuh ini, karena apa yang tak bijak bila terus diingkari sampai mati. bagi yang tidak mengalami tentu tak akan mengerti. tapi aku juga bukannya kemudian minta dikasihani. seluruh ketidaksempurnaan pemberian Tuhan itu bagiku telanjur menjadi Penjaga dan Pendidik Abadi dalam ketidakabadianku sendiri.