Bapak Matahari & Mata Angin: tentang Pertemuan

SABUGA, 23 JANUARI 2016

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

baiklah. anggap saja ini sebagai sebentuk kebodohan kalau tak mau menyebutnya sebagai sebentuk kehati-hatian. dari depan pintu ruang yang terbuka lebar — iya, tepat dari tempatku berdiri menunggu Mbak Tiwi yang tengah mondar-mandir mencari-cari orang yang membawa tiket-tiket bagi mereka yang diundang oleh Mas JSOP di malam 23 Januari — aku dengan jelas melihat sosok yang bertahuuuun-tahun hanya bisa kulihat di siaran-siaran televisi, di liputan media-media cetak juga online, di sampul album kaset, di Pertelon Budaya (website pribadi JSOP), dan melalui foto-foto yang beredar di akun media-sosial miliknya. itu Mas Om (panggilan lengkapku untuknya, selain Bapak Matahari, adalah: Mas Om Pak). itu Yockie Suryo Prayogo yang haaaaah, yah yang itu, yang Karya-karya Musik-nya sudah bermekaran bahkan sejak sebelum lahirku. putih-putih yang dikenakannya berbalut Bumi dan Pelangi dalam kesatuan wujud.

aku sungguh punya kesempatan baik akibat ‘terpaksa’ harus mampir ke area Back-stage agar tak sulit ditemukan sebelum Tanda Masuk Resmi Penonton melingkar di salah satu pergelangan tanganku. beberapa meter lagi saja kalau aku sungguh nekad mau. daaan, aku tidak melakukan itu. bahkan ketika tak sengaja matanya bertemu mataku, aku tak lantas melesat menujunya menanggalkan malu. aku malah berpikir dulu. aku tak mau melakukan kesalahan yang tak perlu di pertemuan pertamaku. tujuh tahun, baru tujuh tahun, dan itu bukan berarti aku boleh melakukan sesuatu sekehendak hatiku. tepat ketika Mbak Tiwi telah kembali berjalan ke arahku, lalu mengajakku turut kembali ke gerbang agar mudah menemukan orang yang sedang dicari-carinya itu, aku benar-benar melepaskan kesempatan untuk melakukan apa yang sudah sejak dari kemarin-kemarin kurancangkan khusus.

belum. aku sibuk bersikeras berkata pada sendirinya diriku, “belum, Kuk. sabar. belum.“. sampai kemudian aku kehilangan Hak Istimewa sebagai dampak sekeping ‘Crew‘ yang melingkar manis di leherku. orang yang membawa tiket-tiket bagi mereka yang diundang sudah ditemukan. Silver L 00120 dilingkarkan di pergelangan tangan kanan. aku memilih bergegas menemukan tempat yang tepat untuk duduk nanti selama sekitar tiga jam. aku tidak mau membuangpercuma hal-hal terbaik yang bisa aku dapatkan dengan adanya Hadiah Istimewa dari Mas Om buatku.

AWAL MULA

bagaimana awalnyaaaa, ah, aku sendiri tak yakin aku masih ingat benar lika-liku hingga semua tentang kami bermula. pertemananku dengan seorang Yockie Suryo Prayogo tak pernah dengan sengaja direncanakan, tak pernah ada diniatkan, hanya mengalir begitu saja di masa-masa Multiply (multiply.com) masih berjaya. aku suka mengikuti tulisan-tulisannya tentang apa saja (yang langsung mengena adalah ketika Mas Om menceritakan tentang lagu Airmata dan kisah yang melatarbelakanginya). aku suka mencermati meski tak jarang jadi pusing-pusing sendiri dibuatnya. aku jadi menebak-nebak ia sesungguhnya seperti apa. namun seiring guliran Waktu, tidak. aku menerima saja ia sebagaimana adanya.

