sekisah Dawai

12 April

ia masih dengan Jeans Bolong Kantung Belakang Kanan seperti minggu kemarin. tapi kausnya tak lagi Putih. seingatku Hitam dilapis Kemeja Flannel Kotak-kotak Biru Tua tadi. dan ya, dimainkannya sepenggal lagu dengan Biola-nya, sedikit mengerling, tak penuh berbalik badan, sebelum kemudian berlalu pergi. mungkin pulang. entahlah. namun hatiku tahu, yang sebentaran dimainkan itu buatku. ya. entahlah. aku hanya tahu saja.

14 April

ia datang. ia datang! tapi kali ini tanpa Tas Biola memberatkan bahu atau pegangan tangan. aduh, apakah ia melihatku? adakah ia mengenaliku yang dalam balut Batik Timur Ungu? lalu kenapa aku ingin ia mengenaliku? aaaa, tidak, tidak tahu. entah. mungkin aku inginnya ia begitu. agar ada alasan berkenalan kemudian, atau sekadar melayangkan senyum. iya. mungkin begitu.

20 April

Dawai yang kehilangan Angin. Dawai yang menanti diketuk Angin. Dawai yang kembali menemukan Angin. didebarkan dengan suka rela di sebentaran pemastian tadi. lembar Daun Pintu menjadi Saksi. Abu-abunya dicerahkan Kuning Matahari.

10 Mei — seusai 2 kali persitatapan tak terduga

Angin berlarian tak tentu arah. memendam dalam-dalam kesempatan hidup sebenih kecil rasa, berusaha menyembunyikannya dari Tuhan yang dalam melakukan apa pun sungguh tak butuh persetujuan sesiapa. Tuhan mengasihi Angin, namun Tuhan pun tak bisa mengabaikan Dawai. Tuhan ingin membahagiakan Angin, dan Tuhan pun ingin berbuat yang sama untuk Dawai. lalu ketika sepenuhan hati pemuda itu dijejali pinta yang tak akanpernah sejalan dengan Angin, sungguh tak terduga arah keberpihakan Tuhan. persitatapan demi persitatapan yang tak terhindarkan adalah wajahnya jawaban dari permintaan- permintaan sepihak. karena pinta Dawai dan Angin yang tak pernah sejalan.

Angin berlarian tak tentu arah. memendam dalam-dalam kesempatan hidup sebenih kecil rasa, bahkan berusaha menyembunyikannya dari Tuhan. Dawai bertahan dalam kesadaran. meminta diam-diam kesempatan hidup sebenih kecil rasa yang hanya ia bagi dengan sepasang mata Angin dan Tuhan. keduanya tengah sama keras berpikir tak sedang dipermainkan kenyataan dan keadaan.

*updated*

11 Mei

entah bagaimana bisa dalam pikirku Bulan tengah bergelayut mesra pada lengan Langit. bersejajaran lengkung itu tiba-tiba saja terbentuk senyum yang sudah aku putuskan tak akan kutemui malam ini. aaargh! cukup Dawai, cukuuup! apa kau tak kasihan pada pikiranmu sendiri yang semestinya dipenuhi apa-apa kebutuhanmu Senin nanti? ya ya ya. semakin jauh aku ingin merutuk, semakin mempesona lengkung itu membawakan segala ingatan tentangnya. iya, lagi-lagi tentangnya. tentang senyum dan tingkah kekanakannya. tentang kejailannya menggoda kawan-kawannya yang kawan-kawanku juga. tentang merdu suaranya yang memenuhi ruang tubuhku tanpa pengantar. aku seakan nyata ditingkahi namanya: Angin. ya, begitu berulang kudengar dipanggil-panggil namanya: Angin.

*updated*

13 Juni

“aku selalu mencarimu sejak saat itu.” — “wah? untuk apa?” — “dengar suaramu.” — “heh? suara bebek ini?” — “haha, bukaaan. suaramu yang merdu. suara nyanyianmu.” — “..” — “kau boleh percaya juga boleh tidak, suara itu tidak pernah hilang dari ruang telingaku.” — “..” — “dan itu menyiksaku.” — “maaf.” — “kenapa maaf?” — “aku tidak bermaksud menyiksamu.” — “ah, bukan salahmu. aku menyukai siksaan itu. membuatku berpikir bagaimana menyatukan hal yang berbeda.” — “heh? emmm, kamu tidak bermaksud ingin menyatukan Biolamu dan aku kan?” — “ahahaha, mudah ditebak ya? aku?” — “aku tidak bilang begitu.” — “tapi memang itu yang terlintas dipikiranku.” — “dua Skala Nada yang beda?” — “ehem.” — “Dawai..” — “tak apa kan?” — “yaaa tak apa juga.” — “mau membantuku kan?” — “tahu dari mana aku akan menjawab iya?” — “buat musik, pasti iya.” — “wah? yakin sekali?” — “iya.” — “jangan terlalu yakiiiin.” — “aku sempat melihatmu bernyanyi di skala nada yang aku kuasai. aku sempat melihat jemarimu bercengkerama dengan senar-senar nylon itu meski mesranya tak bisa melebihi mesranya alunan suaramu terhadap tembang yang aku bilang paling aku sukai. aku juga sempat melihatmu terus bernyanyi lirih sambil berjalan kaki melihat ke langit. aku bisa mengenali gerak tubuhmu berirama, tidak jarang bisa beralih ketukan dalam sekejap, meski saat itu kamu tidak sedang mendengarkan musik dari player mana pun. aku pernah berpikir, jangan-jangan musik itu bahkan sudah tertanam di dalam kepalamu, atau malah menyatu dijantungmu. tidak tahu. aku memperhatikan, Angin.” — “..” — “aku memperhatikanmu bahkan ketika kau pikir aku tak ada di tempat kau berada sama sekali.” — “..” — “itu dasar keyakinanku.”

(sumber gambar: etsy.com)
(sumber gambar: etsy.com)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s