seusai The Secret Life of Walter Mitty

kemarin sore (akhirnya) aku berkesempatan menikmati The Secret Life of Walter Mitty. Bandung memang sedang digandrungi geliat dingin, tapi bukan berarti harus terus pasrah dalam pelukan selimut juga kan? ~.*

nah, film yang satu ini sungguh baik hati. bisa membuat tertawa, bisa membuat geleng-geleng kepala, sempat membuat deg-degan, terbilang cerdas membuat terpesona, lalu tersenyum bahagia sambil mbrebes mili secukupnya.

jika ingin menemukan gambaran bahwa sesuatu/seseorang yang tampak sederhana dan tak ada apa-apanya itu bisa menjadi lebih dari dugaan semua kita bahkan dirinya sendiri, maka film inilah tempatnya. relatif mengejutkan juga bahwa Walter yang sudah memutuskan menjadi “Lebah Pekerja” — untuk menghidupi Keluarga (Ibu dan Saudarinya) sejak sang Ayah meninggal saat ia berusia 17 tahun — berani mengambil resiko, bepergian ke tempat yang belum pernah didatangan dan menghadapi tantangan dengan level bervariasi demi memenuhi tanggung jawabnya: menemukan sebuah foto yang akan jadi sampul majalah edisi terakhir *padahal yaaaa, tahu tidak itu klise no.25 sebenarnya ada di mana? hemmh. etapi bagian itu juga mengajarkan untuk membaca lebih teliti dan memeriksa lebih teliti sih, heuheuheu*

o iya, bagian favorit aku dalam film ini adalah ketika Walter Mitty berada di Islandia. bukan cuma pemandangan alamnya yang bikin uwaaaaaaauwaaaaaw sampai lama. gara-gara bagian yang satu ini aku ingin jadi Tukang Potret seperti si Sean O’Connell itu! iyaaaa, memotret Gunung Api yang sedang beraksi macam seorang Rocker berteriak lantang langsung dari atas Pesawat Capung. Eyjafjallajökull! kereeeen >_<

sementara kalimat paling berkesan yang teruuus membuat aku tersenyum senang justru bukan motto dari majalah Life yang memang bagus itu (“to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. that is the purpose of life.”), melainkan bagian dari percakapan Walter dan Sean ketika mereka berdua mendapat berkah pemandangan seekor Macan Tutul Gunung yang cantik di Himalaya.

Walter: When are you going to take it?

Sean: Sometimes I don’t. If I like a moment, for me, personally, I don’t like to have the distraction of the camera. I just want to stay in it.

Walter: Stay in it?

Sean: Yeah. Right there. Right here.

begitulah. Sean lebih memilih untuk menikmati keindahan tersebut tanpa sama sekali menekan tombol shutter, padahal apa yang tersaji sungguh sangaaaat langka dan indah! hemmm, berarti jika aku tidak merasa harus selalu membawa si Niki juga mengoperasikan si Pico, itu mirip-mirip ya? menikmati apa saja yang tertangkap mata tanpa bereaksi selain diam dan tersenyum atau justru berpikir (bahkan kadang sama sekali tak banyak berpikir), membiarkan hati seluas-luasnya memaknai.

saat film usai diputar, orang pertama yang aku kirimi pesan adalah Tuan Bumi. aku sampaikan padanya tentang apa yang aku inginkan dan kemungkinan besar akan membuatku berlaku macam bayangannya suatu hari nanti. semoga terkabul. aku sangaaaat mengingini ^_^

aaaaaah, satu lagi: Sean Penn terbungkus Sean O’Connell ituuuuu, kyaaaaaaaa >_< *maaf, memang suka absurd sendiri, hahahaha*

(sumber foto: Google Image)
(sumber foto: Google Image)

Advertisements

One thought on “seusai The Secret Life of Walter Mitty”

  1. Menurutku, ini film terbaiknya Ben Stiller. Bagus banget! Dan adegan Walter Mitty naik helikopter diiringi mbak wiig nyanyi “ground control to major tom..” Ough! Great scene, very great song from david bowie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s