tentu tidak searah. antara aku dan sosok yang (apa mau dikata, ya memang) mengagumkan itu kenal berbincang-bincang. mau yang serius atau bercanda, tentang Musik atau malah membicarakan bagaimana semestinya antara Pekarya dengan Karya-karyanya, tanpa terkecuali ketika “Berhala Bulan” dalam proses menuju diwajahkan. Mas Om juga mengetahui satu perubahan besarku, karena di awal-awal kami berkawan aku melakukan satu keputusan yang menuai banyak pro-kontra di sekitaran. ah ya, tentang Tragedi Gigi Patah pun tak terlewatkan. begitulah ^_^

jadi, jika ditanya “bagaimana awalnya?“, sungguh, entah siapa yang memulai. hanya, emmm, biar mudah, ya sudah, sepertinya aku yang mengawali dengan (mungkin) meninggalkan sedikit komentar di salah satu bahasannya saat itu. entah yang mana. maaf, aku benar-benar lupa. bukan karena jalinan ini tidak istimewa. tapi, ya itu tadi, aku yang kini sudah menerima saja ia sebagaimana adanya, terlepas dari siapa itu Yockie Suryo Prayogo dalam ingatan dan pandangan sebagian besar orang lazimnya.

JELANG.. MENJELANG..

ketika mengetahui bahwa Konser LCLR Plus akan digelar di Bandung ya sudah sangat pasti aku senang. aku mengetahuinya sekitar Desember 2015. karena sudah melewatkan pagelaran pertamanya di Jakarta pada Oktober 2015, aku bertekad untuk menabung agar tidak kehilangan kesempatan membahagiakan diri sendiri. harga tiketnya memang terbilang mahal. bahkan untuk kelas termurah pun (Bronze – Rp 440 ribu) sudah bisa aku gunakanya untuk pecicilan (mengangin) dalam jarak cukup jauh. cuma, ya kapan lagi sih? uang bisa dicari. kemewahan yang menjanjikan kebahagiaan itu tidak sering-sering mampir menghampiri ^_^

tapi tahukah kamu apa yang terjadi ketika aku mengabarkan pada Mas Om tentang apa yang sudah siap aku lakukan? huh, tidak mendapat dukungan. ia bilang sendiri kami harus bertemu. tapi, untuk apa yang ingin aku upayakan malah tidak didukung. aku tidak dibolehkan membeli tiket. aku hanya diminta bersikap tenang manis menanti saatnya aku akan dihubungi langsung nanti menjelang pagelaran.

masalah terbesarnya: bisakah si Kuke yang susah diam itu tidak penasaran dan diam tenang selama harus menunggu? heuheuheu.

pada kenyataannya: bisa. meski (sejujurnya) sangat susah menahan diri untuk tidak bertanya: bisa. selain menyibukkan diri dengan melakukan beberapa perjalanan secara mendadak dan sangat sesuka-sukanya: b-i-s-a. malah kemudian aku membawaserta beberapa lagu yang kumasukkan dalam tubuh si Bluey (ponsel sederhanaku itu) dan yaaaa memang tak jauh-jauh tautannya dengan JSOP; dengan harapan nanti di 23 Januari 2016 aku akan bisa melupakan kesemua yang aku dengar bolak-balik itu, masuk ke Ruang Pertunjukan Sabuga dengan kosong, siap menerima apa pun yang disajikan sebagai kejutan. karena aku tahu, Mas Om bukan hanya ingin membuat siapa pun yang datang menonton jadi sibuk bernostalgia dengan musiknya. karena aku tahu, ada yang ingin digerakkan dalam setiap jiwa-jiwa.

apakah berhasil kemudian? datang dengan kosong?

emmm, ya tentulaaah. aku kan sudah bertekad ^_^ tepat di 23 Januari pagi, pukul 10 lewat 15 menit, saat Mbak Tiwi (istri Mas Om) menghubungiku langsung via panggilan telepon dan mengabarkan tentang tiket yang dihadiahkan itu, otakku otomatis melakukan apa yang sudah kuprogramkan sejak Mas Om melarangku membeli bahkan tiket paling murah sekalipun. kostum disiapkan (meski itu tidak 1970-an benar, namun setidaknya aku merasa nyaman dan tetap tampil sebagai aku sebagaimana Kala nasehatkan). tidur dicukupkan (karena konser akan berlangsung hingga larut malam). tubuh disiapkan agar jangan sampai nanti ketika bertemu jadi norak minta ampun, hahahaha. iya, sewajarnya. aku pun yakin Mas Om ingin pertemuan yang sewajarnya. karena kami berkawan.

