Dua Rangkai Cerita: Kami #2A

Rangkaian Kedua Gerbong A

aku terbangun dari tidurku dengan aroma Bantal Coklat Kembang-kembang yang mulai membiasa. si Neon masih menyala dengan potongan artikel Heritage yang sedang aku kerjakan terbuka. Bumi masih tidur tampaknya. iya, tentu saja dikamarnya. semalam (seingatku sebelum aku fokus mengetik) panas tubuhnya naik lagi di tengah batuk-batuk yang bisa kuduga menyiksa.

aku berjingkat. butir sinar Matahari yang menerobos dari balik tirai menerangi sedikit demi sedikit gelap ruang seakan sepakat agar aku bergerak perlahan. lelapnya damai. dan ketika aku meraba kulit dahinya dengan punggung tanganku: ah, masih panas. aku bersegera saja meninggalkannya kembali biar kenyang beristirahat. meski rasanya ingin sekali mengompres dengan Handuk Dingin, aku ingat: Bumi tak suka dikejutkan ~_~

maka, apa yang kemudian aku lakukan? >_>

sebagaimana Ritual Pagi sehari-hari: aku bersegera berlari ke lantai dua, membuka pintu ke arah balkon, dan kemudian menyibukkan diri dengan Langit. pagi itu bukan hanya Biru yang bertandang. pagi itu masih ada Bulan yang belum pulang. namun beberapa detik kemudian, seakan tak mau kehilangan kesempatan merasakan balkon yang berbeda dari biasa, aku bergerak kembali setengah berlari turun mengambil Neon, membawanya ke atas untuk diajak duduk mengetik sembari berpuas-puas meraup Biru dan Udara segar *_*

satu kata. dua kata. belasan kata. puluhan kata. ratusan kata. tiba-tiba Waktu mengingatkan bahwa aku ini si Pelapar. aduh, bagaimana ini? seingatku tak ada bahan yang bisa dimasak di dalam Kulkas. emmm, tapi kalau Mi Instan ada! emmmm. heuheu. heuheuheu. sudah lama tidak memasak jenis camilan itu sendiri kan? tanpa pikir panjang, aku pun kembali bersibuk-sibuk membereskan si Neon (namun tidak langsung aku matikan sih), menutup pintu, lalu turun. Partner Kerja-ku itu aku taruh dengan manis di meja dekat Tahta Sofa untuk kemudian aku tinggal kabur ke dapur. meski akhirnya aku memilih memasak dengan Penanak Nasi Listrik, bukannya menggunakan Kompor Gas (waktu itu apa alasannya ya? euuum, sedang ingin saja, hihihi): senangnyaaaa ~3~

sempat kudengar Bumi terbatuk-batuk. ketika kulongok, ah, ia tidak bangun. sempat kutanya lirih apa ia ingin dibuatkan sarapan, jawabnya hanya geliat tidak. jadi, ya sudah, aku menikmati sajalah Mi Instan Jumbo-ku dengan bahagia. kapan lagi kan? *_*

bersamaan suap demi suap yang terasa sangat nikmat, aku jadi teringat: tahun lalu aku juga mengalami hal serupa ini. tidak tepat di bulan yang sama. hanya tepat saat Bumi sedang sakit juga. tidak tepat dengan jenis sarapan yang sama. saat itu aku membuatkan Kentang Tak Benar Matang dan Telur Orak-arik untuknya ~_~

– – – – – – –
*bersambung*

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s