Dua Rangkai Cerita: Kami #1B

Rangkaian Pertama Gerbong B

Malam sudah datang, namun Hujan belum pulang. soal laparku yang mulai susah diabaikan sudah diketahui Bumi dan tanpa ragu ia memacu si Telur Asin ke tempat yang terbiasa kami sepakati entah untuk seporsi Nasi Goreng atau Capcay. satu-satunya godaan di tengah keterbatasan uang jajan adalah Gehu Jeletot yang dijual di sebuah teras salah satu Mini Market sisian jalan. sesudahnya ia yang dilindungi Jas Hujan kembali memacu motornya tanpa lupa memastikan aku masih tetap duduk manis di belakang dan melingkarkan tangan karena diketahui sudah mulai kedinginan —setelah sebelumnya terlalu sibuk bernyanyi-nyanyi senang karena bisa bebas merasakan alir Udara sekaligus bertabrakan dengan mereka, menyapa dekat banyak Pepohonan, ketambahan lagi bermain Hujan ^_^

tak banyak kata yang diucapkan ketika kami sampai di tujuan beberapa menit kemudian: Bumi bersegera menggantung Jas Hujannya yang menyeluruh basah lalu menjerang sepanci Air untuk mandi, sementara aku dengan kesadaran sendiri ya sudah berganti pakaian kering. berikutnya kami sibuk dengan makan malam masing-masing: Bumi menikmati seporsi Nasi Goreng Pete sembari duduk santai di Tahta Sofa kesukaannya dan menonton acara di televisi; sementara aku lebih memilih duduk manis menghadapi Meja Makan, seporsi Capcay Goreng dan Nasi Putih tanpa lupa segelas Air Bening. kami tidak mendadak saling marahan. kami memang memilih cara yang berbeda untuk menikmati sebuah makan malam. mungkin dalam pikiran kami sepakat untuk mengambil jeda setelah sepanjang umur Senja tadi berdua kami sudah memberisiki Waktu dengan ada-ada saja pembicaraan. tak ada saling mengusik. Hujan yang masih belum mau pulang pun tiba-tiba terdengar merdu mengiringi Malam. dalam sadar aku melengkungkan senyuman. ada terasa kebebasan hidup dalam sebuah kebersamaan, dalam sebentuk ikatan.

jadi mau cerita apa?“, sambil sedikit jail menghembus-hembuskan nafas beraroma Pete Bumi bertanya padaku yang sudah ikut bergabung duduk di Tahta Sofa. makan malamku sudah selesai.

banyaaaak..“, jawabku sembari membalas menghembus-hembuskan nafas beraroma Acar Timun biar aroma Pete tidak sampai.

ia tersenyum lebar. mengambil sebatang Rokok, menjodohkan Api dari Pemantik ke satu ujungnya, menghisap dalam-dalam, menghembuskan, lalu memindahkan saluran TV Kabel demi mendapatkan tontonan menarik berikutnya.

tapi akunya bukan lagi pengen cerita. pengennya tanya.“, sambungku.

tanya apa?

aku bisa dengan jelas melihat ia sama sekali tak menoleh. kedua matanya yang sama Almond seperti kedua mataku itu lurus mengarah ke Televisi. aku ingin mengurungkan saja untuk bertanya. rasanya percuma. tapi, kendali pikirku tiba-tiba menyentak, mengingatkan, bahwa yang ada bersamaku saat ini Bumi, kekasihku; bukan tokoh-tokoh rekaan super ideal yang beramai-ramai ditasbihkan sebagai dambaan sebagian besar perempuan.

aku kembali bersemangat jadinya. entah apakah Kata-kata yang keluar dari mulutku membentuk Jalinan Cantik Rapi atau justru Benang Kusut karena ketakberaturannya, kudapati Bumi tak memasang ekspresi kesemuanya memusingkan kepala. ia menjawab apa yang menjadi tanya. ia meningkahi pula sejumlah cerita dengan terbuka. aku dan Televisi bergantian jadi perhatiannya. sampai kemudian aku melanjutlontarkan satu pertanyaan yang diantar pernyataan.