MENCERAP SAJIAN

sepertinya sebagian besar mereka yang ada di bangku penonton ini saling mengenal. berbeda kelas pun mereka bisa saling memanggil dan berbalascanda bahkan bersama-sama menyanyikan lagu (sebelum pertunjukan dimulai, menyahuti lagu-lagu yang diputar sebagai pengisi penantian) tanpa sungkan. mereka adalah sekumpulan besar Remaja-remaja Tahun 70an yang tak asing dengan apa itu LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja) dan setiap lagu yang wara-wiri di ajang bergengsi tersebut sepanjang kisaran 1977-1979 (Radio Prambors sendiri mengadakan LCLR hingga tahun 1989 kalau tak salah ingat). aku sempat merasa berada di tempat yang salah. pada Mbak Tiwi pun sempat kuutarakan. tapi, ah, kenapa harus merasa seperti itu sih ya? jelas-jelas tak ada batasan bahwa yang boleh menghadiri Konser LCLR Plus ini hanyalah mereka yang sudah pernah mengalami masa remaja di guliran 1970-1979. kalau aku yang kelahiran 1978 ini sudah diundang, berarti aku memang boleh ikut bersenang-senang. meski tak ayal aku menuai kanan-kiri-depan-belakang perhatian. euuu, emmm, andai aku bisa memungkinkan wajahku ini terlihat lebih tua-an, hihihihi.

maka tepat di pukul delapan malam, lampu-lampu ruang diredupkan. masih ada yang berusaha menemukan tempat duduk di antara kursi-kursi yang sudah terisi. masih ada yang sibuk berkomunikasi sana-sini. masih ada yang terpikir untuk berpindah. namun di telingaku sudah singgah “Jurang Pemisah”. dan nun, di tengah panggung, walau tampak kecil, aku bisa dengan jelas melihat sosok yang paling ingin kusaksikan dan kunikmati kepiawaiannya dalam ratusan menit ke depan. jika tiba-tiba hadir Cahaya yang sedikit lebih terang saja ke dekat mataku, mungkin di saat itu pula kau akan bisa melihat banyak Bintang-bintang lahir di sana. geliat Nada-nada membangunkan, mengajak jiwaku lesat ke puncak Bukit yang Megah ^_^

rasanya tidak ada yang tidak ikut bernyanyi kemudian sambil sesekali nyeletuk (mengomentari Bu Dhenok Wahyudi masa kini atau ketika Om Dian Pramana Poetra nge-sun pipi Om Deddy Dhukun contohnya) atau malah berbincang dengan keluarga atau kawannya yang ada di sebelah, membicarakan kenangan mereka akan lagu yang sedang didengarkan (ketika “Selamat Jalan Kekasih” dibawakan oleh Om Dian Pramana Poetra misalnya, dan salah satu ibu dari tiga ibu-ibu sebaya Mama yang duduk di sebelahku kemudian nyaris terpekik mengatakan, “aduuuh, jadi pingin balikan deuiii..”, heuheuheu). meski jadi agak mengurangi kekhusyukan, aku berusaha tidak mempermasalahkan hal itu. seperti Mbak Tiwi bilang, wajar, karena sebagian besar mereka datang memang tujuannya ingin bernostalgia. jadi, ya sudah dihormati saja. aku ini, emmm, meski (lagi-lagi) menuai keheranan di sisi kanan-depan-kiri karena terus ikut bernyanyi dan hanya bersandar (alias duduknya tegak condong ke depan terus) saat Om Sys NS mengisi jeda, terlalu sibuk menikmati tingkahan Nada yang diudarakan dengan bebas, menenggelamkan diri tanpa mau ingat di mana tadi awalnya dan kapan nanti akhirnya. yaaa, ya-a-a, begitulah.

lantas, dari 22 lagu yang dihadirkan, di lagu mana saja kau terlonjak dipenuhi kegairahan yang entah apa jenisnya itu, Kuk?

