Category Archives: Love

selamat petang, Tuhan..

selamat petang, Tuhan
Hujan baru saja datang
tampak keemasan
Sang Surya memberikan keindahan

selamat petang, Tuhan
sudah adakah waktu untuk berbincang?
ada yang ingin kuceritakan
namun tak apa bila harus kutunggu Kau
sampai malam

agar tenang-tenang kita
di tempat yang sama disuka
tak perlu mencemaskan apa-apa

selamat petang, Tuhan
Hujan baru saja datang

– – – – – – –
Juli. hari ke-15. tahun ini. di sini. dalam tenang-tenang. bersama Tuhan 😀

baiklah akan kuupayakan ingat:

baiklah akan kuupayakan ingat:

belai lembutmu yang kembali datang,
kesabaranmu yang seakan tak kenal rentang,
kebisaanmu membuat diamku mencair jadi riang,
dan ikatan tali di kedua sepatuku yang kau benarkan.

baiklah akan kuupayakan ingat:

kau sedang menganyam kembali apa yang kulipat hilang,
mengumpulbentukkan puing-puing yang mengabuasap,
mewarnai dinding Jembatan Pelangi sebagai rayuan,
pun ikatan tali di kedua sepatuku telah kau benarkan.

baiklah akan kuupayakan ingat:

di mana kuletakkan Gusar dan Kecurigaan?
suara keduanya sama sekali tak terdengar.

Bidadari, aku mau pelukmu

hai, Bidadari. kalau sepagi ini aku mengibarlambaikan selembar besar Bendera Ungu di tempat biasa aku melangit, apa kau akan terketuk untuk terbang turun sebentar? di bawah Biru cerah begini aku tak bisa ringan meminta agar Tuhan memelukiku dalam Hujan. sementara hangatmu sudah terlalu lama pergi meninggalkan. aku rindu. rasanya sudah mengubun. aku tak mau terdengar lantang mengeluh. aku mau pelukmu yang tak akan pernah tergantikan itu.

– – – – – –
**buat: Dewut

Tuhan hari ini

1/ Pagi. Hujan masih melanjutkan pestanya yang kemarin.

Tuhan itu maha romantis, terlalu baik. Ia memelukku semalaman hingga ini pagi. Hujan menjadi bahasaNya. juga serangkai besar Bunga Tidur nan cantik.

2/ Malam siap terbit. Hujan belum berhenti dengan pestanya yang sudah sejak kemarin.

hingga tenggelam Senja yang ini, Tuhan masih saja begitu romantis. si Tampan Maut secara langsung dititahNya untuk memastikan tetap hangat tubuhku, dari sebatas dada hingga ujung kaki utuh terselimuti. sudah begitu masih ada satu lagi. Tuhan membiarkan telingaku mendengarkan begitu panjang alun merdu sonata gubahan Awan-awan Penghantar Hujan yang berkolaborasi dengan lebih dari miliaran Titik-titik Air dan dihantarmainkan oleh Piano Langit. Halilintar membisu tak diizinkan membuat kegaduhan. Pepohonan sampai tak boleh berbisik-bisik. Tuhan ini sungguh baik sekali. sedari kemarin, kemarin-kemarin, kemarin-kemarin-hingga-entah-berapa-kemarin, dan kuyakin sampai nanti, nanti-nanti, nanti-nanti-hingga-entah-berapa-nanti. senyumku tiba-tiba matahari.

