tetap hiduplah, Angin..

sudah dekat waktu Subuh. aku tahu. rasa kantuk dan lemas gagal kembali melumpuhkan meski sebatas bahu. iya, aku tahu. maka apa yang bisa aku lakukan? jelas tak bisa tidur. mungkin lebih baik menuliskan ceritaku? mungkin memang lebih baik menuliskan catatanku tentang ini hari, tentang kebenaran-kebenaran yang tersaji, tentang perkiraan-perkiraan yang harus siap dihadapi. ya, aku tahu.

entah kenapa masih bisa begitu lekat ingatan tentang dingin gel yang beberapa jam tadi dibalurkan ke beberapa titik di tubuhku. lebih aku ingat ketimbang Jepitan-jepitan Besar yang saling terhubung oleh Kabel Panjang Abu-abu. lebih aku ingat ketimbang “gigitan Semut” yang mengambil sebagian Sarsaparilla pekat dari tubuhku. lebih aku ingat ketimbang lembut diagnosa si Dokter ICU yang ketempuhan wara-wiri di itu Ruang Gorden Biru. rasanya tentu jauh dari lezat sekantung Kentang Goreng traktiran Bu Martha yang sudah dingin dan sibuk bersandar di badan Pear pemberian Vey kemarin. tapi memang kalah fenomenal dengan 210 mililiter Minyak Kayu Putih yang dibelikan Devi dan bisa-bisa aku minum juga jika berkotak Teh kesukaanku itu habis. tengah malam yang sangat dingin. gerimis yang tak juga mending. tiba-tiba aku hanya ingin Bintang ada di sini, menemaniku diam atau malah sekali lagi menangis dengan/tanpa alasan yang bisa aku mengerti. aku tak terlalu bisa membahasakan rasa sakit dengan cara yang lain lagi. pun tak terlalu paham membahasakan puncakan rasa sedih bila sudah begini. aku hanya sangat ingin ditemani Bintang saat ini. dengannya aku tak perlu berkata apa-apa sama sekali. bisa jadi karena ia terlalu sering menemaniku memikirkan begitu banyak hal yang tak mudah aku mengerti. bisa jadi karena ia terlalu sering mendewasakanku hanya dengan kehadirannya yang tak asing, yang selalu aku cari tiap sudah tak bisa lagi mengandalkan diri sendiri.

suara orang mengaji sudah membelah barikade Udara dini. waktu Subuh sudah semakin dekat datang lagi.  aku tahu. pun masih tak juga terkantuk. aku hanya sibuk melepaskan Kegelapan yang menyelubungi dan mengambil sisa serpihan nyawa yang masih berdiam dalam diri. menjelang batas umur yang masih terus berusaha kujauhkan dari garis takdir.  iya, masih, meski aku tahu tak selamanya Si Maut Tampan bersedia mengabulkan keinginanku untuk berjalan-jalan ke lain arah sebelum tak lagi melepaskan kedua tangan dan jantungku yang kecil ini.

tetap hiduplah, Angin, walau degupmu lemah dan kecil. tetap hiduplah, Angin, bahkan dalam kematianmu nanti. tolonglah kembali berjanji.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s