Bumi akhir-akhir ini

tentang aku dan Bumi sepertinya adalah tentang satu menyerah yang tak kunjung terjadi. ada-ada saja pahit juga benih celekit yang menghampiri. tapi selalu saja terusir dan terusir lagi. tidak ada luka baru yang terdeteksi. adanya hanya luka lama yang jahitannya tersibak sedikit, lalu kemudian pelan-pelan dikeringkan dengan sabar kembali.

setahun semakin menjauh lewat kami. ia tetap memegang janji. tak ada hari yang selalu dengan mudahnya dimaknai. dan ia tetap bersamaku dengan caranya yang memang tak selalu mudah dimengerti.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

sebut saja di satu Februari. ia membuat celah di himpitan dera lelah, kesibukan dan segala deadline yang sudah ‘berteriak-teriak’ minta diselesaikan untuk mengantarkan Kantung Tidur yang aku butuhkan, menemani (sekaligus memastikan) aku makan malam di Warung Tenda Pinggir Jalan, menambahkan sebotol Teh Dingin kesukaan, menunggui hingga kemudian aku dibawa hilang dalam serangkaian Gerbong Besi menuju Semarang. tak ada kudengar nada berkeberatan pun larangan menyoal Perjalanan Belajar yang sudah aku niatkan. tak ada terbersit kecurigaan ketika dengan gamblang kupaparkan siapa-siapa saja yang akan menemaniku sejak awal hingga nanti di akhir kegiatan. “ya nggak apa-apa” menjadi penegas bahwa ia justru merasa aku akan aman karena bermalam tak dengan sembarang orang melainkan sudah pula ia sempat kenal.

malam keberangkatan itu adalah malam menjelang hari yang dikenal kebanyakan Manusia sebagai Hari Kasih Sayang. dan aku diperlihatkan pada sebentuk nyata tak terbantahkan. begitu saja.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

lain bulan kedua, lain pula cerita di bulan ketiga. tanpa banyak ragu, Bumi membiarkan aku ikut merusuhi dan mendampingi gerak Kawan-kawan Kecilku di Maret yang bimbang antara cerah atau basah. satu-satunya larangan halus yang disampaikannya adalah soal jangan terlalu memaksakan diri mengikuti keinginan mengunjungi Jayagiri yang bertepatan sehari sebelum Perjalanan Besar bersama Marlin. meski pada akhirnya tak mungkin bisa mengantarkan aku di satu pagi yang terlalu awal, Bumi membangunkanku tepat sebelum memasuki jam tidur yang belakangan dijalaninya dengan sadar.

seperti biasa ia sungguh tak banyak tanya. seperti sudah saling sepakat memahami saja, ia mengikuti perjalananku melalui jaringan media sosial yang biasa aku manfaatkan sebagai penyimpan Catatan-catatan Kecil Perjalanan sebelum diolah sampai matang. dan Bumi hanya meminta Oleh-oleh berupa sekotak Bakpia Pathuk khas Yogya. iya. Bakpia.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

sebelum Maret tertutup, tiba-tiba Bumi datang bersamaan Senja yang tak terbantahkan cantiknya. kami menghabiskan tiga puluh menit bersama. apa-apa saja diobrolkan termasuk perihal Gelangnya dan Gelangku yang lupa dibawa. iya. Gelang Khas Barat Daya. belum lagi soal Tas Selempang yang tak kukira ia ingat sebagai kesukaanku juga. belum lagi Senja sempurna tua dengan ulur manis senyumnya. ah. entahlah bagaimana bisa. untuk April kami bahkan sudah berjanji saling jumpa tanpa perlu menunggu lama.

rasanya ingin segera bertemu Tuhan lalu mencium tanganNya. karena seingatku aku tak banyak meminta. hanya ingin ia datang untuk menghilangkan Gumpalan-gumpalan Rindu yang begitu cepat rimbun menyemak. bukan dengan begitu banyak rupa-rupa.

tentang aku dan Bumi sepertinya adalah tentang satu menyerah yang tak kunjung terjadi. ada-ada saja pahit juga benih celekit yang menghampiri. tapi selalu saja terusir dan terusir lagi. ujung-ujungnya aku malah membuka tulisan kecil yang kuusahakan tersaji rapi dalam buai Kereta Api tepat jelang akhir 13 Februari.

aku terpapar risau ragu sebelumnya. salah satu pilihan adalah berhenti mencinta. namun yang terjadi rupanya berbeda. aku tak menemukan cara untuk berhenti mencintaimu yang datang dan membuka rentang hangat begitu nyata. aku tak punya lain kata. aku tak ada lain rasa. aku malah menemukan yang sudah berbelas purnama ada bersama kita: cinta. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s