All posts by kuke

seorang-yang-suka-menjelajahi-apa-apa-yang-diingini-hatinya-jadi-ya-begini-deh ^^v

Catatan Kecil Perjalanan Menelusuri Jalan Dipati Ukur Sisi Timurlaut – Utara

belum lagi tepat tengah hari aku sudah dapat dua materi amatan perihal Kesadaran Ruang. pertama ditemukan di balkon yang sudah lama direlakan sebagai Area Jemur, dan kedua dialami di trotoar yang berada tepat di depan taman sebuah Universitas yang paling setia memajang wajah Presiden ke-6 negeri ini di sesudut halaman depannya.

Temuan Pertama memaksaku berpikir bagaimana caranya agar Jemuran Besar yang tersedia mampu menampung Pakaian-pakaian Basah (tak terkecuali milikku) tanpa berdampak buruk bagi Pakaian-pakaian yang sudah lebih dulu kering. kenapa aku yang harus berupaya? sebab Penjemur Pertama (kemarin) tidak kunjung mengangkat sepasang Piyama miliknya, dan Penjemur Kedua dengan semena-mena merentangkan Pelangi Kostum Pribadi mungkin dengan maksud agar cerah Matahari sedia bertahan cukup panjang, sementara aku agalah Penjemur Ketiga 🙂

Temuan Kedua membuatku harus mau berjalan di tepi luar lantai Trotoar ala Pemain Akrobat melintas Tambang, lalu kira-kira tujuh sampai sembilan detik kemudian (bila diasumsikan Bibir Trotoar itu ada di sisi kanan) sudah berpindah ekstrim ke sudut kiri tanpa boleh mengajukan keberatan sebab semua yang berjalan berlawanan arah selalu memposisikan diri paling benar 🙂

Jemuran Besar dan Trotoar memang dua hal yang berbeda. tapi tingkat Kesadaran Ruang milik Orang-orang Lain yang dihadapi rasa-rasanya ada di rentang menghampiri sama. bagaimana mereka menempatkan sesuatu, memposisikan diri, seakan tak ada siapa pun lagi di sekitaran. perkara apa yang dilakukan akan mengakibatkan Kekacauan dalam skala mana saja, entah kenapa sepertinya tak terkesan penting untuk dipikirkan.

bukan perkara baru memang. entah akan berbahaya kelak atau justru akan semakin menarik untuk diperhatikan hingga beberapa tahun mendatang, belum benar-benar kusarikan. tentu tidak ada yang ingin aku salahkan sebab aku sendiri belum tertarik untuk membawanya ke ranah Salah-Benar. kesemuanya ini anggaplah sebuah Catatan. iya: Catatan Kecil dari sebuah perjalanan menelusuri Jalan Dipati Ukur sisi timurlaut – utara 😀

seharian memikirkan Tuhan dan tuhan-tuhan

*jelang pukul satu siang*

aku lebih suka jika Manusia-manusia tidak menumbuhkembangkan kesukaannya sedikit-banyak mengambil peran Tuhan dan curi-curi menikmati menjadi tuhan mengatasnamakan Tuhan.

tidak patut. tidak sepantasnya. menurutku demikian. tidak lebih, tidak kurang.

aku jauh lebih suka jika Manusia-manusia menyumbangkan energi besar mereka demi menyamankan Bumi kembali sebagai Wahana Berkehidupan, membebaskan Pohon-pohon yang tercekik kepentingan pengakuan adanya Peradaban, merayakan kembali rimbunnya Hutan-hutan tanpa sibuk membinasakan Gunung dan Perbukitan, meleluasakan kembali jalannya Air serta membahagiakan Laut juga Sungai agar kewajiban dan haknya tuntas digulirkan, membahasakan Keberkahan sebagai sebenar-benarnya Keberkahan bukan semata untuk gegap-gempita satu-dua menit ke depan, bukan sebatas untuk satu Kaum satu Kalangan.

sebab, lagi-lagi menurut benak kerdil biasaku ini, bila dinyatakan Kemampuan Berpikir adalah anugerah Penanda Kemuliaan, maka di pundak setiap Manusia tanggungjawab menjaga Keselarasan berlipat kali lebih besar.

*pukul delapan malam*

kalau besok Tuhan mengizinkan aku menjadi tuhan, mungkin yang akan aku lakukan adalah mengutus Hujan untuk menghadiri Perhelatan Akbar yang saat ini sedang ramai dibicarakan dengan atau tanpa Pengetahuan, dengan atau tanpa Keberpihakan, dengan atau tanpa Keadilan.

kenapa Air? kenapa Hujan? kenapa bukan hal yang lebih garang dan lebih mampu tidak semata membuat terdiam? hingga terguncang misalnya? memangnya untuk menghadang Api membakar adalah dengan menguji Kesungguhan?

eh? sebentar: siapa yang mau menguji besar Tekad dan Kenekadan? bukan

selama ini apa kau masih belum paham juga mengapa Tuhan memberimu banyak-banyak Hujan? masih menganggap Petaka sedang dirayakan?

ah kau

apa aku tidak akan menzalimi Tuhan?

urusan pak-pik-puk jelang menjalani Ibadah Pribadi (baca: membahagiakan diri sendiri) belum selesai. yang baru saja terdengar bukan Adzan Mahgrib melainkan Adzan Ashar. artinya, masih ada beberapa jam lagi yang harus dilalui dengan (sebisanya) tenang-tenang agar jangan sampai ada Konfirmasi Pembayaran yang terlewat. hanya sajaaaa, duh, aku masih terus dikenai goda-goda baca sini baca sana yang berakibat aku ingin sekali berdoa benar-benar.