naaaah, ini menarik. sangaaat menarik. meski ke-22 lagu yang ada itu bisa kukenali bahkan sebelum teks yang menginformasikan tentang lagu tersebut muncul di layar besar yang ada di depan (kan ceritanya aku datang dalam keadaan kosong, tidak dengan sengaja menghapalkan lagu manapun) tidak seluruh lagu membuatku sebentar Angin, sebentar Api, sebentar Kabut, sebentar Matahari.

saat aku sudah berhasil ‘dipanaskan’ oleh “Jurang Pemisah” dengan Husein Alatas mengisi vokal, aku agak ditidurkan kembali dengan kehadiran Bu Dhenok saat “Dalam Kelembutan Pagi” dan “Kelana” disajikan. mungkin karena keduanya relatif ‘manis’? entah juga. ketika Om Keenan Nasution mencoba membelah Udara dengan “Awan Putih”, bahkan saat Tante Tika Bisono yang cantik berkebaya putih membawakan “Melati Suci”, aku belum kembali jadi Api. jika ditanya apa ada yang salah, emmm, aku tidak memikirkan untuk dengan sengaja mencari. aku hanya mengikuti. mencerap tanpa sibuk menyimpulkan reaksi-reaksi. sampai ketika aku mengenali intro “Citra Hitam” dimainkan, aaaaaaah, aku sekali ini menjadi Angin yang tidak mempertanyakan ke mana arahnya mengalir. hanya mengikuti tanpa bertanya apa yang diikuti.

apakah sama berikutnya ketika “Khayal” dan “Kharisma Indonesia” digulirkan bersama Tante Louise Hutauruk? ketika “Nuansa Bening” memancing ingatan-ingatan manis yang lain di masa silam saat dihadirkan bersama Om Keenan lagi? ketika Om Dian Pramana Poetra yang awet ganteng itu melantunkan “Kau Seputih Melati” lalu berduet dengan Om Deddy Dhukun dalam “Masih Ada” lantas aku nyaris ingin menghubungi seseorang untuk balikan lagi (weladalaaah)? ketika sosok WS Rendra membuka “Apatis” yang dihantarkan Om Benny Soebardja (didukung pula oleh Mas Kadri) yang kemudian lanjut berduet dengan Om Harry Sabar dalam “Sesaat”?

tidak. tidak sama. meski masih ikut bernyanyi, dan tubuhku mampu mengikuti setiap perubahan ketukan, rasa ‘agak ditidurkan’ memang kembali datang menyergap. aku tak lantas bilang hal tersebut sebagai dampak kekurangapikan. mana boleh begitu. menikmati sajian semacam ini tak boleh dirusuhi dengan kepentingan melabelkan rentang nilai. aku tetap suka, tetap bisa menikmati, kulanjutkan saja menerima tanpa syak-wasangka, sampai pada akhirnya aku dibangunkan kembali oleh “Matahari” yang tak langsung kukenali karena pancingan intro berbeda, tidak selurus “Matahari” 1977. dan kau harus tahu: aku sangaaat suka ^_^

jadi apa aku kemudian ketika Tante Berlian Hutauruk masiiiih saja begitu memukau dengan jangkauan nada tingginya? aduh, euuu, cukup kompleks sebenarnya. jadiii, jadi bebaaaaas sekali. lebih bebas bahkan dari ingatan masa kecil yang begitu saja hadir, ingatan ketika pertama kali ruang telingaku dipenuhi oleh lagu ini, ingatan ketika kedua orangtuaku cukup heran mendapati bayi pertama mereka memperlihatkan gerak-gerak reaksi setiap kali diperdengarkan “Matahari”. aku yang kini dan sedang berusaha tetap duduk manis di Tribun Silver L di malam 23 Januari rasanya berubah-ubah sebentar Kegelapan, sebentar Kabut, sebentar Angin, sebentar Matahari; dan mataku membasah tak habis-habis karena rasanya penciumanku diterpa aroma Embun-embun. kalau itu kelewatan absurd bagimu, maka senyata-nyata itulah kesemuanya yang sudah kupaparkan padamu bagiku. bukankah mengada-ada itu sama sekali tak perlu? karena pada prinsipnya, buatku: gubahan keren itu ya keren, gubahan bagus itu ya bagus, tak soal dimainkan kini atau di masa lalu oleh orang yang sama atau berbeda sekalipun ^_^

