Tuhan hari ini

1/ Pagi. Hujan masih melanjutkan pestanya yang kemarin.

Tuhan itu maha romantis, terlalu baik. Ia memelukku semalaman hingga ini pagi. Hujan menjadi bahasaNya. juga serangkai besar Bunga Tidur nan cantik.

2/ Malam siap terbit. Hujan belum berhenti dengan pestanya yang sudah sejak kemarin.

hingga tenggelam Senja yang ini, Tuhan masih saja begitu romantis. si Tampan Maut secara langsung dititahNya untuk memastikan tetap hangat tubuhku, dari sebatas dada hingga ujung kaki utuh terselimuti. sudah begitu masih ada satu lagi. Tuhan membiarkan telingaku mendengarkan begitu panjang alun merdu sonata gubahan Awan-awan Penghantar Hujan yang berkolaborasi dengan lebih dari miliaran Titik-titik Air dan dihantarmainkan oleh Piano Langit. Halilintar membisu tak diizinkan membuat kegaduhan. Pepohonan sampai tak boleh berbisik-bisik. Tuhan ini sungguh baik sekali. sedari kemarin, kemarin-kemarin, kemarin-kemarin-hingga-entah-berapa-kemarin, dan kuyakin sampai nanti, nanti-nanti, nanti-nanti-hingga-entah-berapa-nanti. senyumku tiba-tiba matahari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s