38 menit 20 detik

ada sekitar 38 menit 20 detik yang aku habiskan untuk bercerita ini-itu ke Bapak Bintang. iya, tentang melaut #pergiketimur tentunya. aku ingat betul tak ada yang terlewatkan, termasuk segala rincian apa yang aku bawa dan apa yang akan aku lakukan dalam tiga minggu perjalanan 🙂

tak hanya sabar mendengarkan, pria yang terpaut 15 tahun lebih tua dariku itu (seperti lazim ia lakukan setiap kali aku akan bepergian) sibuuuuuk memaparkan satu demi satu skenario-skenario terburuk yang justru membuatku menyahuti senang. iya, dasarnya aku, bukannya berubah cemas malah riang, karena itu tanda ia perhatian sekaligus memastikan aku siap berangkat atau sebaiknya menunda diam. meski tumben kali ini ia tidak bilang “gimana kalau nanti diculik?” sesudah bertanya, “jadi yang pergi berapa orang?” 😀

ada sekitar 38 menit 20 detik yang aku habiskan untuk menjadikan sebuah perbincangan sebagai penambah semangat sebelum memulai perjalanan. iya, dengan ia yang (bahkan aku terlupa entah sudah berapa lama tepatnya) menemani dan menjagaku sebagai Bintang. aku ingat betul apa yang ia nyatakan sebagai pesan.

“baik-baik di jalan. jangan malas mandi. jangan malas ganti baju. jangan malas ganti daleman. bersenang-senanglah di sana. udah gitu aja. waspada. siapa tahu ketemu mafia.”

*triiiiiit. hening. pingsan. hahahahaha.*

dan malam ini adalah saatnya memilih-milah pakaian yang akan aku masukkan di Plastik Ajaib sebagai perbekalan. kalau pun terlalu malas, besok pagi pasti akan aku lakukan. sudah semakin dekat. iya. itu perjalanan 😉

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

untuk Dewa Bumi di harinya ~_~

tahu kau kenapa aku sangat suka bila datang kesempatan terlibat perjalanan (entah kecil entah besar) bersama Ayah Alam-ku? bukan, ini bukan cuma soal kami akan serius berbagi canda tawa dalam waktu panjang. bukan cuma soal aku harus mampu bertahan mendengarkan cerita yang kadang membuatku bereaksi geleng-geleng kepala atau pura-pura bosan. melainkan karena aku akan punya banyak hal yang bisa diterima sebagai pelajaran. dan hal itu sangat menyenangkan

pelajaran? pelajaran apa sih maksudnya, Kuk?

emmm, baiklah, mungkin akan kubagi sedikit apa yang aku maksudkan

sekali waktu aku turut mendokumentasikan sedikit kegiatan para Peserta dan Tutor Citarum Documentary Camp ke Ci Tarum Purba. Ayahku pun turut, karena darinyalah cerita mengalir mengiringi rekam Sungai yang berbeda bahasa dengan Manusia. dalam perjalanan pulang, ketika kami melewati setumpuk kecil Abu Jejak Api, ia berhenti, mengambil potongan Batang Pohon Pisang yang tertancap di atas tumpukan Abu tersebut, lalu mulai bercerita.

“Yu, tahu tidak, ini teknologi yang mendahului Kompor yang kita kenal sekarang. bahkan ini relatif lebih bagus ketimbang Kayu Bakar. karena panas yang dihasilkan bisa lebih merata dan lebih awet. jadi..”

seperti biasa aku mencoba menyimak, mengingat-ingat, namun tidak berhenti mengamati lalu merekam apa yang dilakukannya. meski ya aku sadar, pasti nanti aku akan lupa lagi Dewa Bumi sudah menyampaikan apa saja. tapiii, biasanya aku selalu dimaafkan sih.

hari ini, aku meyakini, Ayah Alam-ku (Pak T Bachtiar) pasti bangun pagi dengan bahagia. menghirupi Udara bebas bersama Kekasihnya (Ibu Dewi Syafriani). dan (bisa jadi) seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka berdua akan saling mengucapkan selamat atas pergantian usia. hari ini, aku meyakini, sekitaran Langit tengah dipenuhi lintasan Doa-doa dan sebagiannya adalah untuk keduanya; agar sehat bahagia senantiasa, agar selamanya menjadi Keberkahan Semesta.

selamaaaaaat ~,~/

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)