semestinya saling menjaga

ini adalah cerita minggu lalu. seingatku sih begitu. bertepatan hatiku sudah mendekati penuh merana karena saking rindunya dengan Tuan Bumi, eh, tiba-tiba ada pemandangan yang sontak menyalakan alarm tubuh. aku jadi tak bisa menahan diri. aku berubah reaktif. padahal bukannya aku sedang belajar untuk lebih bisa mengendalikan reaksi spontan dan daya kolaborasi mata-benak-hati?

memangnya apa yang membuatmu kembali reaktif, kuk?

itu. ada dua foto yang mengusik. kebetulan diunggah dengan manisnya di ef-bi. diambil berurutan waktu dengan sudut pandang yang sama dan sama sekali tidak asyik. sangat sangat sangat mengusik. karena menurutku kurang.. ah.. tanggung amat kurang.. menurutku tidak etis. bukan, bukan karena dipotret dari arah belakang. foto itu terlalu menyudutkan!

lah? menyudutkan? menyudutkan bagaimana? foto macam apa, kuk? kok ya penasaran.

baiklah. berhubung aku tidak berniat memuat foto tersebut atau mencari contoh foto sejenis, aku akan mencoba memberikan gambaran saja. semoga tidak terlalu susah untuk dicerna.

kedua foto itu memuat obyek yang sama. seorang Lelaki dan seorang Perempuan. latar lokasinya adalah sebuah Wahana Permainan. target sorotan dari Kamera Ponsel-yang-termasuk-kategori-pintar-tapi-bukannya-mengendalikan-arah-sendiri adalah si Perempuan. iya, diambil dari arah belakang dengan posisi kemungkinan besar si Perekam sedang duduk menunggu. tidak perlu lama menemukan. bahkan tanpa membaca terlebih dulu kalimat pengantar kedua foto tersebut yang pun sama-sama mengusik dan menurutku terlalu (“Gak kurang pendek rok nya bu…? Tanggung, padahal gk usah pake rok aja sekalian 😀 “) sangat jelas bahwa yang dijadikan sorotan utama itu adalah Rok Pendek yang dikenakan oleh si Perempuan. garis bawah rok tersebut memang terlalu jauh dari lutut, lewat dari pertengahan lutut dan pinggang namun cenderung mendekati arah pinggang. belum lagi ia ketat. namun diuntungkan dengan garis belahan yang nyaris tidak ada dan barikade kakinya rapat. iya, untung. karena posisi Perempuan dalam foto agak sedikit membungkuk.

bisa jadi aku tidak akan terlalu terusik jika yang mempublikasikan foto itu adalah seorang Lelaki *meski tidak ada jaminan aku hanya akan diam tanpa protes juga* hanya saja semua terasa lain ketika ternyata yang mempublikasikan dan memberi kalimat pengantar yang-yah-begitulah itu adalah juga seorang Perempuan. rasanya kok terlalu menyakitkan sih? bukan semata pasal sudut pengambilan dan sorotan utamanya itu yang tidak etis buatku. perpaduan kalimat pengantar dan kedua foto tersebut mengundang komentar-komentar yang (naasnya) bukan hanya milik para Lelaki tetapi (masih ada juga) milik Perempuan lainnya. jika kesemua komentar tersebut dikumpulkan, maka jelas sekali hanya mengarah pada menghakimi dan sebagiannya lagi mengolok-olok sepihak. Perempuan dalam foto tidak bisa membela diri. tidak adil kan? bagaimana mungkin seorang Perempuan tega membuat Perempuan lainnya diolok-olok macam itu? apa memang terlalu susah ya seorang Perempuan menjaga kehormatan sesama kaumnya (Perempuan)? apa karena label dan atribut (dalam hal ini: pilihan berpakaian) yang berbeda maka jadi pembenaran untuk menempatkan sesama kaum (Perempuan) dalam posisi seperti itu? kalau buat si Perempuan yang mempublikasikan kedua foto tersebut hal demikian menyenangkan, bagaimana dengan perasaan si Perempuan yang dijadikan bahan omongan? daaan jika membaca kembali kalimat pengantar “Gak kurang pendek rok nya bu…? Tanggung, padahal gk usah pake rok aja sekalian 😀 “, maka apa tidak sebaiknya kalimat tersebut disampaikan secara langsung lah kalau merasa terganggu, kalau jelas punya keberanian, bukannya jadi omongan di belakang.

aaah, dan kau ikut memberikan komentar, kuk, di kedua foto itu?

iya, aku berkomentar. mungkin ada tiga kali sebelum foto-foto itu akhirnya entah dihapus atau disembunyikan. aku katakan (tidak persis tapi kira-kira begini) bahwa jika memang merasa “malu hati” demi melihat ada Perempuan memakai rok sependek itu, tidak lantas jadi pembenaran untuk mempublikasikan fotonya dengan sudut pengambilan dan kalimat yang memojokkan.

dan Perempuan yang mempublikasikan berkata apa?

katanya sih dia tidak ada niat ingin mempermalukan. katanya sih ya biar bisa diambil hikmahnya saja.

what?! hikmah?!

iya, dalihnya adalah: hikmah. aku tidak habis pikir tapi memang dengan ringannya dijawab seperti itu. hikmah ya? harus dengan cara macam itu demi menyajikan hidangan istimewa bernama ‘hikmah’?

dan foto itu dihapus, kuk?

aku sudah tidak melihatnya lagi. ada kemungkinan dihapus, ada kemungkinan “jarak pandang”-ku yang dibatasi. terserah saja. yang penting aku tidak cuma diam melihat ketimpangan macam itu. setidaknya itu jadi pelajaran juga buatku. setidaknya aku tidak melupakan apa yang sudah sebelumnya menjadi pengetahuanku, bahwa:

menyiramkan Lumpur Kotoran pada orang lain tidak akan membuatmu serta merta menjadi Berlian bersinar.

ini adalah cerita minggu lalu. aku tidak berniat memendamnya sendiri menjadi semata kemarahanku. entah apakah akan terkesan sangat emosional dalam penilaianmu. buatku: aku tidak bisa diam melihat ketimpangan semena-mena dipaparkan di depan mataku sampai menari-nari seakan merupakan satu paling benar dalam Kehidupan yang masih berlanjut.

apa yang paling benar? siapa yang paling benar? pernah kau tahu? Tuhan menyimpan banyak rahasia. semakin kau rasa kau sudah banyak tahu, kau tak pernah sungguh-sungguh tahu. ketika kau merasa paham segalanya, bagaimana jika ternyata itu semua bukanlah apa-apa? sampai berakhirnya Detak Kehidupan di ini Semesta dan terkuaklah semua kebenaran, semestinya kita saling menjaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s