Pekarya VS Karya

“Mas-Om, apa Pekarya itu harus sesempurnanya Karyanya?”, begitu pertanyaanku sekitar dua tahun lalu menjelang tengah malam ke Bapak Matahari, ketika aku terus ditampar-tamparkan pada sesuatu yang didefinisikan sebagai nilai ideal oleh seseorang karena pribadi keseharianku dianggap saling berbanding terbalik dengan sebagian besar Rangkaian Kata yang entah-kenapa-bisa-begitu-saja aku hasilkan.

Bapak Matahari yang jumlah Karya Musiknya sudah banyak menyinggahi banyak telinga banyak hati itu berkata bahwa sangat mungkin sekali sebuah Tulisan berbanding terbalik dengan Penulisnya. katanya lagi, “Bukankah setiap orang yang sedang ‘menulis’ , sebenarnya dia pun sedang berdiskusi dengan dirinya sendiri?”

tak terhenti hanya di situ, ia — yang memanggilku Mata Angin — melanjutpaparkan bahwa Pekarya harus selalu mengasah sensitivitas kepekaan juga, bahwa ketika seorang Penulis menulis maka dia juga harus mampu mengantisipasi dampak dari Karya Tulisnya (ekspetasi orang lain terhadap tulisan tersebut), dan itu merupakan bagian dari Ilmu Sosial. katanya lagi, secara evaluatif nantinya , Pekarya akan punya alasan dan argumentasi mengapa dia justru membuat banyak orang menjadi kecewa. apakah itu karena ‘kekurangan-kekurangan’ diri yang harus diperbaiki , atau justru kesengajaan untuk membuat orang lain punya sudut pandang dari perspektif yang berbeda (pengayaan).

sepanjang aku mulai menulis (bisa dibilang berlaku pada perkara memotret juga) hingga di saat aku bertanya pada Mas-Om JSOP, iya, aku lebih suka membiarkan semua mengalir seada-adanya aku suka, lebih asyik memakai dalih ‘memperlihatkan perspektif lain’ pada siapa saja yang bersedia membaca. tapi kemudian aku macam disadarkan: sebuah Karya jika sudah digulirkan ke Arena (bukan lagi tersimpan di Lemari atau Bank Data) tak akan lagi jadi milik sendiri, bisa jadi mempengaruhi pihak lain tak hanya menyenangkan hatiku satu ini 🙂

entahlah ada aliran Udara dari belahan Bumi sebelah mana lalu sebangunantidur tadi aku sudah memikirkan kembali perbincangan dua tahun lalu dengan Bapak Matahari yang lama tidak saling bersapa karena telah memutuskan kembali fokus di peredarannya. tak terhindar aku jadi bertanya-tanya: sensitivitasku dalam proses berkarya sejauh ini sudah terasah sampai di level berapa?

– – – – – – –
P.S. Bapak Matahari apa kabarnya ya? kangen juga 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Pekarya VS Karya”

  1. wah, cantik sekali tulisannya. Saya sedang mengumpulkan wacana tentang pekarya dan karyanya ini. Mungkin baca artikel di indoprogress karya fahmi Panimbang bisa memperkaya. Dia menjelaskan dengan tampan manusia sebagai animal labor, homo faber, dan bios politikos. Pekerja, pekarya, peng-aksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s