sekeping petang ini hari

Jendela yang tak bisa dibuka di atas sana itu berkelimpahan butir-butir Matahari. menyilaukan kedua mata, namun ya tubuhku justru merasa sukahati. aku sudah terbangun lagi. entah untuk ketiga atau keempat kali. tak ada bermimpi. namun tak sengaja kedatangan ingatan-ingatan kemarin, kemarin, dan entah berapa kemarin.

tentang seorang Gadis Kecil yang bersedia menurutiku agar tak berpindah dari tempatnya berdiri ketika ayahnya sibuk membayar barang belanjaan kepada Mbak Kasir, tapi kemudian malah menangis setelah digoda kakaknya sendiri. tentang seorang Bocah Lelaki yang tampak belum cukup umur untuk menyaksikan adegan bunuh diri dalam sebuah film ketika tengah makan siang bersama kedua orangtua juga kakek-neneknya, lalu pertanyaannya tentang adegan itu tak digubris. tentang si mungil Fahira yang tampil bermukena kedodoran dan sibuk membantu ayahnya menyapu halaman sebuah rumah di suatu pagi. tentang Danau yang mengingatkanku akan sepasang mata seorang Lelaki yang sepatunya berwarna Bumi. tentang polahku membawa-bawa Mesin Waktu ke sana-sini yang disangka begitu-begini padahal apa yang salah dengan menyenangnenangkan diri tanpa ambisi.

Jendela yang tak bisa dibuka di atas sana itu masih terus berkelimpahan butir-butir Matahari. menyilaukan kedua mata, namun jelas tubuhku terus merasa dihangati. aku sudah tak boleh tidur lagi. saatnya mandi. bergegas agar bisa menepati janji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s