siang di Gudang Utara

siang tadi ada semacam kejadian lama berulang. di satu sisi jalan Gudang Utara saat Arloji belum lagi menunjukkan tepat pukul duabelas.

padahal baru sedikit Hujan yang datang. padahal tak ada hiruk-pikuk Kendaraan Bermotor lalu-lalang yang harus disaksikan dengan serius oleh sederetpanjang Bangunan Tua berwarna Hijau. padahal di menit-menit sebelumnya jiwaku malah sudah dikenyangkan kehangatan perbincangan bersahabat. padahal sekali ini tidak sedang berjalan kaki jarak jauh seperti biasa (melainkan baru turun dari mobil bersama Kawan-lawan). tanpa ada sedikit pun peringatan atau pertanda, aku sudah harus begitu saja menerima sebentuk Tanda Cinta dari Kota Bandung yang bukan baru belasan purnama diakrabinya.

mungkin aku sendiri yang salah. keberadaan Lubang Lebar yang sudah aku sadari sejak Mobil yang ditumpangi belum lagi diparkirkan membuatku bisa memberikan Peringatan Berhati-hati kepada yang lainnya, namun aku sendiri malah lantas lupa. mungkin selazimnya yang sudah-sudah, pasti akan jauh lebih mudah jika aku ditempatkan sebagai Pihak Yang Salah. tanpa terkecuali ketika menemukan kenyataan minimnya Lampu-lampu Penerang Jalan justru di sekitar Trotoar-trotoar yang bolak-balik dibobol dengan macam-macam alasan. tanpa terkecuali ketika berusaha berjalan dengan tertib di tempat yang disediakan namun adanya aku harus mengalah pada Pengendara Sepeda Motor juga Pedagang Kaki Lima. tanpa terkecuali ketika menerima perlakukan tak menyenangkan dari para Pengendara Mesin-mesin Mahal saat aku bahkan sudah tak berniat menyeberang sembarangan di beberapa ruas yang sama sekali tak dilengkapi Lampu Lalu Lintas.

meski demikian, jelas tidak menyenangkan ketika harus terperosok jatuh ke dalam Selokan sedalam (kira-kira) 90 cm karena rusak bagian penutupnya (yang saking lebarnya, Ban Mobil Sedan pun bisa-bisa tak akan selamat jika mengalami hal yang sama). walau tak sampai mendapatkan luka baret di sepanjang tulang kering sebagaimana beberapa tahun silam (saat aku mengalami hal yang sama di depan Gedung Sate), dan secara refleks kaki-kakiku tertahan hingga tak sampai menyentuh dasar, sangatlah tidak mengenakkan saat tulang ekor terhempas di permukaan amat keras dalam kecepatan yang sudahlah entah. airmataku tak ada yang keluar. namun terasa benar seluruh ruang perutku bak habis dihantam sesuatu yang berat dan besar hingga mualnya nyaris susah ditahan-tahan.

siang tadi ada semacam kejadian lama berulang. di satu sisi jalan Gudang Utara saat Arloji belum lagi menunjukkan tepat pukul duabelas. tanpa ada sedikit pun peringatan atau pertanda, aku sudah harus begitu saja menerima Tanda Cinta Besar Kedua dari Kota Bandung yang bukan baru belasan purnama ditelusurinya. pertanyaan yang selanjutnya terus berputarulang hanyalah: apa harus sesakit ini rasanya?

– – – – – – –
N.B. maaf, tidak ada foto yang bisa dilampirkan. seusai kejadian, tidak ada lain hal yang bisa dipikirkan selain menenangkan diri agar jangan sampai menyusahkan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s