latihan menulis sampai absurd

saya (ternyata) punya kesulitan dalam menulis selain ketika harus menggunakan Bahasa Asing. kesadaran itu sudah muncul sejak lama sih sebenarnya. emmm, mungkin sekitar sembilan tahun yang lampau, ketika saya mulai kembali lebih banyak berkutat dengan tugas-tugas kuliah. saya diharuskan berakrab-akrab lagi dengan segala istilah teknis Dunia Pilihan saya. saya diharuskan menyampaikannya dengan bahasa santun sesuai kaidah keilmuan. meski ya tetap saja di tengah kepadatan lalu lintas ‘harus produktif’ saya dengan cueknya mengambil waktu untuk memanjakan diri sendiri berkubang dalam Sastra, dalam Puisi. karena pada dasarnya saya suka.

lepas dari satu setengah tahun masa studi, saya masih belum sepenuhnya bebas berbahasa. saat itu saya berada di lingkungan pergaulan paduan, dikeliling para Akademisi sekaligus para Penyedia Solusi (tataran praktis). semua sudah tertata. semua ada aturan mainnya, baik itu tertulis atau tidak. saya berusaha menikmati, terlebih karena saya bisa bebas membaca Buku-buku Teknologi Informasi terkini tanpa harus beli sendiri. itu sangat menyenangkan. tapi, apa benar menulis dengan gaya kaku formal itu menyenangkan?

kalau pun kemudian saya mendapatkan kebebasan tambahan pasal apa yang dinyatakan Atasan saya saat itu sebagai ‘sebuah kelebihan yang harus dimanfaatkan dengan maksimal’, dimana saya boleh memproduksi gambar atau diagram bukan melulu tulisan; sepertinya ada yang kurang lepas dialirkan dari setiap ketukan jemari.

beberapa tahun kemudian, setelah saya tidak memperpanjang kontrak sebagai (semacam) Tenaga R&D di bidang keahlian saya, melainkan justru macam berpindah haluan dan sibuk sendiri pecicilan (mungkin sebagian besar orang lebih suka menyebutnya jalan-jalan, padahal belum tentu atau malah bukan), saya memutuskan untuk lebih tekun belajar menulis tanpa cita-cita berlebihan selain: ingin menulis dengan bahagia. dan media pilihan saya saat itu adalah blog pribadi.

jangan sangka tak ada kendala. tak jarang (karena saya masih menerima pekerjaan sebagai Tenaga Teknologi Informasi jangka pendek) Laporan Teknis saya bercita rasa Populer. bagi sebagian kalangan (dari pihak Klien) meski lebih enak untuk dibaca, itu tak berkesan ‘tinggi’ dan ‘mahal’. seringnya saya harus menulis ulang laporan tersebut (yang menurut saya sudah layak ‘tidak memusingkan kepala’) atau bahkan dengan manis mengharuskan menggantinya persis dengan Terjemahan Mati dari Buku Referensi yang disediakan (sesuai pesanan). maka di mana kebahagiaan menulis? hati kecil saya terlalu sering memberontaknya dengan malas-malasan menyelesaikan itu semua. dan, ya, itu contoh yang buruk. jangan ditiru! bagian bermalas-malasan karena tak bersesuaian hati kecil itu.

*sebentaaaar.. capek nulisnya.. hahahahahaha..*

pada akhirnya, tanpa disengaja mengikuti satu pola tertentu dan mungkin karena saya membebaskan diri untuk membaca beragam Buku, saya menemukan jalan menuju cita-cita saya. itu loh, yang: ingin menulis dengan bahagia. benar-benar berproses. benar-benar menghabiskan berkarung-karung persediaan Umur. 

ajaibnya lagi, saya malah menemukan Kotak Dunia yang adanya di dalam Jiwa dan Kepala. orang lain bilang itu sepenuhnya Dunia Saya, dunia di mana orang lain (Pembaca) bisa jadi terikut masuk dengan sudah mengenal atau malah sama sekali lebih suka menikmatinya mengawang-awang. dunia di mana saya tak merasa terganggu dengan ‘apakah orang lain bisa menerimanya atau tidak?’. egois memang. terlebih saya kemudian memilih berjarak dengan apa yang sebelumnya menjadi bidang keahlian saya. tidak, tidak membuangnya. masih dimanfaatkan dan terawat rapi kok. hanya saja yaaa berjarak. kecuali jika orang-orang yang berinteraksi melalui bidang keahlian itu (dengan saya) bersedia menerima gaya Populer, bukan gaya Terjemahan Mati.

*sebentaaaarr.. editing bagian panjang pertama yang ditulis tadi itu dulu*

jadi, kesulitan dalam menulis selain ketika harus menggunakan Bahasa Asing itu muncul ketika kamu berinteraksi kembali dengan bidang keahlian Teknologi Informasi-mu itu, kuk?

eh? bukaaaan. bukan. tepatnya bukan seperti itu. kesimpulan tepatnya baru saya temukan beberapa tahun kemudian setelah saya pun sempat berpikiran begitu.

ternyata saya kesulitan ‘mendua-tiga’ ketika menulis. bukan soal itu bidang keahlian terdahulu, agak dahulu, atau kekinian. misal: jika saya sedang mengerjakan sebuah Artikel Serius (di mana saya tidak boleh sama sekali absurd atau memuat terlalu banyak kalimat liris), maka saya akan sangat-tidak-mudah mendua hati dengan menulis Prosa Liris. misal lagi: ketika saya sedang sok sibuk mengolah Catatan Perjalanan yang ‘gaul’, maka saya tidak akan mudah untuk mengerjakan Artikel Serius dalam waktu bersamaan.

entah dari mana asalnya Blokade-blokade implisit macam itu. tapi sepertinya yaaaa si Otak sudah memutuskan apa yang tepat diperlukan diri saya (dan itu adalah hal paliiiing sulit untuk dicapai sejak kecil): fokus.

*sebentaaaaar.. dibaca ulang dulu..*

*celingak-celinguk*

udah dulu aja aaah. capek 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s