teruntuk dia yang memanggilku Panglima Angin

aku pertama bertemu dan berkenalan langsung dengannya di sudut akhir November dalam putaran dua ribu yang ke dua belas. saat itu ada kesempatan menonton Wayang in Symphony gratis bagi sejumlah terbatas Anggota Keluarga Rumah Kayu. keramahannya selembut aroma Mawar Putih. bahkan dengan cepat tak sungkan diutarakannya apa-apa dariku yang dia sukai: imajinasiku, gayaku bercerita, caraku menulis. aku sampai malu hati. belum apa-apa sudah diakrabi. padahal aku sama sekali belum tahu siapa yang aku hadapi. dia memanggilku: Panglima Angin.

dari sekian perjalanan bersama (kecil-besar-lama-sebentar) Anggota Keluarga Rumah Kayu lainnya, Malang menjadi kota yang paling dalam menyimpankan kenangan. bagaimana tidak jika di setiap kesempatan singgah jajan aku selalu dibagi Makanan. selain karena tahu si aku suka makan banyak, selain karena beralasan agar aku cepat bertumbuh besar, mbak Esther bilang hal itu dilakukan karena dia ingat akan perkataanku tentang Makanan, tentang menghargai mereka yang sudah bersedia menemani Manusia berkehidupan dengan cara tidak menyisakan melainkan menghabiskan ~_~

aku tak bisa menampik, pagi ini mataku kembali membasah sebagaimana beberapa hari yang sudah berlalu semakin jauh dari satu jarak kemarin. mendapati lalu mengunggah tiga buah foto kenangan (termasuk foto ini) rasanya mengingatkan lagi tentang sebuah Kejutan pemberian Tuhan yang susah untuk aku sukai. aku sudah sempat berkhayal akan menemukan senyumnya diterpa kaum Angin yang tinggal di sekitar Rumah Ujung Cakrawala-ku dan Laut. aku sudah sempat ingin melakukan beberapa hal bersama seperti yang sudah-sudah kami lalui. dan kenyataannya sangat sangat sangat jauh berbeda. bahkan tak sedikit pun terlintas di mimpi. bahkan sempat kuabaikan kegelisahan yang memenuhi hati. bahkan aku sesungguhnya tak pernah ingin terlihat (olehnya) menangis hebat seperti di Rumah Duka seusai menemuinya demi berpamitan sebelum pergi.

Bendera Doa sudah dikibarkan dekat Langit. Anak Krakatau menjadi Saksi yang begitu manis. terlepas dari Mantra apa saja yang ada pada setiap Helai Warna-warni di seikatan itu, aku hanya ingin Doa-doa terbaik beterbangan dibawakan sepasukan besar Angin sebagai penghormatan terakhir: buatnya yang tak pernah mentertawakan apa pun polah ku; buatnya yang secara tak langsung mengajarkan tentang apa itu: menjadi baik, tak cuma melulu mengingat kesukaan sendiri, dan tulus berbagi; buatnya yang sudah memanggilku Panglima Angin.

selamat jalan, mbak Esther. sampai jumpa lagi nanti. terima kasih untuk semua hal terbaik buatku di singkat masa. aku kehilangan. aku sangat sangat kehilangan. ini juga sudah menangis lagi. tapi tak ada hal terbaik yang bisa dilakukan selain tetap mengalun sebagai Angin bukan? sampai tiba nanti saatnya kita sama-sama lagi. memotret apa saja yang kita sukai nanti. aku meyakini ^,^v

o iya, satu lagi. kalau nanti mbak Esther bertemu Bapak, Ibu, Om Kelik, Dewut, dan Encis-ku, mereka akan bisa jadi Kawan-kawan Baru yang baik. bahkan Encis akan selalu siap menyanyikan beragam Lagu dengan suara merdunya. dan aku akan dengan senang menemaninya bernyanyi juga dari sini, di setiap saat aku melangit.

mbak Esther, baik-baik di sana yaaaaaa ~,~/

– – – – – – –
mengenang tentangnya dan 22 Mei 2014 kepergiannya

Esther Sidartawan (foto oleh kuke)
Esther Sidartawan (foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s