sesudahnya, tertidur lagi, Kuk? saat Pahama dengan bersahaja membawakan “Kidung” (lagu ini memang tak perlu banyak polesan, ia mewah dalam maknanya, itu lebih dari cukup)? saat Dira Sugandi membawakan “Merpati Putih” dengan sangat bertenaga (aaaa, ketika bertemu Pak Budi Rahardjo di panggung, aku sempat membicarakan hal tersebut. ketika kupikir hanya telingaku, eh, ternyata tidak juga. perkiraannya hanya: diperlukan mikrofon jenis tertentu, setting mikrofon harus lebih diperhatikan lagi, atau teknik miking)? saat Che Cupumanik dan Om Debby Nasution membawakan “Angin Malam”? saat Husein Alatas hadir lagi dengan “Anak Jalanan”? saat Che dan Dira berpasangan membawakan “Juwita”? saat “Badai Pasti Berlalu” dilanjutkan “Lilin-lilin Kecil” lantas jadi penutup?

iyaaa, eh, tidak! aku terbangun! aku terbangun lagi ketika “Angin Malam” dibawakan! dan yang paling terasa, aku dibangunkan oleh permainan jemari Om Debby yang melengkapi keseluruhan gubahan tanpa ragu. karena, dalam pemahamanku, kalau “Angin Malam” dibawakan dengan ragu (tanpa terkecuali dari sisi pengisi vokal), malah tak akan tersampaikan dengan ketepatan yang (kalau mau dipikir-pikir) serba relatif.

berlanjut? tentu! tanpa butuh berlama-lama, setelah tidak bisa langsung menebak karena dihantarkan dengan intro yang berbeda, aku sudah jadi Angin lagi saat “Anak Jalanan” dihadirkan! aduuuuh, terserah saja kalau enggan percaya, tapi bagi telingaku komposisi yang satu ini macam sudah lintas Ruang Waktu dan benar-benar hidup Tepat Zaman. yang aku maksudkan itu adalah, ia tidak akan pernah kau sangka sebagai kepingan yang lahir di tahun 1978. bukan tidak mungkin bagi yang baru pertama kali mendengar, “Anak Jalanan” di malam 23 Januari itu akan disangka sebagai produk kekinian, atau paling tua juga ya awal-awal 2000an. sungguh: aku tak bisa menghindarkan diri untuk jatuh kagum ^_^

dan apa kau masih ingin tahu apa yang terjadi menjelang berakhirnya pagelaran yang membuatku berkali-kali merasa teramat sangat beruntung? entah. rasanya seperti jadi dipenuhi rasa gelisah yang mendadak membuncah utamanya ketika “Badai Pasti Berlalu” dan “Lilin-lilin Kecil” memenuhi Udara. sesudah ini, apa masih akan ada yang seperti ini. Waktu tidaklah diam bukan? pergulirannya akan membawa kita pada kehilangan-kehilangan. realistis saja, ketika nantinya mereka yang telah menghidupkan Kultur Pop Indonesia ini pergi, apa yang akan terjadi kemudian? kesemuanya akan terikut hilang dan semua kemewahan ini akan sudah saja ikut terbenam?

entahlah. kenapa jadi gelisah? harusnya mungkin tidak. harusnya mungkin tetap senang. senang karena sudah berkesempatan menikmati konser seapik LCLR Plus ketika orang-orang muda lain belum tentu mendapatkan. tapi, aduuuh, masa iya sih hanya sebatas ini harus dicukupkan? apa harus segala yang terbaik (tidak melulu soal Musik ya) hidup hanya sebagai Kenangan di masa mendatang?

