Catatan Bangun Tidur seusai Mimpi Sore dibuyarkan Halilintar dan Hujan

Halilintar memecah kesunyian Udara itu aku dengar. rasa pahit yang memenuhi seluruh ruang mulutku pun tak aku sangkal. sebentaran aku sudah menikmati ritual kecil hingga jejak-jejak keringat tak lekat menaklukkan permukaan kulit yang menguning lebih dari puluhan saat. aku masih belum bisa memahami keseluruhan yang aku simak dan lihat di mimpi panjang barusan.

apa lagi yang ingin kalian ambil dariku? masih ada apa lagi yang ingin kalian ambil dariku? bukankah telah kulepaskan diriku begitu jauh dari mereka yang pernah kalian kira telah aku rebut tanpa malu-malu? aku sudah menjauh. aku sudah memilih jalan yang berbeda dan tak mau tahu. apa lagi yang salah dari keberadaan diriku? aku bahkan tak hidup dari darahmu.

aku menuliskan semua ini bertepatan Hujan yang datang dan sebuah Mimpi Sore dibuyarkan Halilintar. tak seperti biasa, tak segera ada kurasakan kenyamanan. namun perlahan bisa kutemukan Tuhan meraih bahuku dan menjalarkan kehangatan. bisa kulihat Ia tersenyum menguatkan.

“Mungil, bagaimana juga kau sudah tahu bahwa tak akan pernah bisa dengan mudah kau hentikan mereka mengusikmu selama hati mereka belum sampai pada rasa sudah menang atas kau yang diam-diam sesungguhnya mereka puja.”

“aku tidak minta dikagumi dan dipuja, Tuhan.”

“itu tak bisa dikendalikan, Mungil.”

“Kau membiarkan.”

“aku ingin mereka mengambil pelajaran.”

“tapi aku jadi tak nyaman.”

“belajarlah mengendalikan diri setiap ketidaknyamanan itu datang.”

“..”

“karena kalau itu kau.. pasti bisa..”

Tuhan memelukku erat-erat. dihapusNya airmataku dengan jemari sejuk mengimbangi suhu tubuhku yang terus memanas. tangisku pecah. entah kenapa terasa sangat lelah. aku hanya ingin bahagia. aku hanya ingin menjalani semua bahagia. tidak perlu dikagumi tidak perlu dipuja. tidak perlu dipasungi iri tidak perlu dihadiahi noda cerca bahkan murka. aku hanya ingin mengalun bahagia. sisa umurku aku ingin bahagia.

dalam pejam mata yang enggan untuk diakhiri dan di bawah pengawasan Tuhan, aku sadar telah membiarkan seutuhku dicumbui butiran Hujan. biar. biar menguap panas yang mematangkan jantungku, biar musnah Kesedihan yang tak pernah dengan sengaja aku undang.

Tuhan tahu, aku tidak pernah mengundang Kesedihan. meski aku tak mengingkari keberadaannya dan tak selalu menolaknya bertandang sebentar, aku tak pernah dengan sengaja membawa masuk itu Kesedihan. karena Benteng Keberlangsungan Hidup Jiwa dan Tubuh Rapuhku adalah Kebahagiaan.

“Tuhan, apa esok seluruh Bunga Kebahagiaan akan kembali bermekaran?”

“aku tak bisa menjawabkan, Mungil. kau sudah tahu. dari lama hatimu tahu. ini aku bawakan tambahan kesabaran. kuatlah secara perlahan. aku tak memintamu berlari jika ternyata Waktu memberimu kesempatan menyerapi dengan baik tiap-tiap Inti Pelajaran.”

Halilintar memecah kesunyian Udara itu aku dengar. rasa pahit yang memenuhi seluruh ruang mulutku pun tak aku sangkal. aku menuliskan semua ini bertepatan Hujan yang masih setia menemani sampai hatiku terasa lapang. tak seperti biasa, tak segera meruah kurasakan kenyamanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s