133 menit 6 detik

kalau mau benar berhitung sudah seberapa lama aku tidak menuliskan dengan cukup panjang cerita-ceritaku, tentunya akan butuh tak sedikit waktu. jadi, ketimbang melakukan hal itu, emmm, aku lebih memilih untuk langsung menceritakan saja seperti apa kali ini kuhabiskan pagiku. kemarin pun sebenarnya istimewa. jauh lebih dahsyat malah. hanyaaa, ah, tidak, aku maunya menceritakan yang berlalu belum lama ini saja. karena kemarin hari itu terlalu ‘gelap’. pantang. awal pekan tak sepantasnya dimulai dengan ‘berat’ ~_~

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

sebenarnya aku sudah tak boleh keluar lagi dari kamar. dingin yang kabarnya hari ini memuncak agak memberatkan hiruphela napas. apalagi kemarin-kemarin aku sudah nakal, nekad pergi dan puas-puas pecicilan. tapiii, ugh, aku telanjur melihat Awan Bongkah-bongkah siap membentuk formasi yang kuyakin indah! nah, ya sudah, bandelnya kumat ~_~ seuksakseuk cuci muka, sikat gigi, sedikit membasahi kepala agar si Einstein jinak; berbekal Columbia Ungu kesayanganku itu dan tanpa mengganti jeans-potong-sendiri-selutut dengan celana-berbahan-lebih-hangat-lebih-panjang aku bertolak. kalau tak salah ingat, euuu, agak sedikit melebihi pukul 05.30 WIB.

tadinya aku ingin berbelok di sekitaran Monju.  di sana ada satu sudut yang memungkinkan aku melangit dan menikmati panorama dengan selesa. hanya saja, hatiku tak mau. terus saja langkahku melaju. terus. terusss. berbelok ke kiri. teruuus. berbelok ke kanan. teruuuuss. berbelok ke kiri. berjumpa Zebra Cross. menyeberang. mulai celingukan.

rupanya, setelah sekitar 20 menit berjalan, aku sampai di Gasibu. tanpa ada yang dikenal, tanpa berkeinginan basa-basi, dengan sebuah lagu karya Tiga Pagi yang berjudul “Tertidur” masih bolak-balik memenuhi ruang telingaku, aku mulai merusuhi pemandangan entah-siapa-saja-lah yang berada di sekitar.

emmm, kau sudah pernah lihat belum perilaku setiap kali aku bertemu Langit juga Pepohonan? naaah, ya itu dia yang aku lakukan tanpa merasa perlu untuk sungkan.

meski si Niki tidak dibawa, tenang saja, ada si Pico yang bisa diandalkan untuk merekam apa kurasa perlu untuk kubawa pulang. sisanya, aku lebih banyak mengambil masa untuk bengong-bengong-terpesona-diam. eh, tambahannya mungkin aku sedikit menggerakkan tubuh seiring irama yang aku pikir tepat untuk suasana yang sedang dihadapi. intinya, berhasil atau tidak semua kepingan itu kusimpan dalam si Pico, aku hanya ingin benar-benar merasakan setiap sergapan butiran Udara yang bergerak, aroma Embun yang pelan-pelan melesap, mengikuti gerakjatuhan Daun, meningkahi usikan Semut, menyimak apa saja cita-cita Pepohonan yang tengah ramai diperbincangkan, meniadakan suara-suara yang berasal dari Mesin-mesin Kendaraan dan Manusia.

kurang lebih 30-40 menit aku tak bergerak dari trotoar yang berada tepat di seberang Gedung Sate. ya, pada saat itu aku menjadi satu-satunya (eh, tapi entah juga sih kalau kemudian ada yang tergerak untuk melihat ke arah mana pandang mataku selama itu) yang sama sekali tak melihat ke arah salah satu Identitas Bandung tersebut dan tak mengambil gambarnya barang dua atau satu. aku sudah macam orang beribadah saja. fokus. khusyuk. meski bergerak sedikit ke kiri, lalu banyak ke kanan, kadang ke depan, kadang ke belakang, bermenit-menit duduk di bawah Pohon yang tubuhnya molek sekali (menurutku); aku hanya sesekali menurunkan pandangku dari formasi besar Awan Bongkah-bongkah yang menyelimuti Langit di luasan Timur.

aku tak mendengar ada yang memperbincangkan perilaku ‘ajaib’ itu dengan mulut. namun tubuhku menangkap besar energi yang dipancarkan dari tatapan di sini-sana si ini-itu tua-muda berpadu. kesemuanya nyaris seragam mempertanyakan apa maksudku berlaku begitu. sungguh mereka sangaaat serius. alih-alih membalas senyumku atau ikut menikmati keberadaan Langit, jika tak harus berbelok atau bersegera mengabadikan diri berlatar Gedung Sate atau apa-saja-yang-mungkin-mencirikan-ini-sedang-di-Gasibu, mereka terus menghunjamiku dengan penghakiman sepihak yang mungkin dirasa perlu.