DAN..

begitu “Lilin-lilin Kecil” berakhir, semua yang awalnya duduk manis mulai beranjak merapat ke panggung, aku juga berusaha bergegas turun. tujuanku cuma satu: bertemu Mas Om. tinggal ini celahnya. karena sesudah ini semua, tentu yang dibutuhkannya hanya banyak-banyak beristirahat. aku masih ingat tengah mendapatinya online di jam-jam semestinya ia sudah tidur selama masa persiapan pagelaran. aku masih ingat apa-apa yang sebenarnya masih boleh ia lakukan dan seharusnya tidak dengan segala tentangnya (sebatas) yang aku ketahui. mana mungkin aku tega jika masih mengejar-ngejarnya di keesokan hari.

cuma, memang tidak mudah. bagaimana pun aku harus mengakui jika seorang Yockie Suryo Prayogo itu teramat sangat banyaaak penggemarnya. aku harus rela menunggu karena ada banyak Bapak-Ibu-Om-Tante (tanpa terkecuali Pak Budi Rahardjo dan Pak Suhono — dosen-dosenku di STEI Institut Teknologi Bandung) yang ingin menyapa, berjabat tangan, berfoto bersama, dan kesemua itu datangnya dari delapan penjuru mata angin, hihihi.

sampai kemudian, saat itu tiba. ketika ada sedikit detik kami berdua tak terhalang seorang pun dalam jarak cukup dekat: aku menyodorkan tangan, memberanikan menatap tepat mata-bertemu-mata, menyapa “Mas Om..” dan disambut tatap keheranan, lantas kulanjutkan “Kuke..” yang akhirnya menerbitkan binar hingga uluran tanganku berbalas. aku ditariknya hingga kami sangat dekat. aku menerima sebentuk pelukan persahabatan sepaket dengan kehangatan dan senyum. “tujuh tahuuun..” yang diucapkannya benar-benar nyata selayaknya akhir sebuah penantian panjang. iya, penantian untuk saling bertemu muka antara Bapak Matahari dan Mata Angin yang selama ini berkawan di Udara ^_^

tapiii, belum selesaaaai. seperti sudah kusampaikan di atas, Mas Om JSOP itu teramat sangat banyaaaak penggemarnya. untuk bicara sampai belasan kalimat atau yaaah sekadar mengabadikan pertemuan kami dengan si Didi (Kameraku yang itu itu tuuuh) saja, ampun, susahnyaaaaaaa. hahahaha. belum lagi, nah, aku mulai tidak tega. bisa jadi karena tidak mungkin rasanya ia tidak lelah setelah selama sekitar tiga jam sama sekali tak turun dari panggung juga tak sama sekali duduk.

lalu, apa yang terjadi selanjutnya, Kuk?

sudah. kalau tak salah ingat aku menjadi orang terakhir yang berfoto dengannya (menggunakan si Pico, dibantu oleh salah seorang Crew) dan sekali lagi mendengarkan “tujuh tahuuuun..” diucapkan oleh Mas Om sambil melihat ke arah istrinya yang sudah mendekat sebagai tanda mengenalkan, memberitahukan. kami tentu masih sempat saling mengucapkan salam jelang perpisahan sebelum kemudian dua-tiga orang Crew dan Mbak Tiwi membawa Mas Om kembali ke Back-stage. ia nyaris tersandung. sekilaslihat aku mendapatinya limbung. namun aku bisanya hanya berdoa kuat-kuat seiring keyakinan bahwa kami masih akan masih punya banyak ‘lain kali’ untuk bertemu dan berbincang lebih leluasa dibanding pertemuan pertama yang ini.

kegelisahan yang singgah jelang akhir konser serta-merta hilang, Kuk?

tidak. malah semakin menguat. entahlah. pastinya aku pun perlu segera cukup tidur. dalam keterlaluan ngantuk, biasanya aku tidak akan bisa jernih mengelola apa pun yang kuterima dengan seada-adanya aku. sementara aku sudah lama tahu, bahwa yang diinginkan Mas Om sesudah malam 23 Januari bukanlah puji-pujian melulu, bukan semata pernyataan aku sudah bahagia begini dan sudah bahagia begitu ^_^

(foto koleksi pribadi: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto: koleksi pribadi Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

– – – – – – –
dituliskan oleh si Angin Laut sejak 25 Januari 2016 pagi-pagi hingga lewat tengah hari, setelah diendapkan di seutuh kemarin. hasil pendokumentasian pribadi ditempatkan di album Konser LCLR Plus – Bandung, 23 Januari 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s