aku dan Ayah di Senja tak Jingga

ini adalah perbincangan kami yang kesekian kali. tepat ketika Senja kembali tak mengambil Jingga untuk menutup sore yang diramaikan Udara bergerak berlari-lari. Ayah tetap meyakini bahwa aku sebenarnya bukan Angin, melainkan Matahari. dan entah kenapa gemerisik Daun-daun di Pohon Kersen sana semacam membisiki pesan Ibu dan mengiyakan aku ini Matahari.

ah, lagi-lagi.

Matahari.

Matahari.

Matahari??

bagaimana mungkin aku yang sembrono ini adalah Matahari? bagaimana mungkin aku yang ringkih ini adalah Matahari? bagaimana mungkin aku dipenuhi bekas luka ini adalah Matahari? sungguh jauh jika aku ditakdirkan sebagai Matahari

ini adalah perbincangan kami yang kesekian kali. tepat ketika Malam tak membiarkan Senja didekati Jingga sebelum gelap tergenapi. Ayah mengusap lembut kepalaku, berlanjut memanjakan penat di bahu, lalu membiarkan sepelukan ditingkahi degup jantung perlahan melembut diiringi kecup.

“seumur hidupku, buatku, aku tetap ingin meyakini satu. kau, putriku, adalah Bintang paling terang dan paling menghidupi dengan demikian utuh. ya, Matahari, aku selalu suka menyebutmu begitu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s