Pengantin Langit

Bumi (kekasihku) menyatakan bahwa aku adalah Pengantin Langit. tanpa ada terendus cemburu, kuperhatikan hanya senyum saja terus menyertai pemaparan setiap hasil pengamatan yang tak pernah sebelumnya kutahu. genggamnya erat menghangat, pertanda tak terusik dengan kenyataan Langit memang telah berkali (bahkan belum berhenti) menunjukkan cinta yang tak pura-pura buatku. rengkuhnya lembut merapat, pertanda tak memagari keadaan yang entah kenapa malah belum juga kusadari sampai detik berlalu menahun.

“kau penghuni hatiku. aku sudah pula jadi bangun pagimu. tapi Langit diam-diam tak lepas menjagamu, Angin. meski begitu, aku tahu ia tak akan pernah merebut paksa kau dari aku. meski begitu, ia pun tak akan pernah mau melukai hatimu.”

Bumi (kekasihku) menyatakan bahwa aku adalah Pengantin Langit. tanpa ada resah terbaca, tanganku diraih. diajaknya aku menghadapi sebentang luas yang selalu kusukai setiap hari. dikecupnya sekilas kepalaku yang tak lebih tinggi dari bahunya, lalu berucap tak kencang tak lirih.

“aku tak berkeberatan kau mencintainya, Langit. kau pun pasti tahu benar macam apa perasaanku. kita mencintai Angin yang sama. terima kasih sudah menjaganya bila aku sedang jauh. terima kasih tak lelah membahagiakannya ketika aku justru membuatnya sedih murung. aku rasa aku jadi berhutang padamu.”

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

– – – – – – –
*suatu siang menjelang sore dalam ngantuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s