Petang Gunung Bandung

sejak awal Ramadhan (tahun ini) hingga sehari sebelum kemarin, aku tidak pernah punya jadwal khusus untuk bukber (buka bersama) sana-sini. selain karena memang tidak ada yang mengajak *uhuks*, aku sendiri kurang berminat menjadi bagian Lautan Manusia di setiap sudut Tempat Bersantap Komersial (apapun jenisnya) di Bandung. tidak tahu juga apakah aku memiliki semacam fobia atau bagaimana, bersama Pepohonan di sepanjang jalan-jalan tertentu yang aku sukai ketidakriuhannya atau malah sekadar berdiam di kamar, emmm, itu jauh lebih menyenangkan ~_~

sejak awal Ramadhan (tahun ini) hingga sehari sebelum kemarin, tiba-tiba ketenanganku sedikit terusik. aku tidak bisa mudah berpaling ketika menemukan informasi kegiatan yang akan berlangsung sehari setelah sebuah Hari Perayaan Pribadi.

(sumber foto: PusTrop Wanadri)
(sumber foto: PusTrop Wanadri)

“ngabuburit..”

“diskusi..”

“Gunung..”

“Bandung..”

“budaya..”

“Om Unu..”

“Kang Deni..”

rasanya entah berapa kali putaran, bolak-balik, aku bicara pada diri sendiri. penggalan-penggalan data yang ada *jika kepalaku ini transparan ya, maka pasti akan bisa dengan jelas terlihat* berlompatan riang. dan kalau sudah begitu, aku tahu apa yang aku inginkan: pergi menghadiri kegiatan tersebut karena aku akan menemukan apa yang aku perlukan. lagi pula, euuu, aku kan belum pernah singgah ke PusTrop (Pustaka Tropis) Wanadri meski sudah mengetahui keberadaannya sejak lama. jadi, tidak ada yang perlu diragukan: aku bertekad hadir ~_~

maka, bertepatan 11 Juli 2015 dan pukul tiga petang *aku sudah menyengajakan diri untuk terlambat datang nih* aku menerobos benderang Matahari. langkahku terasa ringan. senyum pun sepertinya terlalu banyak ditebarkan. sepasang mataku sangaaaat menikmati pemandangan sebelum akhirnya mewaspadai di manakah gerangan Papan Nama Jalan bertuliskan Jalaprang dari atas Angkot Cicaheum-Ciroyom yang aku naiki. iya, ceritanya aku lupa-lupa-ingat kapan terakhir kali aku mondar-mandir di Jalan Bertema Batik yang ada di Bandung ini. berdasarkan hasil mengamati Peta, aku menemukan bahwa Batik Jonas akan bisa dicapai melalui beberapa rute dan salah satunya adalah: Jalaprang – (belok kanan) Batik Kumeli – (belok kiri) Batik Tiga Negeri – (belok kanan) Batik Jonas No. 11 *_*

ternyata sungguh tidak sulit untuk menemukan keberadaan Pustrop Wanadri. untuk kembali ke sana dalam jeda singkat atau lama, aku jamin aku tak akan kesulitan. karena aku langsung punya Kawan Baru Terpercaya tak sampai 50 meter jauhnya dari Gerbang Perpustakaan Mungil tersebut. mau aku kenalkan? ini diaaa ~,~/ (lihat foto di bawah ini yaaa)

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

selain itu, teras yang dimanfaatkan untuk berkegiatan dan sehari-harinya memang diperuntukkan bagi siapa saja yang singgah (termasuk untuk membaca di sana) benar-benar membuatku nyaman. karena apa? karena aku bisa leluasa melangit! hal itu teramat-sangat-penting buatku yang pada dasarnya susah duduk diam. bayangkan: menghadapi Buku, menghadapi Langit. bisa-bisa aku ‘mati bahagia’ setiap hari ~3~

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

etapi, sudah, sudah. mari kembali ke apa yang menjadi tujuanku datang ke Pustrop Wanadri. aku kan mau menghadiri sebuah diskusi. artinya aku harus serius sedikit. kalau tidak, bisa-bisa nanti aku dijitak Om Unu yang sigap bertindak sebagai Moderator menggantikan Kang Adi. hihihi.

kisaran pukul empat petang mendekat lima, belasan wanita-pria muda-belum tua mulai menyimak paparan Kang Pepep tentang keterkaitan Gunung dengan Masyarakat Sunda. meski tidak rinci benar, aku harus jujur mengakui bahwa aku tertarik dengan ulasan singkat-kelewat-padatnya, terutama ketika mulai bersentuhan Budaya. Mata Kekinian akan sulit menemukan dengan tepat makna Gunung bagi setiap mereka yang tinggal dan berkehidupan di sekitarnya, baik sejak dulu hingga sekarang. seringnya (Mata Kekinian tersebut) hanya sibuk dibatasi penggunaannya untuk mengagumi keindahan bagian lekuk Bumi itu, mengenalinya sebagai tantangan yang harus ditaklukkan atau dijadikan tujuan untuk mendapatkan pencerahan setelah didera kegelisahan, lalu di hari lain malah dipaksa merekamingat Gunung sebagai sosok menakutkan dan mematikan; lazimnya tidak lebih dari kesemua itu. dan secara tak langsung hal-hal tersebut mempengaruhi pula ketika ada pihak yang berusaha mengabadikan/mendokumentasikan sosok Gunung-gunung yang hidup di sekitaran Cekungan Bandung. sangat jarang ditemukan ada yang berbagi dalam sudut pandang utuh (delapan penjuru Mata Angin), melainkan hanya dari sisi lihatan terindahnya saja.

