padahal 416 hari sudah lewat

aku tak pernah suka terbangun dengan rasa sakit yang membekas begitu nyata setiap datang Matahari dan Pagi. juga tak bisa suka dengan jejak airmata yang mengering di sudut kanan-kiri. 416 hari sudah lewat. padahal 416 hari sudah lewat.

aku sudah melalui fase bertingkah macam Angin Ribut, menghantamhantarkan diri sesuka aku mau tanpa peduli apa yang terjadi kemudian dengan sepengetahuan Ibu Bumi juga Tepi Langit putranya. aku sudah melalui fase belajar ulang mempercayai dalam genggaman Tuan Bumi beriringan pesan-pesan Bintang yang terus dibawa Udara. aku terus sesak berkeringat dingin kembali belajar berani dengan terus mengingat-ingat petuah Dewa Bumi, melawan rasa takut yang sebelumnya tak pernah aku punya. segala daya menyembuhkeringkan luka itu aku upaya. segala daya meniadakan dendam benci tak pernah aku biarkan semata kata-kata. termasuk dengan seenaknya membisutulikan diri sendiri. termasuk dengan egoisnya membisutulikan diri sendiri.

aku tak pernah suka dihinggapi mimpi-mimpi dipenuhi sosok mereka yang ingin sekali bisa kuhapus segala ingatan tentangnya lalu kukenali ulang saja atau tak perlu kutemui dalam kehidupanku malah. juga tak bisa suka dengan jejak-jejak rasa yang mereka tinggalkan di hatiku mulai dinding sampai inti, di kulit tubuhku sampai-sampai tubuhku terus ingat dan kesakitan sendiri. 416 hari sudah lewat. padahal 416 hari sudah lewat.

aku terus membabi-buta mencari Penawar Sakit Maha Sakti. aku terus liar bersikeras meniadakan kesemua itu sendiri. Tuhan membantuku dengan mengatur begitu banyak Perjalanan yang bahkan tak pernah dengan sengaja aku ingini. Tuhan mempertemukan aku dengan banyak Penyembuh agar aku kuat menjalankan tugasku kembali sebagai Angin. segala daya mengembalikan detak jiwa itu aku upaya. segala daya meniadakan dendam benci tak pernah aku biarkan tertinggal kata-kata. termasuk dengan seenaknya memilih siapa yang mau aku dengar dan siapa yang pantas aku bagi bicara dengan diriku ini. termasuk dengan egoisnya hanya melihat apa yang mau aku lihat dengan mata dan mata hatiku sendiri.

aku tak pernah suka terbangun dengan rasa sakit yang membekas begitu nyata setiap datang Matahari dan Pagi. juga tak bisa suka dengan jejak airmata yang mengering di sudut kanan-kiri. 416 hari sudah lewat. padahal 416 hari sudah lewat.

aku ini diam. aku memilih berlari menghindari. aku ini memilih diam. aku ini lari. aku ini terbang menjauh sejauh-jauhnya bisa. bersama jiwaku yang Angin. aku ini diam. aku ini lari. terserah apa pun mau dikata orang, aku ini menyelamatkan kehidupan jiwaku sendiri, tidak mau menyerah mati. atas nama apa pun tak ada yang berhak merenggutnya mati sampai Tuhan bilang, “matilah mati!”

“mbak, keep on moving, doesn’t matter what happened in the past.“, itu selalu pesan Bumi tanpa lupa membelai hangat dan membiarkan aku merasakan genggaman yang aku sangat kenali bisa aku percayai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s