Wajah Kematian

aku belum pernah bertemu dengan Kematian, apa kau sudah? emmm, kalau Dewa Kematian yang tampan itu sih aku sering melihatnya. ia acap kali mampir, menanyakan kabar, atau sekedar ngobrol sembari menungguiku yang sedang tak berdaya tepat di ujung kaki tak berjauhan dengan si Ndut yang paling setia menungguiku tanpa henti.

pernah aku bertanya pada si Dewa Tampan, macam apa sesungguhnya wajah itu Kematian. tapi ia tak menjawab, tak pernah mau menjawab, hanya tersenyum, lalu mengusap-usap kaki-kaki yang tertutupi selimut memenangkan diam. aku penasaran. tapi katanya aku tak boleh terlampau jauh penasaran. aku ingin lihat. namun si Tampan itu terus saja menggelengkan kepala sejak awal hingga sebarusan pagi tadi kami bersitatap.

aku belum pernah bertemu dengan Kematian, apa kau sempat teringin? sampai ketika terjumpa lihatanku dengan ramai Dedaunan Kering yang dibingkai oleh seorang Abang, aku terhenti.

“menua dan layu, kita pun sama” — itu tulisnya.

“mengering, hancur berderaian, itu pula akhirnya.” — aku melanjutkan begitu saja.

tak tersangkal aku memuncak dalam penuh diam, bisa jadi tersadar: bagaimana nanti akan bisa kuceritakan perihal wajah si Kematian pada kalian setelah aku berhasil menemuinya?

(foto oleh Dian Anugrah)
(foto oleh Dian Anugrah)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s