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

di sesi berikutnya, giliran Kang Deni yang berbagi. kali ini tinjauannya adalah Sejarah Kebumian Cekungan Bandung itu sendiri. kondisi terkininya pun tak lupa disoroti. karya foto koleksi pribadi miliknya tak lupa dibagilihat pula, termasuk beberapa yang didokumentasikannya ketika tengah menikmati Bumi dari Udara bersama alun Pesawat Trike. nah, kalau yang ini, jujur aku mengakui aku tak tertib menyimak. buktinya? emmm, aku malah sibuk mondar-mandir ceklak-ceklik. bukannya tak menghormati. bisa jadi itu disebabkan telingaku telanjur terbiasa mendengarkan lintasan pengetahuan semacam itu ketika tengah berada di kerumunan para Penafsir Bumi setiap kali ada kegiatan Sarasehan Geologi Populer di Badan Geologi.

guliran Roda Waktu seperti sama sekali tak terasa. tiba-tiba sudah terdengar suara Muadzin membahana di Udara. iya, tiba-tiba kok ya sudah Maghrib saja. sehingga tak bisa dipungkiri seluruh perhatian tersita pada Hidangan Mewah yang sudah disiapkan beberapa menit sebelumnya oleh Reza dkk dari Pustrop Wanadri. Es Buah, Gorengan (mulai dari Tahu sampai Bala-bala), Bumbu Kacang dan Bumbu Kecap penuh potongan Cengek (Cabe Rawit) dan Bawang; tak ada satu pun yang berkomentar miring tentang sediaan tersebut. buatku pribadi malah hanya satu yang berlaku di matangan Senja itu: enak sekaliiiiiii ~,~/

tapi tidak. jangan dikira acara otomatis berakhir. seusai berbuka puasa dan sholat Maghrib, diskusi dilanjutkan kembali. giliran para Penyimak yang menyampaikan isi pikiran terkait dengan apa-apa yang sudah memenuhi otak mereka dalam ratusan menit tadi.

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

ada Nurhuda si Wanadri Muda yang telah memuncaki beberapa Gunung Tertinggi di belahan lain Bumi dan tercatat namanya sebagai salah satu dari sedikit jumlah 7-Summiter Dunia *emmm, maapkeun, belum ditemukan padanan istilah yang enakeun untuk yang satu ini*. ada Kang Ikbal *atau Iqbal? aaaa, tolong maafkan jika aku salah menuliskan nama ya, heuheu* dari Manglayang yang meskipun berlatarkeilmuan Psikologi, namun fasih menyusuri sudut pandang Kebumian dengan ‘cantik’ dalam bahasa (yang kerennya) tak jauh dari bidangnya sendiri. dan apa yang mereka tuturkan jadilah membawa warna dan pencerahan bagi Kawan-kawan dari JGB (Jelajah Gunung Bandung) yang sedang menyiapkan Pendakian 7 Puncak Gunung Bandung (terinspirasi kegiatan bertaraf internasional bertajuk 7 Summits). kepentingannya tak-lain-tak-bukan agar pendakian tersebut nantinya tidak sekadar pendakian saja, namun menyentuh berbagai aspek lainnya yang akan membuatnya menjadi benar-benar bermakna dalam Sejarah Bandung kelak.

petang yang sudah lama hilang dan malam yang bertumbuh pada akhirnya menjadi satu-satunya alasan terhentinya alir perbincangan. diskusi mau tak mau harus rela hati sementara dihentikan. iya, sementara, hanya sementara saja. seusai Libur Lebaran, dimana setiap individu sudah melampaui masa-masa Kumpul Keluarga, diskusi akan dilanjutkan dan rencana Pendakian Gunung Bandung akan dimatangkan. dan, emmm, si Reza bilang, “bersiap saja akan ada diskusi-diskusi lainnya dalam bahasan lebih beragam.“. iya, tentunya di tempat yang sama: Perpustakaan Mungil bernama Pustaka Tropis Wanadri.

akhirul kalam, berhubung aku sudah mulai tidak fokus menulis dan siang ini entah kenapa aku ingin lebih cepat mandi, catatan kecil ini aku tutup dengan titik. kalaupun ada Doa yang mengalir, emmm, aku ingin mengetahui kelanjutan diskusi di hari kemarin dan menghadiri diskusi menarik lain-lainnya lagi. iya. sudah. sudah ya? iya. titik. ini titik yaaa. dadaaaah ~,~/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s