pe-er RKF: Melihat dan Dilihat

aku garuk-garuk kepala. dahiku terus mengernyit berkali bahkan sempat terlipatahan demi menyelesaikan mendekati tepat apa yang dijadikan materi interpretasi pe-er RKF yang diberikan Pak Setiawan.

[ Materi untuk 1-7 Des ] melihat dan dilihat [ See and Be Seen ] , paduan Street Photography + Self Portraits . Ada suatu masa tatkala anda kehabisan ide atau bosen pada saat “hunting” pada sesi-sesi photo “nyetrit” [ street photography ] . Ketika situasi “galau” itu cobalah anda memasukan “anda sendiri” [ self portraits ] kedalam frame kamera yang anda pegang. Jadikan anda aktor didalam adegan yang anda sutradarai sendiri, Ciptakan suatu gambar nyata, abstraksi termasuk bayangan , surealis , manipulasi digital bole juga, seram , humor , berwarna , Hitam Putih apapun . Keputusan di tangan anda…start upload jam 00:01 1 Des 2013

aku kesusahan. meski mudahnya menterjemahkan pemaparan tersebut sebagai “foto narsis” ya aku tetap merasa kesusahan. nyetrit? bosan? kehabisan ide? galau? argh!

biar tak makin uring-uringan, aku coba meminta bantuan via Prof Google sebagaimana biasa. baiklah. selamat. iya. aku diselamatkan oleh si Wiki ketika memastikan pengertian dari “Street Photography“. aku merasa terbebaskan ketika mendapati bagian: the origin of the term ‘Street’ refers to a time rather than a place..

tapi ternyata belum selesai. aku masih harus berurusan dengan poin “self-portrait” plus tambahan keterangan tema minggu ini: bosan dan galau. aduuuuh T_T

Kuuuuk, kenapa sih itu saja jadi persoalan? jadi masalah?

jelas masalah. jelas-jelas itu masalah. karena apa? karena kalau bosan biasanya aku justru lebih suka memperhatikan yang tidak diperhatikan. kalau sudah galau aku lebih sering diam celingukan. bagaimana memenuhinya?

lalu? kamu mau menyerah tidak usah mengerjakan pe-er saja begitu?

heh? tidaaaaak. tidak begitu juga. aku mau mencoba. setidaknya satu kali lalu sudah. entah akan memenuhi dengan tepat atau tidak, biar itu jadi urusan nanti saja. iya. aku mau mencoba!

nah. ya sudah. sekarang bagaimana kamu menginterpretasikan “Melihat dan Dilihat”, Kuk?

emmm, ini, disimak saja. sampai hari ini aku sudah memasukkan dua.

# # # # #

#1

 menurutku, salah satu media yang masih jujur dapat merefleksikan “warna”-ku itu adalah Mata dan Ekspresi Bocah. bukan Kaca, bukan Bidang-bidang yang dapat memantulkan penampakanku di suatu saat, bukan pula Bayangan. entah kenapa ~_~

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

#2

ini adalah tempat di mana Waktu seakan-akan terasa mati, terhenti di satu titik dan tak mau berlari maju lagi. jika “galau” menjadi salah satu kriteria dalam pe-er minggu ini, maka bisa jadi ketika berada di tempat inilah kekacauan pikir terjadi padaku tanpa diminta sama sekali. harusnya aku senang bisa sampai di sini, tapi adanya justru berbanding terbalik.

ini adalah tempat di mana aku dan semua Saksi yang berdiam saling memandang penuh selidik, saling terka apa yang ada di pikiran masing-masing. meski aku berusaha tak terlalu cepat bergerak kelambanan yang sudah mendarah daging pada setiap Lemari, Dinding, Jam, Lampu, Kalendar, Buku, Almari, bahkan Kaca Bulat memburam itu membuatku kikuk tak henti.

dan ini satu-satunya gambar yang sengaja aku ambil untuk tak lupa, aku pernah terundang masuk ke tempat ini. bukan sengaja lari, tapi memang ada yang dicari.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

*updated: 4 Desember 2013*

#3

namaku: Angin. sering-seringnya aku disuruh jalan-jalaaaan terus sama si Tuhan. iyaaa. tidak selalunya dalam urusan serius sih. kata Tuhan, “kalau kamu tidak terus mengalun, nanti bagaimana kamu melanjutkan hidup, Ang?”. begitu.

namaku: Angin. meski ada sekian banyak pesan berat yang harus aku bawa untuk sampaikan, tak jarang Tuhan memintaku terus bergerak untuk melakukan hal-hal yang dalam definisi Manusia kadang tak pernah dipertimbangkan. contohnya? nah ya ini. mau tahu apa yang Tuhan pinta sampai menyuruhkan sampai ke tempat ini?

“selamat pagi, Pegunungaaan. selamat pagi, Pepohonaaaaan. selamat pagi, Kehidupan-kehidupan Kecil di sekitaaaaar. selamat pagi, Langiiiit. terima kasih, Matahariiii.”

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s