“katakanlah ini buruk. tapi aku sebenarnya juga tidak tahu apakah yang satu ini baik atau buruk. puncak apapun bentuk kemarahanku, kesedihanku, kekecewaanku, ketakmampuanku mengatasi lagi diriku adalah diam. sediam-diamnya diam. dan ke mana pun akan pergi aku tak akan lagi pamitan bilang. ujung-ujungnya menghilang. ke mana saja. tidak sama sekali ke satu orang pun bilang. apa kau tak pernah takut aku akan selamanya hilang? karena kita sama tahu sampai detik ini pun lukaku belum sembuh benar. ada-ada saja hal yang membuatnya terhambat. sebentar aku tenang, sebentar kemudian kacau. apa kau tak pernah takut aku akan pergi begitu saja ketika kau sedang terlalu sibuk untuk memperhatikanku lalu hilang?”

sepasang mata yang sama Almond dengan sepasang mataku itu sudah tak lagi sibuk dengan tontonannya. Bumi menatapku dalam-dalam dan bisa kurasakan ada genggaman tangan.

aku tidak merasa perlu takut kau akan menghilang. karena aku tahu ke mana pun kau pergi, sejauh dan selama apa pun itu, kau pasti akan pulang. kau pasti akan selalu pulang. ke sini.

tiba-tiba genggaman tangan itu sudah membawa tanganku mendarat di dada kirinya. aku paham benar apa makna dan maksudnya. dengan alasan yang tak terkatakan, kedua mataku terasa terundang membasah.

aku sayang kau.“, lirih dalam sadar ucapku.

aku juga sayang kau.“, balasnya tanpa melepaskan senyuman yang rasanya semakin hangat menutupi Lubang-lubang Keraguan di Lorong Penghubung Pikir dan Rasa bernuansa Abu-abu.

tak ada yang bisa aku lakukan selain membalas senyuman itu. saat belainya singgah di kepalaku, entah kenapa aku tak melambung, melainkan makin terasa berpijak di kenyataanku. aku bersamanya sudah lebih dari setahun. meski kerap berjarak dan aku terus digempur banyak ragu, Bumi tidak memilih pergi meninggalkanku. dan permintaannya tak pernah lebih dari : belajarlah mengendalikan pikiran, luaskan bersabar, tak harus tapi cobalah mengerti dan  menerima tanpa kehilangan percaya. belum berubah.

aku mandi dulu ya. airnya sudah panas tuh. nanti aku antar pulang.

tapi aku juga pengen mandi Air Hangat dulu. boleh?

iya, boleh. sehabis aku ya.

iya.

nanti ambil handuknya di lemari yang di kamar itu ya.“, tunjuk Bumi ke satu arah.

yang mana saja?

yang mana saja.

sipo.

aku ditinggal duduk sendiri di Tahta Sofa. dengan sigap kupindah saluran TV Kabel mencari apa yang kira-kira aku suka. setelah seusapan di kepala sejalan beranjak tadi Bumi langsung mondar-mandir Dapur dan Kamar Mandi untuk memindahkan sepanci Air Panas. tanpa aku minta, Panci itu diisi kembali dengan Air Dingin, lalu diletakkan di atas Kompor Gas yang kembali diundang datang Api-nya. dan aku mengantarkannya pergi mandi dengan tatapan serta seucap “terima kasih” yang mengalir apa adanya tanpa Kata di Udara. dicintai itu bagiku terasa sangat mewah. sangat sangat mewah. aaaaaaaa >_<

eh iya, Mbak, ini.

tak ayal aku terkejut, tiba-tiba Bumi sudah muncul di dekatku, menaruh selipat Jalinan Tali Alami dan selingkar Tali Alami lainnya yang berbandul K utuh di pangkuanku tanpa lupa tersenyum.

itu dari Kanekes. buatmu.

dan sekali lagi bahkan tak mampu kurebut Kata-kata dari penjuru Mata Angin mana pun. Bumi sudah kembali berlalu. pintu Kamar Mandi sudah ditutup. sementara aku begitu dalam terharu. ia tak lupa kesukaanku. ia benar-benar tak lupa kesukaanku. eh? tapi..

Maaas, bukannya bilangnya Gelang? ini Kalung?

apa? oh, iya, sori lupa. aku beliinnya kalung. gelangnya waktu itu tinggal satu.

teruuus?

heh? yaaaa, gelangnya buat aku. gapapa ya? kalung juga suka kan?

heh? ahahahaha, dasaaar. “iyaa gapapa. suka juga kok. soalnya huruf kaaaa.

heh? apaaa?

enggaaaak. sudaaah. terima kasih yaaaa.

yaaa.

– – – – – – –
*bersambung*

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s