aku? kau bertanya apa yang kemudian terjadi denganku sebagai dampak dari semua itu? emmm, euuu, akuuu, aku tetap melanjutkan kesukaanku: melangit! ~,~/

bertepatan pukul 7 menuju detik ke 30, setelah berpindah lokasi dan memilih duduk beristirahat di tempat yang semestinya sekitar 21 sampai 22 menit, hati dan kaki-kakiku mengabaikan perintah  benakkepala tanpa distorsi ragu. iya, bukannya bergerak kembali ke kamar dan mulai mengerjakan apa-apa yang terbengkalai selama 2 minggu, aku malah tergoda mengejar tersingkapnya Tirai Awan yang membuat Matahari tampak bercadar.

berbelok. berjalan lurus. menyeberangi Zebra Cross. sesisian Surapati. menghadapi Langit. merentang senyum. klak klik. melanjutkan terus berjalan kembali. sedikit bergeser ke kanan. kurang pas. mundur serong kiri. ah, tepat! klak klik. senyum direntang lagi. terus. berjalan lagi. Gerbang Badan Geologi. berbalik arah. tak lagi ditemui tubuh-tubuh molek beranting menarik hati. tidak berhenti. berbelok ke kiri. lalu belok kiri lagi. menyusuri Trotoar Diponegoro. sampai di depan Gerbang Museum Geologi. menyeberang. belok ke kanan. tidak bermaksud menjerumuskan diri ke Cisangkuy terlalu pagi. menuju Taman Lansia dengan (sudah pasti) wajah tampak berseri. melihat berbalik ke Matahari berkali-kali. klak klik. klak klik. beristirahat mata di sepanjang Lintasan Ramahkaki tanpa lepas menonton seri Latihan Bulu Tangkis Ayah-&-Putri. tak terketuk mlipir beristirahat, tak sedikit pun terbersit ingin mengikuti jalan setapak, bahkan tak bercita-cita memutari taman, aku langsung saja menargetkan keluar dan berbelok ke Cimanuk. Vio kulirik. Amaris dalam sedikit ratus meter kutemui. alhasil aku bersenang-senang lagi di Progo dan membuat seorang Bapak-yang-tengah-bersepeda nyaris lupa untuk terus lurus ke depan sebab membalikkan tubuh sekitar 120 derajat.

kau masih ingat kan apa yang sudah aku lakukan di Gasibu selama bermenit-menit tadi? haaaa, heuheu, aku melakukannya lagi. tempatnya berbeda kali ini. namun di seruas sepi itu aku justru dapat banyak senyuman. dari Pak Supir, dari beberapa Pak Satpam, dan dari mereka yang baru selesai berbelanja untuk keperluan memasak pribadi juga berdagang Jasa Pemuas Rasa dan Pengentas Kelaparan. eh, hampir lupa, Bapak-yang-tengah-bersepeda itu juga termasuk! ia tersenyuuum ~,~/

keseluruhannya adalah 133 menit 6 detik. aku melahap sajian dari Langit yang diracik Tuhan dengan penuh kasih tanpa terlupa menyertakan Pepohonan dan Matahari, serta Bocah-bocah Burung kemriyik. dalam bisu, tanpa bisa basa-basi, aku tak punya apa-apa selain “terima kasih”. rasanya aku begitu dimanjakan, dilimpahi terlalu banyak kebahagiaan; padahal sudah jelas kembali membandel, membandel lagi, membandel, dan  masih terus membandeeeel lagi tanpa bermaksud menghentikan kebandelan lain-lainnya lagi. hihi *_*

ah, sebentar. emmm, kenapa aku mendadak kebingungan harus lanjut menuliskan apa ya? ke mana perginya itu ‘hihi’ sebelum ‘ah’? kenapa juga sudut mataku terasa membasah? aaaaah *mbrebes mili*

(foto oleh: Ayu 'Kuke' Wulandari)
(foto oleh: Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

entah tepat atau tidak, sudah semestinya atau sebenarnya boleh kuabaikan, aku sayang Kau, wahai Tuhan yang lebih dari Maha Baik. juga Langit itu, yang belum berhenti tetap setia menyeimbangkan limbungku serta menguatkan rapuh raga-dan-jiwaku sedari awal Kau kenalkan padaku dulu. cuma itu. aku hanya mampu menutup cerita sepagian tadi dengan pernyataan yang sungguh tak seberapa macam itu. selebihnya, kalau boleh meminta, tolong peluk aku. dan jika Kau setuju, ayo kita berpesta dengan penuh rahasia dalam utuh bisu! iya. aku, Kamu, Langit, dan mungkin Matahari yang sudah memanggil-manggil dari luar kamarku. sesudahnya, aku janji akan menurut. duduk manis menyelesaikan Butir Bekal Pewajah Impianku atau tertib tidur. aku tidak akan ingkar dan sementara pensiun. he-em. dari kebandelanku. heuheu ~_~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s