Dua Rangkai Cerita: Kami #1A

Rangkaian Pertama Gerbong A

ia menjemputku di satu sore tepat setelah memutuskan penundaan lebih dari setengah harian untuk terus beristirahat menguatkan diri dari flu batuk sekaligus menunggu kegairahan Hujan menyurut. senyum segar menyambutku. tangan kanan-kirinya bergantian menurunkan Penyangga Telapak Kaki di motor Telur Asin-nya itu. tak lebih dari semenit kemudian sudah dibiarkannya aku menghirupi aromanya yang begitu aku rindu, juga menerima sedikit kibasan ujung rambutnya yang menyembul dari balik helm Hijau mampir ke mukaku, tanpa lupa melingkarkan lengan-lenganku di pinggangnya tanpa merasa ada perubahan ukuran oleh Waktu. Butir-butir Hujan masih terus saja turun. Telur Asin masih terus dipacu. entah kenapa tak sibuk dikenakannya dulu Jas Hujan yang aku ingat benar disimpan rapi di Laci Penyimpanan Bawah Tempat Duduk. Telur Asin sedikit dipelankan di sudut jalan tertentu. dan aku seperti dibiarkan menikmati singgahan Hujan di setiap kali kutengadahkan wajah ke Langit sembari mengagumi puluhan Pepohonan yang liuknya ia tahu selalu mampu menggeletarkan hatiku. sampai beberapa menit kemudian baru kusadar motor menuju arah berbeda dengan tujuan kami di hari itu. tentu saja mengalirlah sekalimat pertanyaanku. jawaban Bumi nyeleneh tapi ya sudah sajalah menurutku. aku ingin menikmati apa yang sangat langka tanpa banyak rusuh. aku membiarkannya membawaku ke tempat yang ia mau karena siapa tahu di sana tersimpan kejutan buatku ~.*

jangan bayangkan kami akan sibuk meniadakan Manusia lainnya dengan bergandengan tangan melenggang berkeliling menyusuri jalanan terbuka. entah kenapa meski ada teringini hati ya aku tidak memaksa Bumi melakukannya. bahkan ketika ia mengajakku berkeliling Pusat Belanja Elektronik yang jelas ramai kami hanya jalan berdekatan, lalu sekejap berjarak (karena tertarik dengan kesukaan masing-masing) untuk kemudian kembali berdekatan. kami melihat-lihat sederetan Ponsel-ponsel Pintar yang menarik perhatian. kami mengagumi Mesin-mesin Pendukung Kerja yang menggoda dan bisa setiap saat membobol pertahanan. kami mendiskusikan Kamera-kamera yang melambai-lambai minta dimiliki minta dihambakan. setiap ada lembar Tawaran Kredit diterimanya, ia tak ragu berbalik memintaku menyimpankan. aku tak berkeberatan. aku menikmati setiap detik kebersamaan. lagipula rasanya seperti ada Pintu yang sedang dibukakan. Bumi membiarkan kami saling mengenal. ia bersenang-senang dan aku dilibatkan ^_^v

tak berhenti sampai di sana. ia masih belum mau segera membawaku ke tujuan semula. ketika kami tiba di pelataran parkir terbuka Toko Besar Penyedia Buku dan Perlengkapan Lainnya, Bumi menunjuk ke satu arah, “aku mau difoto dengan latar itu dong.”, sembari melengkungkan senyum sebagai panjar agar aku bersedia mengeluarkan Niki dari wadah nyamannya. hei? bagaimana ia bisa yakin aku pasti membawa Niki dan akan memotretnya dari titik yang ada dalam pikirannya sementara ia hanya menunjukkan maksudnya? ahaha. entahlah. ada kalanya kami ya memang begitu saja, saling paham saja. dan lagi-lagi aku tidak sama sekali berkeberatan. memotret itu aku suka. membiarkan aku melakukan yang aku suka itu Bumi suka. selama beberapa menit ia berdiri berlatar apa yang dimaksudkannya. dan selama beberapa menit yang sama pula aku menjadi perhatian banyak pasang mata di satu tempat terbuka dengan iringan Butir Hujan yang masih begitu mesra. selanjutnya kami kembali berdekatan dan sudah sibuk memperbincangkan Tas Sepatu Multi-fungsi Hijau Terang yang entah kenapa bisa sama membuat tergoda. tidak, tidak ada transaksi jual-beli karenanya. sepasang kaki Bumi malah mengajak sepasang kakiku melangkah lagi ke lain arah. kali ini sudah mulai terasa lelah. aku sudah agak cemberut dan ia sudah melihatnya. jadilah ia membawaku menyimpang dulu ke satu pojok yang sudah pasti ia paham aku suka. iya, Pojok Buku dan Majalah! bagaimana aku rela melewatkannya? aku langsung lupa aku lelah >_<

Cerita Semesta di ujung Senja itu terus saja mengalir tanpa paksa. aku sibuk dengan hal-hal yang selalu bisa menarik perhatianku dan Bumi justru bertemu Kawan Lama lengkap dengan keluarganya. mereka menghangatkan Udara. meski aku sibuk sendiri, tak lupa aku dikenalkan juga. sayangnya aku kemudian tak bisa ingat benar dengan rinci berapa menit yang Bumi habiskan bersama Kawannya. hanya saja memang terasa cukup lama. bisa diperkirakan dari Buku-buku Foto Tebal yang berhasil aku simak tanpa ada bahkan satu halaman terlewat. sudah. biar saja. mana boleh aku merusak suasana. itu hak mereka. aku biar mengambil hak bersenang-senangku saja ^,^v

“lalu, kapan Bumi akan membawamu ke tujuan yang sudah disepakati semula, kuk?”

aku sekejap celingukan mencari asal suara. sebentar, lalu menjawab sendiri dengan senyum kecil ke sudut kiri mata. tenang saja. sudah tenang saja. Bumi tetap akan membawaku ke tujuan kami semula. tunggu saja ~_~

– – – – – – –
*bersambung*

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s