mendoakan apa?

mendoakan agar tak adaaaa satu pun orang yang bisa menghindarkan diri dari kenyataan dalam kurang dari 60 detik ke depan: Listrik padam + Baterai hilang + Jaringan Internet padam lebih dari 2×24 jam, sehingga mau tak mau semua Manusia akan menjalani Pilihan-pilihan yang mungkin selama ini banyak diabaikan sebab merasa apa pun yang disajikan pelbagai Buah Teknologi berbantukan Tenaga Listrik sudah teramat sangat mencukupi kebutuhan.

jahat ya?

jelas: i-y-a.

bayangkan Industri apa saja yang akan menderita kerugian tak tanggung-tanggung banyaknya bila Doa Nyeleneh itu dikabulkan Tuhan. potensial disamakan dengan Kiamat bisa-bisa. daaaan, belum lagi Kehidupan Pribadi si A, Kehidupan Pribadi si B, si C, …, hingga entahlah berapa jumlah Manusia yang tinggal di Bumi sekarang.

lantas, Kuk, apa Doa Nyeleneh tersebut akan tetap dilangitkan demi damai sejenaknya Buana (khususnya yang sebelah sini nih, sekitaran Nusantara sini ini nih) dari apa-apa yang, duh, melulu Kebencian, melulu Fitnah, tidak Pagi, tidak Siang, tidak Sore, tidak Malam, lebih penting dari menumbuhkembangkan Karya bahkan dalam sederhana-sederhana Kebajikan?

haaaaaaaaaaaaaa.. e-n-t-a-h..

menurutmu, apa aku tidak akan menzalimi Tuhan jika aku meneruskan apa yang kuyakin paling tepat paling benar dengan menempatkan Kedamaian sebagai alasan?

siapa nanti yang akan menuliskan Obituari buatku?

mereka yang terkumpul dalam Ruangan Beraroma Karbol Cemara ini tak punya hubungan darah satu sama lain, bahkan denganku. namun kesemuanya hadir di sini karena aku.

ada yang berusaha keras menahan agar tangisnya tak pecah dan disesakkan isak-isak. ada yang bergenggaman tangan saling menguatkan. ada yang sejak terang berubah jadi malam dan hampir berubah jadi pagi masih tetap setia berdekat-dekat denganku, menatapi kelopak mata yang masih terkatup, sesekali membenamkan kepalanya hingga bersinggungan pipi dan telingaku.

Sunyi masih belum diberi saatnya bermahkota. suara Mesin Penyangga Hidup, Doa-doa dalam bahasa seragam terlantun: riuh. aku sungguh ingin buru-buru. betapa tersiksanya tak ada yang membawakanku berkarung-karung Senyum. meski itu kamu yang paling aku suka bila tengah tersenyum.

jadi, siapa nanti yang akan menuliskan Obituari buatku? jika isinya kelak memanen Airmata saja, aku sungguh tak mau. ribuan lambai tangan perpisahan yang diarahkan ke Langit dan Laut selalunya akan jadi Impianku. termasuk kesediaanmu memperabukan serta melepaskanku agar leluasa pergi ke mana pun arahnya Angin-angin itu 😀

yang kutemukan dalam dera rinduku padaMu

apa Kau tahu ini pertama kalinya dalam perjalananku aku merasa pulang sebelum tiba di rumah yang di dalamnya selalu ada diriMu menunggu?

aku menemukan pelukMu. aku menemukan lembut senyumMu. aku menemukan rasa-rasa yang lazimnya tak akan terpenuhi sebelum benar-benar bertemu Kamu dan bersujud sungguh-sungguh, memohon maaf karena senangnya keluyuran melulu.

dan selalunya tempat yang segera membuatku jatuh cinta adalah pucuk-pucuk tertinggi itu. satu-satunya pilihan terbaik untuk kita bisa saling bertukar tatap dan cerita menurutku. meski, harus kuakui, seleraMu teramat sangat bagus. iya. ketika Kau menjadikan angin sebagai dinding, langit sebagai atap, awan-awan bergantian menghias, matahari selayaknya penerang.

jadi, boleh tidak jika sekarang saja kita atur posisi, ambil tempat, duduk di satu pucuk tertinggi terbaik yang, aaa, kali ini kuserahkan pilihannya padaMu?

aku sangat-sangat-sangat rindu 🙂

(foto oleh Fendi Siregar)
(foto oleh Fendi Siregar)

– – – – – – –
kolaborasi rasa bersama Fendi Siregar (Hutan Alas Purwo) dan Taufanny Nugraha (Sasmaya)

selamat petang, Tuhan..

selamat petang, Tuhan
Hujan baru saja datang
tampak keemasan
Sang Surya memberikan keindahan

selamat petang, Tuhan
sudah adakah waktu untuk berbincang?
ada yang ingin kuceritakan
namun tak apa bila harus kutunggu Kau
sampai malam

agar tenang-tenang kita
di tempat yang sama disuka
tak perlu mencemaskan apa-apa

selamat petang, Tuhan
Hujan baru saja datang

– – – – – – –
Juli. hari ke-15. tahun ini. di sini. dalam tenang-tenang. bersama Tuhan 😀