di 1 Januari

aku bisa saja nekad pergi menuju Laut. atau setidaknya merapat kembali ke Tepi Langit jika memang benar ingin mengatasnamakan “tak merayakan sendiri” dalam sebuah Pergantian Tahun. tapi anehnya tak semua terjadi semudah mauku. Hujan, Dingin berkepanjangan, Tuhan seperti sangat jelas menyatakan tak rela dan bisa jadi itu atas permintaan Tuan Bumi-ku. entahlah. pada akhirnya aku hanya terbaring menikmati Kasur dan Kamar saja. tentunya bersama Selimut Batik yang konon begitu memikat Bu Martha. tenang. tak banyak gelisah. sulit dibedakan antara pasrah atau kehabisan tenaga.

aku bukanlah Penikmat Keramaian yang sanggup mentolerir tekanan dari kedelapan penjuru Mata Angin terhadap tubuhku. bahkan tak bisa dengan mudahnya tersenyum terhadap hingga ribuan Manusia yang terpaksa harus kutemui sekilasan lalu. tapi anehnya aku lakukan itu. aku pergi dan menemui Keramaian lalu beradu sapa beradu senyum beradu tubuh dengan mereka yang entah datang dari mana sajanya Bandung. aku jadi setitik bisu dalam Pusaran yang bisa kapan saja mengganas jika sedikit tersulut. tentunya bersama Pico dan Niki, serta Inhaler di saku jaket yang mudah kuraihsiagakan penuh.

apa yang kau cari? ingin merasakan sendiri kehadiran sebuah sensasi? bukankah Pijar Bunga Api pun sudah bisa kau lihat tanpa harus beranjak menjauhi kenyamanan kamarmu di sini?

tidak tahu. aku tidak paham bagaimana cara menjelaskan kesemuanya yang aku putuskan tanpa rencana sebelumnya sama sekali. pada akhirnya memang Pijar Bunga Api yang kujadikan Perantara Tertinggi. untuk mengucapkan “selamat ulang tahun” padanya yang sudah lebih dari belasan tahun pergi. walau sadar tak akan pernah ada jaminan bahwa ia pun merayakannya di sana bersama Ruh-ruh semua yang aku cintai dan tak bisa nyata dipeluk lagi.

tepat bersamaan binar-binar Bunga Cahaya terangkai indah itu mengangkasa dengan sekumpulan Pijar Bunga Api, aku bisa mendengar jelas hati kecilku sibuk komat-kamit lalu berusaha keras berucap jelas dalam lirih,

selamat ulang tahun, Bapak. terima kasih sudah jadi kakek paling baik di sepanjang usia.

dan dalam sepejaman mata, aku diam-diam mengecup Udara yang kubayangkan sebagai pipi, kening, juga kelopak matanya.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s