siapa nanti yang akan menuliskan Obituari buatku?

mereka yang terkumpul dalam Ruangan Beraroma Karbol Cemara ini tak punya hubungan darah satu sama lain, bahkan denganku. namun kesemuanya hadir di sini karena aku.

ada yang berusaha keras menahan agar tangisnya tak pecah dan disesakkan isak-isak. ada yang bergenggaman tangan saling menguatkan. ada yang sejak terang berubah jadi malam dan hampir berubah jadi pagi masih tetap setia berdekat-dekat denganku, menatapi kelopak mata yang masih terkatup, sesekali membenamkan kepalanya hingga bersinggungan pipi dan telingaku.

Sunyi masih belum diberi saatnya bermahkota. suara Mesin Penyangga Hidup, Doa-doa dalam bahasa seragam terlantun: riuh. aku sungguh ingin buru-buru. betapa tersiksanya tak ada yang membawakanku berkarung-karung Senyum. meski itu kamu yang paling aku suka bila tengah tersenyum.

jadi, siapa nanti yang akan menuliskan Obituari buatku? jika isinya kelak memanen Airmata saja, aku sungguh tak mau. ribuan lambai tangan perpisahan yang diarahkan ke Langit dan Laut selalunya akan jadi Impianku. termasuk kesediaanmu memperabukan serta melepaskanku agar leluasa pergi ke mana pun arahnya Angin-angin itu 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s