sewaktu Hujan tak rela membiarkan aku bangun pagi

aku menuliskan ini sewaktu Hujan tak rela membiarkan aku bangun pagi. dingin yang tertangkap gerbang hidungku. aroma tubuh Bumi yang tak hilang kehangatannya meski telah lebih dari semalaman terguyur. Hujan begitu hangat merapatkan lagi selimutku. tak pernah merasa bersalah ketika lagi-lagi aku kembali menari bersama Pelangi juga tak sebatas puluhan wajah Kerinduan nun di dalam Nirwana Mimpi itu. sebentaran tadi terlintas dipikiranku: mungkin memang aku diam-diam punya begitu banyak Ibu.

aku menuliskan ini sewaktu Hujan tak rela membiarkan aku bangun pagi. dari ekor mata, kudapati kepul singkat asap akibat Daun Teh Kering yang diseduh. jauh sebelum Teh Hangat siap merasuki lajur-lajur dalam tubuhku, sudahlah aku luluh. Hujan mendekat, membawakan secangkir satu dari sekian hal yang paling aku suka dalam hidupku. seusai lembut kedua tangannya menjemput kiri kanan pipiku, hikmat keningku dikecup. sekejapan tadi berdesirlah darahku: seberapa aku mencintaimu, kau pasti lebih dari itu.

– – – – – – –
*dan Hujan semalaman berlanjut mencintai Bandung hingga pagi ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s